
MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi menyatakan para perempuan, khususnya ibu-ibu yang mengungsi akibat longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), mengalami trauma yang cukup berat.
Hal tersebut disampaikan Arifatul usai berdialog dengan warga terdampak di Kantor Desa Pasirlangu yang dijadikan posko utama pengungsian.
“Kami berbicara dengan ibu-ibu, terlihat sekali mereka mengalami trauma yang sangat berpengaruh, terlihat dari cara mereka berbicara. Kami akan berkoordinasi agar layanan psikososial dan trauma healing bisa dilakukan bersama-sama untuk memberikan penguatan kembali,” ujar Arifatul, Senin (26/1).
Ia menegaskan pihaknya akan berkolaborasi dengan berbagai instansi guna memastikan para pengungsi mendapatkan rasa aman dan nyaman selama berada di posko. Mayoritas penghuni posko saat ini terdiri dari perempuan, anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penyandang disabilitas.
“Kami memastikan seluruh pengungsi tetap mendapatkan perlindungan, khususnya perempuan, anak-anak, lansia, disabilitas, termasuk ibu menyusui dan ibu hamil,” katanya.
Pantauan di lokasi, kegiatan trauma healing juga dilakukan bagi anak-anak di selasar masjid desa. Belasan anak tampak mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias dan mulai menunjukkan keceriaan.
Area Longsor Pasirlangu Diminta Tidak Dibangun Kembali
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta agar kawasan terdampak longsor tidak lagi dijadikan permukiman.
“Sebaiknya tempat ini tidak ditempati lagi. Perlu dilakukan reboisasi dengan tanaman berakar kuat agar struktur tanah menguat kembali. Kalau dibangun lagi, berisiko longsor kembali. Ini harus menjadi pelajaran bagi daerah lain,” ujarnya.
Tito menyebut karakteristik tanah di wilayah perbukitan seperti Cisarua memiliki kemiripan dengan sejumlah daerah lain yang juga dilanda longsor, seperti di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
“Struktur tanahnya lembut dan berpasir, terlihat gembur. Di satu sisi subur untuk tanaman, tetapi di sisi lain rawan longsor,” jelasnya.
Ia menambahkan, saat ini pemerintah masih fokus pada pencarian korban yang diduga masih tertimbun serta penanganan pengungsi. Untuk jangka pendek, upaya maksimal dilakukan untuk menemukan korban hilang dan membantu keluarga terdampak.
“Untuk jangka panjang, warga harus direlokasi ke tempat yang lebih aman. Pemerintah daerah sudah mulai membantu, ke depan harus dipastikan mereka mendapat hunian yang layak dan dukungan mata pencaharian,” tambahnya.
Data Korban
Berdasarkan data Polda Jawa Barat hingga hari kedua pascalongsor, sebanyak 105 orang dilaporkan hilang, terdiri atas 82 warga sipil dan 23 anggota TNI.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) menerima 25 kantong jenazah. Dari jumlah tersebut, 11 korban telah berhasil diidentifikasi, yakni:
- Suryana (57), laki-laki, warga sipil
- Jajang Tarta (35), laki-laki, warga sipil
- Dadang Apung (60), laki-laki, warga sipil
- Nining (40), perempuan
- Nurhayati (42), perempuan
- Lina Lismayanti (43), perempuan
- M. Kori (30), laki-laki (bagian tubuh)
- AI Sumarni (35), perempuan
- Koswara (40), laki-laki
- Koswara (26), laki-laki
- Ayu Yuniarti (31), perempuan
Proses identifikasi dan pencarian korban lainnya masih terus dilakukan oleh tim gabungan. (Rava/S-01)








