
PAKAR Geografi UGM, Dr. Indranova Suhendro, S.T., M.Sc., mengingatkan ancaman Gunung Semeru tidak hanya berasal dari erupsi. Bahaya banjir lahar justru menjadi salah satu ancaman paling signifikan karena banyaknya material vulkanik lepas yang tersedia di lereng gunung.
“Material hasil erupsi harian yang berupa pasir, kerikil, dan batu dapat dengan mudah terbawa air hujan menuju sungai,” katanya, Senin (29/6).
Lahar dari hasil erupsi, jelasnya tergolong berbahaya karena dapat datang secara tiba-tiba. Hujan yang terjadi di puncak gunung dapat memicu lahar yang kemudian mengalir melalui sungai-sungai berhulu di Semeru.
“Bisa saja di bawah tidak hujan, tetapi di puncak hujan deras dan tiba-tiba lahar datang. Yang berbahaya itu karena laharnya membawa bongkahan material besar,” ujarnya.
Lintasan awan panas
Ia menekankan wilayah aliran Sungai Besuksemut merupakan jalur utama yang harus diwaspadai. Hal ini karena menjadi lintasan awan panas maupun lahar.
Menanggapi masih adanya aktivitas penambangan pasir yang masih berlangsung di kawasan Semeru, Nova mengakui bahwa persoalan tersebut cukup kompleks. Di satu sisi, berkaitan dengan sumber mata pencaharian, tetapi bersamaan dalam menyimpan risiko keselamatan yang tinggi.
“Kalau dari kacamata sains dan keselamatan, sebenarnya aktivitas itu tidak boleh dilakukan sama sekali. Namun, di sisi lain itu juga mata pencaharian mereka. Jadi, ini persoalan yang sangat sulit sehingga kebijakan terkait ini sangat tricky,” tuturnya.
Meningkatkan standar keselamatan kerja
Larangan total terhadap aktivitas penambangan, jelasnya tidak mudah diterapkan. Karena itu, disebutkan Nova langkah yang paling realistis adalah meningkatkan standar keselamatan kerja. Terlebih memastikan perusahaan yang mempekerjakan penambang memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan pekerjanya.
Pasalnya manusia pada dasarnya hidup berdampingan dengan gunung api. Terlebih, gunung telah ada jauh sebelum manusia hadir. Oleh karena itu, masyarakat perlu memahami karakteristik gunung api dan mematuhi berbagai imbauan.
“Jadi, ketika manusia memang sudah memilih jalan hidup untuk berdampingan dengan mereka, sudah seharusnya manusia memahami dan siap akan konsekuensinya. Ketika gunung sedang aktif, patuhilah himbauan dari pemangku kebijakan dan para ahli agar tetap aman,” pesannya.
Setiap gunung punya karakteristik
Ia menjelaskan setiap gunung api memiliki karakteristik yang berbeda sehingga potensi bahaya yang ditimbulkan tidak sama. Menurutnya, setiap gunung seperti manusia yang punya karakteristik masing-masing.
Hasil penelitian yang pernah dilakukannya bersama tim, membuktikan bahwa fraksi kristal yang terkandung di dalam magma Gunung Semeru mencapai 50 persen. Artinya, magma Gunung Semeru cukup kental karena tidak hanya tersusun oleh cairan tetapi juga padatan atau kristal dengan rasio sekitar 50:50.
“Dengan kondisi ini, maka magma yang keluar akan dierupsikan sebagai kubah lava yang berwujud seperti bisul,” ujarnya.
Bertipe vulkanian
Menurut Nova, fenomena aliran piroklastik dengan skala cukup besar pernah terjadi pada 4 Desember 2021. Saat itu, aliran piroklastik meluncur hingga sekitar 15–16 kilometer dari puncak gunung. Selain faktor aktivitas magma, ia menyebutkan hujan juga menjadi faktor yang memperbesar potensi longsoran kubah lava.
Ia menerangkan curah hujan dapat membuat material di sekitar kawah menjadi licin sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya longsoran kubah lava.
Selain menghasilkan aliran piroklastik guguran, Semeru juga dikenal dengan erupsi bertipe Vulkanian. Erupsi ini terjadi akibat akumulasi gas yang terperangkap oleh kubah lava yang akhirnya meledak dan melontarkan material ke udara.
“Erupsi Vulkanian sangat intens terjadi di Semeru dengan interval kejadian dalam hitungan jam hingga menit. Namun, dampak umumnya bersifat lokal dan terbatas di sekitar kawah,” terangnya. (AGT/N-01)






