
DINAS Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung memastikan penanganan sampah pada H+2 mulai berangsur normal. Hal ini ditandai dengan kembali dibukanya pengiriman sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, setelah sempat terhenti pada Hari H dan H+1 Lebaran.
Kepala Bidang Pengelolaan Persampahan dan Limbah B3 DLH Kota Bandung, Salman Faruq Selasa (24)3) menyatakan, pada H+2 proses pengangkutan sampah sudah kembali berjalan, sehingga penanganan di tingkat TPS dan ruas jalan mulai dapat dilakukan secara optimal.
“H+2 kemarin sebetulnya kita sudah mulai bisa mengirimkan lagi sampah ke Sarimukti. Alhamdulillah, jadi penanganan di TPS-TPS dan di rute jalan sudah mulai bisa dilakukan kembali,” tuturnya.
Menurut Salman, pada Hari H Lebaran dan H+1, TPA Sarimukti tidak menerima kiriman sampah karena libur operasional. Hal ini berdampak pada tertahannya pengangkutan di sejumlah titik.
Pemantauan aktif
“Pada saat Hari H itu TPA tutup, kemudian H+1 karena hari Minggu memang tidak menerima kiriman sampah. Baru pada H+2 kita sudah bisa kirim kembali ke Sarimukti,” imbuhnya.
Pada H+2 DLH kata Salman, mengerahkan 1.025 personel yang terdiri dari 619 petugas penyapu dan 406 petugas angkutan. Mereka didukung 134 unit armada, meliputi 66 truk, 7 pikap, 57 motor sampah, 2 “road sweeper”, serta 2 alat berat.
Penanganan difokuskan di 71 titik pantau di seluruh Kota Bandung, terutama di kawasan dengan aktivitas tinggi seperti pusat kota, destinasi wisata, pasar, dan ruas jalan utama. Selain itu, DLH juga melakukan pemantauan aktif di 66 titik strategis.
“Kami juga melakukan pemantauan aktif di 66 titik strategis yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk kawasan pusat kota seperti Alun-alun, Braga, Gasibu dan Asia Afrika yang mengalami lonjakan aktivitas wisatawan. Secara visual memang ada peningkatan karena kunjungan wisatawan ke pusat kota cukup tinggi. Kita lihat di Asia Afrika dan Braga sampai malam masih ramai,” paparnya.
Keterbatasan kuota
Meski demikian, Salman mengakui penanganan sampah pada H+2 belum sepenuhnya tuntas. Hal ini disebabkan keterbatasan kuota pengiriman ke TPA Sarimukti, sehingga tidak semua TPS dapat langsung dibersihkan secara menyeluruh.
“Memang belum seluruh TPS itu ‘clear’. Tapi yang penting tidak meluber ke jalan, tidak mengganggu lalu lintas. Jadi kita kendalikan supaya tetap aman,” tandasnya.
Salman menyebut, untuk mempercepat penanganan, DLH mengerahkan tim taktis berjumlah 25 personel dengan dukungan armada seperti truk, pikap, motor sampah, “road sweeper”, dan alat berat. Tim ini difokuskan pada titik-titik dengan potensi penumpukan tinggi.
Belum optimal
Selain petugas DLH, penanganan sampah juga diperkuat oleh personel Gaslah dan Gober. Pada H+2 petugas Gaslah sudah mulai kembali beroperasi di sejumlah wilayah, meskipun belum sepenuhnya optimal.
Beberapa kecamatan sudah mulai berjalan sesuai target pengumpulan sampah organik oleh Gaslah. Ia berharap, dengan kembali normalnya sistem pengangkutan hingga tingkat RW, potensi penumpukan sampah dapat segera teratasi.
Di sisi lain, fasilitas pengolahan sampah juga mulai kembali beroperasi. TPST Babakan Siliwangi dan fasilitas pengolahan di Gedebage telah menerima input sampah, hampir 8 ton. Ini cukup positif karena pengolahan juga sudah berjalan kembali.
Pengolahan di TPS 3R dan TPS skala lingkungan yang dikelola kewilayahan maupun kelompok swadaya masyarakat (KSM) juga mulai kembali optimal, membantu mengurangi beban pengangkutan ke TPA. (zahra/A-01)







