Akulturasa ITB Hadirkan Kolaborasi Sains, Seni, dan Budaya

INSTITUT Teknologi Bandung (ITB)  membuka rangkaian Akulturasa 2026. Festival yang berlangsung 20–21 Juni itu menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan sains, teknologi, seni, budaya, industri, alumni dan masyarakat dalam satu perhelatan yang merayakan inovasi pangan berkelanjutan.

Pembukaan Akulturasa dilakukan oleh Rektor ITB, Prof. Tatacipta Dirgantara dan juga hadir Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Brian Yuliarto. Kegiatan itu merupakan bagian dari rangkaian berbagai acara, seperti Gebyar Dies Natalis ke-67 ITB dan Alumni Pulang Kampus pada Sabtu (20/6).

Dengan mengusung tema yang memadukan culture dan taste, Akulturasa menghadirkan pengalaman yang menghubungkan hasil riset dengan kehidupan sehari-hari masyarakat melalui pendekatan kuliner, seni, dan budaya.

Beragam kegiatan digelar di berbagai titik ITB Kampus Ganesha, mulai dari Aula Timur, Taman Patung, Galeri Soemardja, Lapangan Rumput Belakang Aula Barat, Lapangan Seni Rupa hingga Lapangan Cinta.

Menjadi Ruang Kolaborasi dan Hilirisasi Riset

Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian dan Administrasi ITB, Dr. A. Rikrik Kusmara menyatakan, Akulturasa lahir dari misi ITB sebagai kampus yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

ITB memiliki berbagai bidang ilmu yang selama ini aktif melakukan penelitian dan inovasi di bidang pangan, mulai dari SITH, Fakultas Teknologi Industri, Sekolah Farmasi, hingga FSRD.

“Melalui Akulturasa, kami ingin menunjukkan bagaimana riset dan inovasi tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta menjadi inspirasi bagi pengembangan UMKM dan ketahanan pangan Indonesia,” terangnya.

Menurut Rikrik, Akulturasa menjadi wadah yang mempertemukan perguruan tinggi, industri, alumni, pemerintah, komunitas kreatif dan masyarakat.

Peluang baru sektor pangan

Di balik setiap produk dan sajian yang ditampilkan terdapat proses riset, inovasi serta kreativitas yang diharapkan mampu membuka peluang baru di sektor pangan.

BACA JUGA  Pemprov Jateng Komitmen Realisasikan Luas Tambah Tanam Padi

“Selama dua hari penyelenggaraan, pengunjung dapat menikmati berbagai agenda yang memadukan edukasi, hiburan dan pengalaman kuliner, seperti Jamuan Nusantara, pameran riset, jenama terkurasi. Lokakarya, demo memasak, adu masak, pertunjukan seni hingga berbagai aktivitas luar ruang,” jelasnya.

Rikrik menyebut salah satu sorotan utama Akulturasa adalah pemanfaatan hasil riset fermentasi sebagai bahan dasar berbagai sajian kuliner.

Hasil inovasi tersebut tidak berhenti pada tahap laboratorium, tetapi terus didorong menuju hilirisasi agar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Ini diwujudkan melalui kegiatan fine dining “Jamuan Nusantara” yang digelar pada Jumat (19/6).

Beriringan dengan budaya

Berbagai bahan pangan hasil inovasi fermentasi diolah bersama chef dan pelaku industri kuliner menjadi sajian gastronomi Sunda yang memadukan sains, teknologi, seni, dan budaya.

“Dalam kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa inovasi terbaru dapat berjalan berdampingan dengan budaya. Inilah esensi Akulturasa, bagaimana sains, teknologi, dan kebudayaan saling menguatkan,” paparnya.

Rikrik menambahkan, pendekatan tersebut mendapatkan apresiasi dari berbagai mitra ITB, karena dinilai mampu membuka peluang kolaborasi baru antara dunia akademik, industri, pemerintah dan komunitas kreatif.

Fermenstation Jadi Cikal Bakal Akulturasa

Salah satu agenda yang menjadi daya tarik Akulturasa adalah Fermenstation, yang menampilkan berbagai inovasi pangan fermentasi karya mahasiswa dan peneliti ITB.

Dosen Kelompok Keahlian Bioteknologi Mikroba Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB, Prof. Pingkan Aditiawati menjelaskan, Fermenstation merupakan program yang telah diselenggarakan sejak 2005 sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek (capstone) Program Studi Mikrobiologi SITH ITB.

BACA JUGA  Polda Jateng dan Kodam IV Diponegoro Dukung Pangan Mandiri

Dari agenda inilah kemudian lahir dan berkembang Akulturasa sebagai festival yang menghadirkan kolaborasi lintas disiplin di ITB.

“Fermenstation merupakan capstone dari kurikulum Mikrobiologi. Mahasiswa menerapkan seluruh pengetahuan yang telah dipelajari dengan mengembangkan produk pangan fermentasi yang inovatif, mulai dari proses produksi, standardisasi, analisis keamanan pangan, hingga strategi penyajian dan pemasarannya,” tuturnya.

Pameran karya mahasiswa

Pingkan menjabarkan, bahwa Fermenstation awalnya merupakan pameran karya mahasiswa yang menampilkan berbagai produk fermentasi hasil riset.

Seiring perkembangannya, kegiatan tersebut menjadi ruang yang mempertemukan sivitas akademika, industri dan masyarakat. Pengalaman tersebut kemudian dikembangkan menjadi Akulturasa, sebuah festival yang menggabungkan sains, teknologi, seni, budaya, dan inovasi pangan dalam satu ekosistem kolaboratif.

“Dalam Akulturasa 2026, berbagai produk fermentasi berbasis bahan lokal diperkenalkan kepada masyarakat, seperti kombucha honje, soda arbei fermentasi, tape ubi ungu, fermentasi kacang azuki, fermentasi rebon, fermentasi ikan, gari jahe, hingga sriracha fermentasi.

Produk-produk tersebut merupakan hasil eksplorasi mahasiswa terhadap potensi hayati Indonesia melalui pendekatan bioteknologi,” imbuhnya.

Jamuan Nusantara

Selain dipamerkan kata Pingkan, berbagai inovasi tersebut juga diolah menjadi sajian Jamuan Nusantara melalui kolaborasi dengan Sarasa. Pengalaman fine dining tersebut memadukan inovasi pangan hasil riset ITB dengan gastronomi modern yang mengangkat kekayaan rempah dan kuliner Sunda, berpadu dengan seni pertunjukan dan budaya lokal.

Dan  Akulturasa juga menjadi sarana edukasi untuk memperkenalkan pentingnya diversifikasi pangan dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

“Indonesia memiliki sangat banyak pangan fermentasi tradisional yang potensinya luar biasa. Berbagai umbi-umbian, kacang-kacangan, buah, hingga hasil laut dapat diolah menjadi pangan yang bergizi, tahan simpan, dan bernilai tambah. Kekayaan ini perlu terus dikembangkan agar masyarakat tidak hanya bergantung pada satu sumber pangan,” tandasnya.

BACA JUGA  Senat ITB Pilih 6 Bakal Calon Rektor ITB Periode 2025-2030

Pingkan berharap, Akulturasa dapat semakin mendekatkan hasil-hasil riset ITB kepada masyarakat, sekaligus memperkuat kesadaran bahwa inovasi pangan lokal berbasis sains merupakan salah satu solusi menuju ketahanan pangan Indonesia yang berkelanjutan.

Menjadi Ruang Kebersamaan Keluarga Besar ITB

Sementara itu Direktur Komunikasi dan Hubungan Masyarakat ITB, Dr. N. Nurlaela Arief menambahkan, Akulturasa juga terintegrasi dengan berbagai agenda besar Gebyar Dies Natalis ke-67 ITB dan Alumi Pulang Kampus. Salah satu rangkaian yang turut menyemarakkan festival ini adalah melibatkan lebih dari 1.000 dosen, tenaga kependidikan, karyawan dan keluarga besar ITB.

Sivitas akademika ITB menampilkan beragam pertunjukan yang memperlihatkan sisi kreatif dan kebersamaan kampus.

“Para dosen, tenaga kependidikan, hingga profesor yang sehari-hari dikenal melalui aktivitas akademik dan penelitian turut berpartisipasi dalam berbagai penampilan.”

“Intinya hari ini adalah kebersamaan. Kami ingin menghadirkan ruang yang mempertemukan seluruh keluarga besar ITB dalam suasana yang hangat dan penuh kegembiraan,” ucapnya.

Bangun masa depan pangan

Nurlaela berharap hasil-hasil riset yang berkembang di lingkungan kampus dapat semakin dekat dengan masyarakat.

Jadi ini lebih dari sekadar festival kuliner, Akulturasa menjadi ruang perjumpaan antara ilmu pengetahuan, seni, budaya, industri dan komunitas untuk bersama-sama membangun masa depan pangan Indonesia yang lebih berkelanjutan, inovatifndan berdaya saing. (zahra/M-01)

Related Posts

JNE Berangkatkan 1.200 Karyawan dan Keluarga Umrah

SEBAGAI bentuk apresiasi kepada karyawan JNE memberangkatkan lebih dari 1.200 Ksatria dan Srikandi mereka beserta keluarga menunaikan ibadah umrah. Program tersebut diberikan kepada karyawan yang telah mengabdi selama lebih dari…

Sleman Sabet Dua Penghargaan Lomba Desa/Kampung Wisata 2026

KABUPATEN  Sleman berhasil meraih dua penghargaan, yakni peringkat 3 Lomba Desa/Kampung Wisata Tingkat DIY Tahun 2026. Gelar itu diraih oleh Desa Wisata Garongan, Kalurahan Donokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman (Skor:…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

BKSPTIS dan Aptik Dorong Ekosistem Pendidikan Tinggi Berkeadilan

  • September 22, 2026
BKSPTIS  dan Aptik Dorong Ekosistem Pendidikan Tinggi Berkeadilan

Baru Bebas 5 Bulan, Residivis Pengedar Sabu Kembali Ditangkap

  • September 22, 2026
Baru Bebas 5 Bulan, Residivis Pengedar Sabu Kembali Ditangkap

JNE Berangkatkan 1.200 Karyawan dan Keluarga Umrah

  • September 22, 2026
JNE Berangkatkan 1.200 Karyawan dan Keluarga Umrah

Sleman Sabet Dua Penghargaan Lomba Desa/Kampung Wisata 2026

  • September 22, 2026
Sleman Sabet Dua Penghargaan Lomba Desa/Kampung Wisata 2026

Perkuat Kesiapsiagaan Personel, Polda DIY Bangun Rumah Dinas Brimob

  • September 22, 2026
Perkuat Kesiapsiagaan Personel, Polda DIY Bangun  Rumah Dinas Brimob

Koling dan Darling Merapi Siap Manjakan Lidah Wisatawan dengan Kopi Lokal

  • September 22, 2026
Koling dan Darling Merapi Siap Manjakan Lidah Wisatawan dengan Kopi Lokal