
SALAH satu evolusi pada binatang yang paling mengesankan dalam sejarah adalah terbang. Namun jauh sebelum bisa terbang sebenarnya, sejumlah hewan purba sudah berevolusi dengan memiliki sayap.
Hanya sayap itu bukan untuk terbang, melainkan untuk yang lain. Hal itulah yang dikatakan ahli zoologi Piotr Jablonski. Menurutnya sayap purba awalnya dimaksudkan untuk dilihat, bukan untuk terbang.
Hal itu setelah ia mempelajari perilaku burung di Amerika Barat. Ia memperhatikan beberapa burung akan mengepakkan sayap atau mengembangkan bulu ekornya untuk memancing serangga ke tempat terbuka.
“Kemudian burung-burung itu akan menangkap dan memakan serangga tersebut. Jika dinosaurus bersayap purba adalah nenek moyang burung, mungkin dinosaurus melakukan hal yang sama,” ujarnya.
Simulasi komputer

Sebelum mengajukan teorinya itu Jablonski dan rekan-rekannya menguji dinosaurus robot dan simulasi komputer kepada serangga sungguhan dan merekam aktivitas otak mereka. Tujjuannya adalah mengamati bagaimana perilaku hewan yang telah lama punah.
Jablonski, yang sekarang berada di Museum dan Institut Zoologi Akademi Ilmu Pengetahuan Polandia, Warsawa, berfokus pada dinosaurus kecil berbulu yakni pennaraptoran.
Bersama rekan-rekannya seperti Jinseok Park seorang ahli ornitologi yang sekarang berada di Max Planck Institute for Biological Intelligence di Planegg, Jerman dan Minyoung Son, seorang paleontolog vertebrata di Universitas Minnesota di Minneapolis, mereka memodelkannya berdasarkan Caudipteryx yang berukuran sebesar kalkun, yang merupakan salah satu pennaraptoran bersayap.
Setelah itu robot yang mereka beri nama Robopteryx itu dipertemukan dengan belalang. Hasilnya, robot itu seperti membuka sayapnya ke samping atau mencondongkan tubuh ke arah serangga dan melontarkan ekornya ke depan.
Untuk pemikat lawan jenis

Meskipun masih belum cukup untuk menyimpulkan bahwa sayap protowing mereka memang digunakan untuk tampilan yang menarik perhatian, “apa yang ditunjukkan ini, dengan cukup elegan dan meyakinkan, adalah bahwa itu mungkin,” kata paleontolog Corwin Sullivan dari Universitas Alberta di Edmonton, Kanada.
“Anggap saja bulu-bulu pennaraptoran awal digunakan untuk pertunjukan kawin ini,” kata Sullivan.
“Itu tidak berarti bulu-bulu tersebut tidak bisa digunakan untuk hal lain,” timpal Jablonski.
Keduanya sepakat bahwa dinosaurus tersebut juga bisa saja mengepakkan sayapnya untuk menarik pasangan.
Tidak cukup menciptakan gaya aerodinamis
Hal yang juga diamini Minyoung Son. Menurutnya sayap purba hewan-hewan tersebut kemungkinan besar tidak mampu mendukung penerbangan.
“Luas permukaan sayap terlalu kecil untuk menciptakan gaya aerodinamis yang dibutuhkan untuk mengangkat pennaraptoran dari tanah, dan jangkauan persendian sayap mereka juga akan membatasi pergerakan mereka,” ujarnya.
“Selain itu, bulu perlu memiliki bentuk asimetris agar aerodinamis, dan berdasarkan catatan fosil, dinosaurus ini belum memiliki bulu aerodinamis, ” tukasnya. (Berbagai sumber/sciencenews/M-01)







