
GANGGUAN kecemasan (anxiety) pada remaja dan dewasa muda semakin meningkat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, lebih dari 1 miliar orang di seluruh dunia hidup dengan gangguan kesehatan mental.
Gangguan kecemasan dan depresi merupakan jenis gangguan paling umum ditemukan di semua negara, memengaruhi warga dari segala usia dan tingkat pendapatan, hingga bisa memicu tindakan mengakhiri hidup.
Indonesia, menurut Global Health Observatory 2021 memiliki angka 2,4 kasus bunuh diri per 100.000 penduduk.
Bahkan studi terbaru dari Sandersan Onie (University of New South Wales) yang diterbitkan di The Lancet Regional Health-Southeast Asia (2024) mengungkap fakta angka bunuh diri di Indonesia kemungkinan 860 persen lebih tinggi daripada data resmi.
Upaya preventif
Dengan menyandarkan pada fakta-fakta tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada mengembangkan inovasi yang berfokus pada upaya preventif dalam menghadapi krisis kesehatan mental generasi muda.
Mereka ini adalah Ikhlasul Amal (Fakultas Biologi), Qorina Nisrina Hafshah (Fakultas Teknologi Pertanian), Zikra Fataha Al Mutansir (Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan), Diva Nadiartalika, serta Athar Rosyad Partadireja (Fakultas Psikologi).
Mereka kemudian mengembangkan snack bar fungsional yang mengombinasikan konsep nutritional neuroscience dengan sensory grounding.
Bahan alami
Snack bar yang mereka namakan CalmBar itu dibuat dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti kacang hijau, biji labu (pumpkin seed), duckweed (Lemna minor), kacang tanah, peppermint, madu, kismis, dan Virgin Coconut Oil (VCO).
Bahan-bahan tersebut mereka pilih karena mengandung protein nabati, magnesium, zat besi, antioksidan serta senyawa bioaktif, antara lain GABA (Asam Gamma-Aminobutirat) triptofan, dan mentol yang berpotensi mendukung fungsi sistem saraf, menjaga stabilitas suasana hati, serta membantu regulasi emosi.
“Kami mengembangkan sebuah model inovatif yang menggabungkan pendekatan pangan fungsional dan sistem metakognitif digital untuk membantu generasi muda membangun kemampuan regulasi diri secara lebih komprehensif,” ujar Amal, Kamis.
Paparan Medsos
Gangguan kesehatan mental, imbuh Kamal, tidak hanya dipengaruhi oleh asupan nutrisi. Di era digital, banyak remaja mengalami tekanan psikologis akibat paparan media sosial.
Fenomena yang dikenal sebagai spotlight effect ini seringkali menjadi pemicu munculnya kecemasan sosial yang berkelanjutan.Untuk menjawab tantangan tersebut, tim mengembangkan SELF-SCAN (Self-Scan: A Youth-Driven Ecological Metacognitive System for Addressing the Global Youth Anxiety Crisis in the Digital Era), sebuah sistem berbasis aplikasi yang dirancang untuk membantu individu memahami pola pikir, emosi, serta pemicu kecemasan yang mereka alami secara real-time.
Melalui pendekatan Ecological Momentary Assessment (EMA), sistem ini mampu memantau dinamika psikologis pengguna dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan intervensi yang sesuai dengan kondisi yang sedang dialami.
Regulasi emosi
Amal menjelaskan kedua inovasi tersebut sebenarnya dirancang sebagai satu kesatuan pendekatan yang saling melengkapi.
CalmBar berperan dalam mendukung regulasi emosi melalui nutrisi dan pengalaman sensoris yang menenangkan, sementara SELF-SCAN membantu pengguna membangun kesadaran metakognitif agar mampu mengenali, mengevaluasi, dan mengelola pola pikir yang memicu kecemasan.
“Kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya membantu seseorang merasa lebih baik secara sesaat, tetapi juga membantu mereka memahami dirinya sendiri. Kesehatan mental bukan hanya tentang mengatasi gejala, tetapi juga membangun kemampuan untuk mengenali dan mengelola proses berpikir serta respons emosional secara mandiri,” ungkapnya. (AGT/M-01)








