
WACANA Society 5.0 menuntut dunia pendidikan tidak lagi sekadar berfokus pada transfer pengetahuan. Pembelajaran dituntut mampu membangun kompetensi berpikir kritis, kreativitas, serta relevansi dengan kehidupan nyata peserta didik.
Menjawab tantangan tersebut, Roro Wilis melalui tesis magisternya mengkaji penerapan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 9 Yogyakarta.
Mahasiswa Program Studi S2 Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Yogyakarta ini menyoroti masih kuatnya pola pembelajaran sejarah yang berpusat pada ceramah dan hafalan.
“Kondisi ini kurang mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta penghayatan nilai-nilai kebangsaan siswa, meskipun Kurikulum Merdeka telah memberikan ruang luas bagi pembelajaran berdiferensiasi dan berbasis proyek,” ujar Roro, Kamis (19/2).
Pendekatan kualitatif
Dalam penelitiannya, Roro menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi nonpartisipatif, wawancara mendalam, serta studi dokumentasi yang melibatkan wakil kepala sekolah bidang kurikulum, guru sejarah, dan peserta didik kelas X hingga XII.
Observasi awal dilakukan untuk memetakan praktik pembelajaran sejarah yang telah berjalan. “Pembelajaran sejarah seharusnya tidak berhenti pada hafalan peristiwa, tetapi membantu siswa memahami makna dan relevansinya dengan kehidupan mereka hari ini,” kata alumni SMAN 1 Pacitan tersebut.
Pendekatan Contextual Teaching and Learning
Menurutnya, pendekatan CTL memungkinkan siswa membangun pengetahuan secara aktif melalui pengalaman langsung, interaksi sosial, serta pemanfaatan konteks budaya lokal sebagai sumber belajar.
Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran sejarah di SMA Negeri 9 Yogyakarta telah merepresentasikan tujuh komponen utama CTL, yakni konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian autentik. Seluruh komponen tersebut terintegrasi dalam kerangka pembelajaran bermakna yang mendorong siswa aktif mengonstruksi pemahaman.
Praktik kontekstual seperti demonstrasi tradisi lokal, analisis arsip sejarah, kunjungan ke sumber belajar, hingga produksi film dan vlog sejarah menjadi medium bagi siswa untuk mengaitkan masa lalu dengan realitas masa kini.
Guru sebagai fasilitator
Secara teoretis, penelitian ini berpijak pada konstruktivisme sosial yang menekankan pentingnya interaksi dan scaffolding dalam proses belajar. Dalam konteks ini, guru berperan sebagai fasilitator dan mediator, bukan lagi pusat informasi.
Meski demikian, penelitian ini juga mencatat sejumlah hambatan, terutama keterbatasan waktu pembelajaran dan kompleksitas pelaksanaan proyek berbasis lapangan. “Strategi manajemen waktu dan prioritas proyek bermakna menjadi solusi agar pembelajaran tetap selaras dengan prinsip CTL,” ungkap Roro.
Lebih dari sekadar kajian akademik, tesis ini berkontribusi pada pengembangan praktik pembelajaran sejarah yang kontekstual dan humanis. Hasil penelitiannya telah dipublikasikan dalam sejumlah artikel jurnal terakreditasi serta book chapter kolaboratif.
Tesis tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan akademik Roro Wilis. Karya ilmiah ini tidak hanya memperkaya khazanah pendidikan sejarah, tetapi juga mengantarkannya meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00. (AGT/S-01)







