Roro Wilis Tawarkan Pendekatan Kontekstual Pelajaran Sejarah

WACANA Society 5.0 menuntut dunia pendidikan tidak lagi sekadar berfokus pada transfer pengetahuan. Pembelajaran dituntut mampu membangun kompetensi berpikir kritis, kreativitas, serta relevansi dengan kehidupan nyata peserta didik.

Menjawab tantangan tersebut, Roro Wilis melalui tesis magisternya mengkaji penerapan Contextual Teaching and Learning (CTL) dalam pembelajaran sejarah di SMA Negeri 9 Yogyakarta.

Mahasiswa Program Studi S2 Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Negeri Yogyakarta ini menyoroti masih kuatnya pola pembelajaran sejarah yang berpusat pada ceramah dan hafalan.

“Kondisi ini kurang mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta penghayatan nilai-nilai kebangsaan siswa, meskipun Kurikulum Merdeka telah memberikan ruang luas bagi pembelajaran berdiferensiasi dan berbasis proyek,” ujar Roro, Kamis (19/2).

BACA JUGA  Semarakkan Haornas ke-43, UNY Perkuat Sinergi Pendidikan dan Olahraga dengan Pemda

Pendekatan kualitatif

Dalam penelitiannya, Roro menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi nonpartisipatif, wawancara mendalam, serta studi dokumentasi yang melibatkan wakil kepala sekolah bidang kurikulum, guru sejarah, dan peserta didik kelas X hingga XII.

Observasi awal dilakukan untuk memetakan praktik pembelajaran sejarah yang telah berjalan. “Pembelajaran sejarah seharusnya tidak berhenti pada hafalan peristiwa, tetapi membantu siswa memahami makna dan relevansinya dengan kehidupan mereka hari ini,” kata alumni SMAN 1 Pacitan tersebut.

Pendekatan Contextual Teaching and Learning

Menurutnya, pendekatan CTL memungkinkan siswa membangun pengetahuan secara aktif melalui pengalaman langsung, interaksi sosial, serta pemanfaatan konteks budaya lokal sebagai sumber belajar.

Hasil penelitian menunjukkan pembelajaran sejarah di SMA Negeri 9 Yogyakarta telah merepresentasikan tujuh komponen utama CTL, yakni konstruktivisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian autentik. Seluruh komponen tersebut terintegrasi dalam kerangka pembelajaran bermakna yang mendorong siswa aktif mengonstruksi pemahaman.

BACA JUGA  Pemprov Jateng Gandeng 44 PT untuk Percepatan Program

Praktik kontekstual seperti demonstrasi tradisi lokal, analisis arsip sejarah, kunjungan ke sumber belajar, hingga produksi film dan vlog sejarah menjadi medium bagi siswa untuk mengaitkan masa lalu dengan realitas masa kini.

Guru sebagai fasilitator

Secara teoretis, penelitian ini berpijak pada konstruktivisme sosial yang menekankan pentingnya interaksi dan scaffolding dalam proses belajar. Dalam konteks ini, guru berperan sebagai fasilitator dan mediator, bukan lagi pusat informasi.

Meski demikian, penelitian ini juga mencatat sejumlah hambatan, terutama keterbatasan waktu pembelajaran dan kompleksitas pelaksanaan proyek berbasis lapangan. “Strategi manajemen waktu dan prioritas proyek bermakna menjadi solusi agar pembelajaran tetap selaras dengan prinsip CTL,” ungkap Roro.

BACA JUGA  Dosen UNY Kembangkan Tepung Fermentasi dari Singkong

Lebih dari sekadar kajian akademik, tesis ini berkontribusi pada pengembangan praktik pembelajaran sejarah yang kontekstual dan humanis. Hasil penelitiannya telah dipublikasikan dalam sejumlah artikel jurnal terakreditasi serta book chapter kolaboratif.

Tesis tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan akademik Roro Wilis. Karya ilmiah ini tidak hanya memperkaya khazanah pendidikan sejarah, tetapi juga mengantarkannya meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00. (AGT/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Wisatawan Candi Borobudur Bisa Netralkan Jejak Karbon Lewat Tiket

MULAI hari ini, pengunjung Candi Borobudur bisa memilih untuk menetralkan emisi karbon dari perjalanannya, cukup dengan satu pilihan tambahan saat membeli tiket masuk. Pilihan itu dihadirkan melalui Inisiatif Strategis Dekarbonisasi…

Bawa Suara Petani, Film Dokumenter Karya Mahasiswa UGM Tembus Semifinal Inspiring Asia

FILM dokumenter pendek berjudul “The Candles From The Edge” yang disutradarai oleh Aru Dewangga, mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, berhasil menorehkan prestasi membanggakan di…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Juarai FIFA ASEAN Cup 2026, Timnas Indonesia Akhiri Penantian Panjang

  • October 6, 2026
Juarai FIFA ASEAN Cup 2026, Timnas Indonesia Akhiri Penantian Panjang

Mahasiswa RPL Unisa Raih Predikat Terbaik Uji Kompetensi Keperawatan

  • October 5, 2026
Mahasiswa RPL Unisa Raih Predikat Terbaik Uji Kompetensi Keperawatan

Wisatawan Candi Borobudur Bisa Netralkan Jejak Karbon Lewat Tiket

  • October 5, 2026
Wisatawan Candi Borobudur Bisa Netralkan Jejak Karbon Lewat Tiket

PSI Cianjur Bidik Enam Kursi DPRD pada Pileg 2029

  • October 5, 2026
PSI Cianjur Bidik Enam Kursi DPRD pada Pileg 2029

Bawa Suara Petani, Film Dokumenter Karya Mahasiswa UGM Tembus Semifinal Inspiring Asia

  • October 5, 2026
Bawa Suara Petani, Film Dokumenter Karya Mahasiswa UGM Tembus Semifinal Inspiring Asia

Bantu Mahasiswa UTS, Fapet UGM Bagikan 2.577 Butir Telur Rebus Gratis

  • October 5, 2026
Bantu Mahasiswa UTS,  Fapet UGM Bagikan 2.577 Butir Telur Rebus Gratis