DVT dan Emboli Paru Silent Killer Sering Terlambat Terdeteksi

KASUS Deep Vein Thrombosis (DVT) dan emboli paru masih menjadi ancaman serius di berbagai rumah sakit dan fasilitas kesehatan. Kondisi ini tergolong berbahaya karena dapat menyebabkan kematian mendadak, sehingga kerap disebut sebagai silent killer.

Hal tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Prof. Dr. dr. Usi Sukorini, M.Kes., Sp.PK., Subsp H.K. (K), Subsp B.D.K.T. (K), dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang Ilmu Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium di Balai Senat UGM, Selasa (27/1).

Menurut Prof. Usi, DVT merupakan kondisi terbentuknya bekuan darah di dalam pembuluh vena yang sering berkembang tanpa gejala khas pada tahap awal. Akibatnya, diagnosis kerap terlambat hingga muncul komplikasi serius seperti emboli paru.

Dalam pidato berjudul “Pemeriksaan Laboratorium: Kunci Mengungkap Misteri Deep Vein Thrombosis di Indonesia”, ia menyoroti tantangan besar dalam deteksi dini penyakit trombotik yang masih sering terabaikan.

BACA JUGA  Fakultas Farmasi UGM Terima Bantuan HPLC dari Nacalai Tesque Jepang

“Sebagian besar kasus DVT di Indonesia ditemukan secara kebetulan atau baru terdiagnosis setelah muncul komplikasi berupa emboli paru,” ujar Prof. Usi.

Kejadian DVT di Indonesia tinggi

Ia menyebut angka kejadian DVT di Indonesia diperkirakan cukup tinggi, meski data komprehensif masih terbatas. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan informasi antara praktik klinis dan kesadaran masyarakat terhadap penyakit trombotik.

DVT umumnya terjadi pada pasien dengan riwayat imobilisasi, pascapembedahan, gangguan pembekuan darah, maupun pasien yang menjalani perawatan intensif dalam jangka waktu lama. Faktor risiko tersebut bersifat multifaktorial, melibatkan aspek genetik dan lingkungan.

“Mengingat kompleksitas faktor risiko, pendekatan klinis yang komprehensif sangat diperlukan. Venous thromboembolism merupakan penyakit yang sebagian besar dapat dicegah apabila faktor risikonya dikenali sejak awal,” tegasnya.

BACA JUGA  UGM Ingatkan Bahaya Militerisasi Ruang Siber Lewat RUU KKS

Prof. Usi juga menekankan dampak DVT tidak hanya terbatas pada aspek medis, tetapi juga sosial dan ekonomi. Pasien yang mengalami komplikasi kerap menghadapi biaya perawatan jangka panjang serta penurunan kualitas hidup, yang turut memengaruhi produktivitas keluarga dan komunitas.

“Dampak yang ditimbulkan oleh DVT sangat besar, tidak hanya dari sisi medis, tetapi juga ekonomi, psikologis, dan sosial,” katanya.

DVT dan emboli paru belum dipahami awam

Sayangnya, kesadaran publik terhadap DVT masih lebih rendah dibandingkan penyakit kardiovaskular lain seperti serangan jantung atau stroke. Banyak pasien tidak mengenali gejala awal, seperti bengkak atau nyeri pada tungkai, sehingga enggan memeriksakan diri lebih dini.

Padahal, menurutnya, deteksi dini melalui pemeriksaan laboratorium yang tepat dapat secara signifikan menurunkan risiko komplikasi fatal. Edukasi publik dan kolaborasi lintas sektor kesehatan menjadi kunci utama dalam pencegahan.

BACA JUGA  Mengapa Banjir Bandang Sumatra Kian Mematikan

Melalui penelitian dan pendidikan kesehatan berkelanjutan, UGM berkomitmen memperkuat sistem deteksi dini dan pencegahan penyakit trombotik di Indonesia.

“Penyakit ini sebenarnya dapat dicegah dan ditangani secara efektif apabila dilakukan deteksi dini dan strategi pencegahan yang tepat,” jelasnya.

Prof. Usi tercatat sebagai salah satu dari 74 guru besar aktif di lingkungan FK-KMK UGM dan menjadi Guru Besar ke-559 di Universitas Gadjah Mada. (AGT/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Turnamen Mini Soccer Cendrawasih Karsa Media Cup 2026, Perkuat Tradisi Kompetisi Antarmedia

PSSI Pers kembali menggelar turnamen mini soccer antarmedia bertajuk Cendrawasih Karsa Media Cup 2026 yang diikuti 16 tim dari berbagai media nasional. Memasuki edisi kelima, turnamen ini menjadi salah satu…

The Longest Wait, Film Kisah di Balik Perjalanan Timnas Indonesia Resmi Tayang

Film dokumenter Timnas Indonesia, The Longest Wait tayang secara eksklusif terbatas di sejumlah bioskop pilihan pada 28 Oktober 2026. Kemudian kisah Timnas Indonesia itu hadir lebih luas di jaringan bioskop…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Turnamen Mini Soccer Cendrawasih Karsa Media Cup 2026, Perkuat Tradisi Kompetisi Antarmedia

  • October 27, 2026
Turnamen Mini Soccer Cendrawasih Karsa Media Cup 2026, Perkuat Tradisi Kompetisi Antarmedia

Sri Sultan Persilakan Demo Asal tidak Merusak

  • October 27, 2026
Sri Sultan Persilakan Demo Asal tidak Merusak

The Longest Wait, Film Kisah di Balik Perjalanan Timnas Indonesia Resmi Tayang

  • October 27, 2026
The Longest Wait, Film Kisah di Balik Perjalanan Timnas Indonesia Resmi Tayang

OJK Perketat Pengawasan Pasar Modal

  • October 27, 2026
OJK Perketat Pengawasan Pasar Modal

Polda Jateng Ajak Masyarakat Jaga Persatuan meski Berbeda Pandangan

  • October 27, 2026
Polda Jateng Ajak Masyarakat Jaga Persatuan meski Berbeda Pandangan

PTN Diminta Perkuat Sinergi dengan Pemerintah dan Industri

  • October 27, 2026
PTN Diminta Perkuat Sinergi dengan Pemerintah dan Industri