PKT UGM Ingatkan Risiko Kencing Tikus Saat Musim Hujan

PUSAT Kedokteran Tropis (PKT) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar program tanya jawab TropmedAsk pada Sabtu (7/2) dengan narasumber dokter Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, dr. Noviantoro Sunarko Putro, Sp.PD. Dalam kesempatan itu, ia mengulas risiko penularan leptospirosis atau yang dikenal sebagai penyakit kencing tikus.

Dokter yang akrab disapa dr. Koko tersebut menjelaskan, leptospirosis merupakan penyakit zoonosis yang paling sering ditularkan dari hewan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira interrogans dengan gejala yang bervariasi, mulai dari ringan hingga berat.

Menurutnya, musim penghujan menjadi faktor risiko utama karena bakteri lebih mudah bertahan dan menyebar di lingkungan lembap serta berair.

“Meski dikenal sebagai penyakit kencing tikus, bakteri ini tidak hanya menginfeksi tikus. Leptospira interrogans juga dapat ditemukan pada mamalia lain seperti kucing, anjing, sapi, babi, kambing, dan domba,” jelasnya.

BACA JUGA  Fakultas Peternakan UGM Menginisiasi Berdirinya Jagal Halal

Namun demikian, tikus memiliki peran penting dalam penyebaran penyakit ini. Bakteri dapat bertahan di kandung kemih tikus selama berbulan-bulan dan dikeluarkan melalui urin, sehingga mencemari lingkungan dalam waktu lama.

Dr. Koko menambahkan, leptospirosis kerap sulit dikenali karena gejalanya menyerupai infeksi umum. Sebagian besar kasus bersifat ringan dengan gejala demam, sakit kepala, menggigil, dan nyeri otot. Ciri khasnya, nyeri otot terutama terasa pada betis, punggung, dan perut.

Pada kondisi berat, leptospirosis ditandai tiga gejala utama, yakni perdarahan, tubuh menguning akibat gangguan hati, serta gagal ginjal akut yang menyebabkan produksi urin menurun.

“Akibatnya, racun yang seharusnya dibuang melalui urin menumpuk di dalam tubuh dan bisa menyebabkan keracunan,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya mengikuti anjuran dokter jika muncul gejala berat. Meski sebagian besar kondisi bersifat sementara, pasien dapat memerlukan perawatan intensif seperti penggunaan ventilator atau cuci darah. Jika mampu melewati fase kritis, peluang untuk pulih sepenuhnya tergolong tinggi.

BACA JUGA  UGM-Universiti Malaya Bahas Inovasi Atasi Malaria dan Dengue

Terkait pencegahan, masyarakat diminta menghindari kontak dengan sumber penularan. Bakteri dapat masuk melalui kulit yang terluka maupun mukosa seperti mata dan mulut. Leptospira mampu bertahan lama di air tergenang, got, kolam, hingga sungai berarus lambat.

Karena itu, masyarakat disarankan menghindari paparan air tergenang serta menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan dan sepatu bot saat berisiko terpapar.

Dalam proses diagnosis, riwayat paparan lingkungan menjadi kunci. Informasi mengenai keberadaan got, tumpukan sampah, atau kasus leptospirosis di sekitar tempat tinggal sangat membantu dokter.

“Secara klinis dan laboratorium, leptospirosis sering sulit dibedakan dari demam berdarah dengue (DBD) atau tifus,” jelasnya.

Kemiripan gejala ini kerap menyebabkan leptospirosis terdiagnosis sebagai DBD. Menurut dr. Koko, hal tersebut tidak sepenuhnya keliru selama pasien tetap dalam pengawasan ketat. “DBD berisiko fatal di minggu pertama, sedangkan leptospirosis bisa memburuk pada minggu kedua atau setelahnya,” katanya.

BACA JUGA  Pakar UGM Desak OJK Perketat Pengawasan Pinjol

Menutup sesi TropmedAsk, dr. Koko mengimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari paparan air tergenang. Ia juga meminta masyarakat tidak panik jika mengalami gejala, segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan dan mengikuti seluruh anjuran medis.

Dengan penanganan yang tepat dan perawatan intensif bila diperlukan, peluang kesembuhan tetap tinggi selama fase kritis dapat dilewati. (AGT/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Pencarian Lansia Hilang di Hutan Selorejo belum juga Berhasil

TIM SAR Gabungan belum juga berhasil menemukan lansia yang dilaporkan hilang di kawasan Hutan Selorejo, Kalurahan Sodo, Kapanewon Paliyan, Kabupaten Gunungkidul hingga Jumat (26/6). Kepala Kantor SAR Yogyakarta, Rio Banupanitis,…

Polresta Sidoarjo Gelar Bedah Rumah Warga tak Mampu Jelang Hari Bhayangkara

DALAM rangka menyongsong peringatan Hari Bhayangkara ke-80, Polresta Sidoarjo bekerja sama dengan Ditlantas Polda Jawa Timur melaksanakan program bedah rumah bagi warga kurang mampu. Kegiatan bakti sosial itu menyasar rumah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Korban Meninggal akibat Gempa di Venezuela Capai 589 Orang

  • June 26, 2026
Korban Meninggal akibat Gempa di Venezuela Capai 589 Orang

Gebuk Oman, Indonesia Lolos ke Semifinal AVC Cup 2026

  • June 26, 2026
Gebuk Oman, Indonesia Lolos ke Semifinal AVC Cup 2026

Pencarian Lansia Hilang di Hutan Selorejo belum juga Berhasil

  • June 26, 2026
Pencarian Lansia Hilang di Hutan Selorejo belum juga Berhasil

Lantik 23 Pejabat, Bupati Taput Ingatkan Soal Tanggung Jawab

  • June 26, 2026
Lantik 23 Pejabat, Bupati Taput Ingatkan Soal Tanggung Jawab

Dinilai Wanprestasi, Pemprov DIY Putus Kontrak CV Anggrek Asri Jaya

  • June 26, 2026
Dinilai Wanprestasi, Pemprov DIY Putus Kontrak CV Anggrek Asri Jaya

Peringati Hari Krida Pertanian, Pemkot Bandung Beri Bantuan untuk Petani

  • June 26, 2026
Peringati Hari Krida Pertanian, Pemkot Bandung Beri Bantuan untuk Petani