
RISET yang dihasilkan para ilmuwan di Universitas Diponegoro (Undip) diharapkan tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga mampu memberi solusi bagi persoalan.
Hal tersebut disampaikan oleh Pembantu Rektor IV Bidang Kerjasama Undip Wijayanto. Ia menegaskan bahwa arah pengembangan riset di Undip harus berorientasi pada kebermanfaatan.
Menurutnya, inovasi yang dihasilkan para dosen dan peneliti perlu menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung.
“Temuan ilmuwan Undip harus bisa menjawab persoalan nyata di masyarakat,” tegasnya.
Dalam peringatan dies natalis sebelumnya, Undip bahkan memamerkan sedikitnya 35 inovasi teknologi hasil karya dosen dan peneliti yang dinilai siap dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
Mesin Ubah Air Laut Jadi Air Minum
Salah satu inovasi yang paling menarik perhatian publik adalah mesin desalinasi yang mampu mengubah air payau dan air laut menjadi air minum yang layak konsumsi.
Teknologi ini dinilai sangat relevan bagi masyarakat pesisir, terutama di wilayah Pantura yang kerap mengalami intrusi air laut dan kesulitan mendapatkan air bersih.
Mesin tersebut telah digunakan di sejumlah daerah di Jawa Tengah, di antaranya di Demak, Jepara, dan Pekalongan. Bahkan, teknologi tersebut mulai dilirik oleh berbagai daerah lain di Indonesia yang menghadapi masalah serupa.
Jawab kebutuhan masyarakat
Wijayanto menekankan bahwa nilai sebuah inovasi tidak semata-mata diukur dari kecanggihan teknologinya, melainkan dari sejauh mana teknologi tersebut mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
“Temuan itu bukan dilihat dari seberapa canggih teknologinya, tetapi seberapa relevan untuk menjawab masalah masyarakat,” katanya.
Teknologi Ozon untuk Hasil Pertanian
Selain inovasi di bidang air bersih, Undip juga mengembangkan teknologi ozon yang berfungsi memperpanjang masa simpan hasil pertanian.
Teknologi ini memungkinkan komoditas seperti cabai, bawang merah, dan bawang putih bertahan lebih lama tanpa cepat membusuk. Dengan penerapan teknologi tersebut, hasil panen dapat disimpan hingga satu bulan lebih lama dibandingkan penyimpanan biasa.
Manfaatnya sangat besar bagi petani, karena mereka dapat mengatur waktu penjualan hasil panen dengan lebih fleksibel. Hal ini juga membantu menekan kerugian yang kerap terjadi akibat harga yang tiba-tiba jatuh atau distribusi yang terhambat.
Dorong Hilirisasi Riset
Undip juga mengembangkan berbagai inovasi lain, seperti tangan bionik serta sejumlah teknologi di bidang kesehatan dan lingkungan.
Saat ini, kampus tersebut mendorong proses hilirisasi riset, yaitu upaya agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat diproduksi dan dimanfaatkan masyarakat.
Menurut Wijayanto, sejumlah pemerintah daerah di Indonesia telah mengajukan kerja sama dengan Undip untuk mengembangkan dan memanfaatkan teknologi hasil riset kampus tersebut.
“Banyak daerah di Indonesia sudah meminta kerja sama dengan Undip karena inovasi kami terbukti bermanfaat. Ini menunjukkan kampus bisa menjadi bagian dari solusi bagi masyarakat,” pungkasnya.(Htm/A-02)








