
SAAT memasuki satu tahun masa kepemimpinan Ahmad Luthfi dan Taj Yasin Maimoen, capaian indikator makro pembangunan Jawa Tengah menunjukkan tren positif. Mayoritas target pembangunan berhasil terpenuhi, bahkan beberapa melampaui sasaran nasional.
Hal itu terungkap dalam forum diskusi Forum Wartawan Pemprov-DPRD Jateng (FWPJT) di Kompleks Kantor Gubernur, Senin (23/2).
Stabilitas birokrasi dan ekonomi
Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jawa Tengah, Zulkifli, mengatakan stabilitas birokrasi dan ekonomi menjadi kunci capaian selama satu tahun terakhir.
Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tercatat mencapai 5,37 persen, melampaui target 4,8 persen. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berhasil ditekan menjadi 4,66 persen, masih berada dalam rentang sasaran.
Di sektor kesejahteraan, tingkat kemiskinan tercatat 9,39 persen, stabil dan masuk dalam kisaran target pembangunan (9,00–9,66 persen).
Sementara itu, Otonomi Fiskal Daerah mencapai 63,01 persen, mencerminkan kemandirian fiskal yang semakin kuat.
Reformasi menguat
Indeks Reformasi Birokrasi Jawa Tengah berada di angka 94,06, jauh melampaui target awal 91,5. Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) tercatat 85,84 (2024), sedangkan Indeks Modal Manusia berada di angka 0,59 (2024) karena data terbaru belum dirilis.
Menurut Zulkifli, dalam satu tahun kepemimpinan Luthfi–Yasin telah terjadi transformasi pada tiga sektor utama, yakni ekonomi, sosial, dan tata kelola pemerintahan.
“Transformasi sosial terlihat dari menurunnya tingkat pengangguran dan kemiskinan. Tata kelola pemerintahan juga menguat dengan tingginya indeks integritas nasional, otonomi fiskal daerah, indeks demokrasi, dan indeks reformasi birokrasi,” ujarnya.
Pemerataan dan PAD
Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Tengah, Mohammad Saleh, menilai capaian tersebut secara umum memuaskan jika merujuk pada indikator RPJMD. Namun, ia mengingatkan pentingnya pemerataan pembangunan.
“Mayoritas target terpenuhi. Tantangan berikutnya memastikan pemerataan capaian pembangunan,” katanya.
Ia juga menekankan perlunya kreativitas birokrasi dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), tidak hanya bertumpu pada pajak, tetapi juga melalui optimalisasi aset daerah dan BUMD.
Dengan realisasi investasi mencapai Rp88 triliun, Saleh berharap dampaknya tidak hanya pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat lokal.
Fondasi Awal Kepemimpinan
Pengamat politik dari Universitas Diponegoro, Nur Hidayat Sardini, menilai filosofi Jawa “rame ing gawe, sepi ing pamrih” tercermin dalam gaya kepemimpinan Luthfi–Yasin pada tahun pertama.
Menurutnya, publikasi kinerja tetap diperlukan dalam kerangka akuntabilitas demokrasi.
“Satu tahun memang relatif singkat. Namun capaian awal ini penting sebagai fondasi untuk empat tahun ke depan,” ujarnya. (Htm/N-01)








