Walhi Jabar Nilai Pemkab Bandung Gagal Atasi Bencana Banjir 

BENCANA banjir dan longsor yang terus melanda Kabupaten Bandung, Jawa Barat mengundang keprihatinan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jabar.

Walhi menilai jika saat ini wilayah Kabupaten Bandung sedang berada di fase krisis ekologis dan ini menandakan bahwa kabupaten yang dipimpin Dadang Supriatna itu gagal mengatasi bencana.

“Walhi prihatin pada masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Bandung. Saya juga menegaskan bahwa banjir yang merendam wilayah Sapan, Rancatunjung, hingga Sapan Cikeruh pada 12 April lalu merupakan bukti kegagalan tata kelola ruang di Kabupaten Bandung,” tegasnya, Senin (13/4).

Wahyudin menyebut, jika bencana yang melanda Kabupaten Bandung bukan sekadar faktor alam, melainkan dampak langsung dari rusaknya ekosistem Sungai Citarik dan buruknya sistem drainase.

Cuaca buruk

Diberitakan, angin kencang disertai hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Bandung pada Selasa (7/4) hingga Minggu (12/4) malam, memicu rangkaian bencana banjir dan tanah longsor.

Bencana yang menerjang itu menyapu sejumlah kecamatan secara bersamaan. Berdasarkan data yang dihimpun dari laporan BPBD Kabupaten Bandung, bencana banjir terjadi di Desa Majakerta, Kecamatan Majalaya, serta di Jalan Tanggulun Ibun, Desa Tanggulun, Kecamatan Ibun.

BACA JUGA  Brimob Polda Jateng Evakuasi Warga Sakit Terjebak Banjir

Sementara itu, peristiwa longsor terjadi di Jalan Raya Pacet-Cibereum, Desa Sukapura, Kecamatan Kertasari; di Desa Tribaktimulya, Kecamatan Pangalengan, serta di beberapa titik di Kecamatan Pacet, mencakup Desa Pangauban, Desa Cikitu, Desa Girimulya, dan Desa Mandalahaji.

Kejadian longsor tambahan juga tercatat di Kampung Balekambang RT 003 RW 016, Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya.

Akses jalan terputus

Di Desa Majakerta, Kecamatan Majalaya, warga terdampak mencapai 406 kepala keluarga atau sekitar 1.413 jiwa dari RW 01 dan RW 02 Kampung Rancabali.

Banjir juga menggenangi Jalan Tanggulun Ibun, Kecamatan Ibun, dengan dampak yang dirasakan warga RW 04 sebanyak 250 kepala keluarga, RW 05 sebanyak 200 kepala keluarga, dan RW 07 sebanyak 150 kepala keluarga.

Di Kecamatan Pacet, longsor mengakibatkan dua unit rumah terdampak dan tiga rumah terputus akses jalannya di Desa Pangauban.

Di Desa Cikitu, tiga unit rumah terdampak dan empat rumah terancam, serta dua kepala keluarga terpaksa mengungsi. Lalu di Desa Mandalahaji, satu rumah roboh dan dua kepala keluarga dengan sembilan jiwa harus meninggalkan tempat tinggal mereka.

BACA JUGA  Warga Jabar Diimbau Waspadai Cuaca Ekstrem di Akhir Januari

Evaluasi perijinan tata ruang

Di Kecamatan Majalaya, bantaran sungai di Desa Sukamaju tergerus sepanjang 20 meter dengan kedalaman 8 meter akibat derasnya arus sungai.

“Saya menilai Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung tidak kompeten dalam memitigasi dampak alih fungsi lahan di kawasan hulu dan pemeliharaan infrastruktur sungai,” tandasnya.

Jadi lanjut Wahyudin, kondisi yang ada hari ini menunjukkan bahwa Bupati Bandung, Dadang gagal total dalam mengelola ruang dan sungai. Dan jika kerusakan Sungai Citarik terus dibiarkan tanpa evaluasi serius terhadap perizinan tata ruang, masyarakat akan terus menjadi korban.

Asesmen rumah terdampak

Sementara itu Bupati Dadang turun langsung ke lapangan menyasar lokasi banjir dan permukiman masyarakat yang terdampak angin puting beliung atau angin kencang di Kecamatan Banjaran, Arjasari, Pameungpeuk, Ciparay, Solokanjeruk dan Sapan Bojongsoang pada Senin (13/4).

“Ada 13 kecamatan yang terdampak banjir dan puting beliung, yakni Kecamatan Solokanjeruk, Baleendah, Dayeuhkolot, Bojongsoang, Rancaekek, Katapang Margahayu. Lalu Kecamatan Rancaekek, Arjasari, dan juga Katapang, Dayeuhkolot, Baleendah Kertasari dan Pacet,” bebernya.

BACA JUGA  Gempa Guncang Bandung, 233 Rumah di Garut Rusak

Kini pemkab lanjut Dadang, Saat ini, sedang melakukan asesmen berapa jumlah rumah yang terdampak angin puting beliung. Termasuk rumah yang mengalami kerusakan akibat tanggul aliran sungai yang jebol.

Pemkab Bandung tidak tinggal diam dalam penanganan rumah yang terdampak angin puting beliung.

“Kami kemarin dapat data itu di 63 rumah, langsung kita perbaiki. Rumah yang mengalami kerusakan dan tidak layak huni akibat angin puting beliung itu, maka masuk ke program rutilahu atau perbaikan rumah tidak layak huni.”

“Lalu rumah yang mengalami kerusakan menengah ke atas diberikan bantuan kebencanaan dengan anggaran yang siapkan sebesar Rp3 miliar untuk penanganan kebencanaan,” tutupnya. (zahra/M-01)

Related Posts

Polda Jateng Bongkar Jaringan Judi Togel Lintas Wilayah

Polda Jawa Tengah mengungkap jaringan perjudian jenis togel yang beroperasi di Kabupaten Demak, Kabupaten Grobogan, dan Kota Semarang. Pengungkapan ini menyasar sejumlah peran dalam praktik perjudian, mulai dari pengepul kupon,…

Polda Jateng Ungkap Peredaran Miras Ilegal di Karimunjawa

POLDA Jawa Tengah berhasil mengungkap pelanggaran pelayaran dan peredaran minuman keras tanpa izin di wilayah Karimunjawa, Kabupaten Jepara. Dalam pengungkapan tersebut, petugas mengamankan 2.604 botol minuman keras berbagai merek, kapal…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Mahasiswa UNY Kembangkan E-Modul IPA Responsif Gender

  • October 20, 2026
Mahasiswa UNY Kembangkan E-Modul IPA Responsif Gender

Pulihkan Mental Pemain U-18, Persib Terus Lakukan Pendampingan

  • October 20, 2026
Pulihkan Mental Pemain U-18, Persib Terus Lakukan Pendampingan

Polda Jateng Bongkar Jaringan Judi Togel Lintas Wilayah

  • October 20, 2026
Polda Jateng Bongkar Jaringan Judi Togel Lintas Wilayah

Polda Jateng Ungkap Peredaran Miras Ilegal di Karimunjawa

  • October 20, 2026
Polda Jateng Ungkap Peredaran Miras Ilegal di Karimunjawa

Aksi Demo Mahasiswa di Bandung Tuntut Prabowo-Gibran Mundur

  • October 20, 2026
Aksi Demo Mahasiswa di Bandung Tuntut  Prabowo-Gibran Mundur

Kalog Target Angkut CPO 200 Ribu Ton per Tahun

  • October 20, 2026
Kalog Target  Angkut CPO 200 Ribu Ton per Tahun