MBG untuk Ibu Hamil dan Batita Harus Terintegrasi

BADAN Gizi Nasional akan memperluas cakupan penerima MBG atau Program Makan Bergizi Gratis ditargetkan akan memperluas cakupan penerima manfaat, serta peningkatan mutu pelayanan.

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana menargetkan 82,9 juta penerima manfaat, yang diprioritaskan pada ibu hamil dan anak usia dua tahun. Target itu diharapkan dapat membantu mengatasi kasus stunting yang terjadi di Indonesia.

Namun di tengah ambisi tersebut, muncul kekhawatiran bahwa perluasan ini belum sepenuhnya diiringi kesiapan layanan primer, integrasi sistem kesehatan, maupun penguatan pengawasan keamanan pangan yang efektif.

Menanggapi keinginan tersebut, peneliti pada Prodi Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (KKLP) FK-KMK UGM, dr. Fitriana Murriya Ekawati, Ph.D., menjelaskan program MBG yang menyasar pada ibu hamil dan balita usia 0-2 tahun sebenarnya berpotensi menjadi pintu strategis untuk memperkuat kesinambungan layanan pemenuhan gizi.

Promosi dan prevensi

Ilustrasi. Menu MBG. (MN/Agt)

Namun sarannya, program ini diintegrasikan dengan layanan kesehatan ibu dan anak yang sudah berjalan, seperti pelayanan antenatal, postnatal, serta pemantauan tumbuh kembang balita di Posyandu.

BACA JUGA  28 siswa TK dan SD Tasikmalaya Keracunan Makanan MBG

“Jika dikelola secara terintegrasi, program ini tidak hanya memperbaiki asupan gizi, tetapi juga diharapkan dapat memperkuat promosi dan prevensi kesehatan utamanya peran layanan primer sebagai koordinator utama kesehatan keluarga,” tuturnya, Kamis (22/1).

Intervensi gizi pada periode 1.000 hari pertama kehidupan, ujarnya menjadi kunci utama dalam upaya menurunkan prevalensi stunting di Indonesia. Periode tersebut menentukan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, serta fungsi metabolik anak yang berdampak hingga usia dewasa.

“Jika anak kekurangan gizi pada fase 1.000 hari pertama, hal ini berdampak menjadi akar terjadinya persoalan kesehatan jangka panjang, mulai dari stunting, gangguan kognitif, hingga meningkatnya risiko penyakit menular di usia dewasa,” jelasnya.

Perubahan pendekatan

Perluasan program MBG yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia 0–2 tahun menurutnya telah menunjukkan perubahan pendekatan pemerintah dalam intervensi gizi.

Jika sebelumnya intervensi lebih bersifat terbatas melalui pemberian makanan tambahan atau suplementasi pada kelompok tertentu, kini pemerintah berupaya memastikan kecukupan gizi secara lebih luas pada periode paling krusial dalam siklus kehidupan. Namun ia menegaskan bahwa keberhasilan intervensi tersebut sangat ditentukan oleh detail pelaksanaan di lapangan.

BACA JUGA  Jabar Yakin Oktober Pembangunan 4.600 Dapur SPPG Selesai

“Efektivitasnya sangat bergantung pada detail teknis pelaksanaannya, bagaimana program ini dapat berjalan baik, integratif, berkesinambungan, serta dapat dipadukan dengan intervensi lain seperti perbaikan sanitasi, layanan kesehatan ibu dan anak, serta praktik pengasuhan dan pemberian makan yang tepat di tingkat keluarga dan masyarakat,” paparnya.

Penguatan integrasi

Sebagai upaya agar program MBG tidak hanya sebatas program bantuan pangan, ia merekomendasikan penguatan integrasi dengan sistem kesehatan primer dan pendekatan berbasis keluarga yang diposisikan sebagai bagian dari paket intervensi promotif dan preventif terhubung dengan layanan kesehatan ibu dan anak, edukasi gizi, serta pemantauan keluarga beresiko.

Dengan melibatkan kader, lintas sektor penguatan kapasitas tenaga primer, serta pemanfaatan data untuk perencanaan dan pemantauan berkelanjutan merupakan langkah tepat dalam mendorong penguatan ketahanan dan sistem kesehatan primer pada keluarga.

“Dengan pendekatan ini, MBG dapat berkontribusi pada penguatan ketahanan keluarga dan sistem kesehatan primer yang dapat mendorong kemandirian keluarga dalam menjaga kesehatan jangka panjang,” tuturnya.

BACA JUGA  Lembaga Sertifikasi Dapur MBG harus Independen dan Berkompeten

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa peran layanan primer dalam hal ini perlu dipantau secara berkelanjutan mulai dari perencanaan hingga siklus pelaksanaannya pada program MBG.

Data penting

Ia menyebutkan bahwa tenaga kesehatan primer di Puskesmas memiliki data yang penting yang dibutuhkan, seperti riwayat anemia, hipertensi dalam kehamilan, atau gangguan tumbuh kembang anak yang dapat digunakan untuk personalisasi intervensi MBG.

Dengan demikian, layanan primer bisa memantau apakah intervensi benar-benar memperbaiki status gizi. Sehingga, ia menegaskan pentingnya terjalin kolaborasi lintas sektor dalam menjaga kualitas pelaksanaan MBG.

“Program ini menjadi tanggungjawab bersama, sehingga pola pelaksanaan upaya pemenuhan gizi sangat perlu banyak kolaborasi lintas sektor yang mampu mendukung perluasan manfaat oleh semua pihak,” pungkasnya. (AGT/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Antar 730 UMK Raih Sertifikat Halal, BRI Sabet Penghargaan

PRESTASI membanggakan kembali diukir PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Mereka menerima penghargaan Excellence in Advancing Halal Readiness through Inclusive Financial Access for Micro and Small Enterprises (MSEs)…

Gandeng TBHF dan NAMA, UGM Dirikan Pusat Inovasi Kemanusiaan

DENGAN menggandeng The Big Heart Foundation (TBHF) dan NAMA Women Advancement Establishment, Universitas Gadjah Mada mendirikan Jawaher Al Qasimi Humanitarian Innovation Centre di Yogyakarta. Pusat Inovasi itu menjadi platform multidisiplin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Antar 730 UMK Raih Sertifikat Halal, BRI Sabet Penghargaan

  • September 23, 2026
Antar 730 UMK Raih Sertifikat Halal, BRI Sabet Penghargaan

Gandeng TBHF dan NAMA, UGM Dirikan Pusat Inovasi Kemanusiaan

  • September 23, 2026
Gandeng TBHF dan NAMA, UGM Dirikan Pusat Inovasi Kemanusiaan

Reuni dengan STY di Persija, Marcelino Siap Unjuk Kemampuan

  • September 23, 2026
Reuni dengan STY di Persija, Marcelino Siap Unjuk Kemampuan

Java United Sesali Kasus Diskriminasi STY dan Serahkan ke Komdis

  • September 23, 2026
Java United Sesali Kasus Diskriminasi STY dan Serahkan ke Komdis

Walkot Bandung Pastikan Pasien Influenza tak Ditolak Rumah Sakit

  • September 23, 2026
Walkot Bandung Pastikan Pasien Influenza tak Ditolak Rumah Sakit

BKSPTIS dan Aptik Dorong Ekosistem Pendidikan Tinggi Berkeadilan

  • September 22, 2026
BKSPTIS  dan Aptik Dorong Ekosistem Pendidikan Tinggi Berkeadilan