Indonesia Harus Bisa Memaksimalkan Hubungan dengan Rusia

SEBAGAI pewaris utara emperium Uni Soviet, sejatinya Rusia adalah negara besar. Masalahnya adalah dalam perubahan tatanan dunia saat ini yang begitu cepat, Rusia membutuhkan validasi untuk tetap dianggap besar.

Untuk itu mereka membutuhkan banyak sekutu agar tetap dihormati di dunia, utamanya untuk meredam dominasi Amerika Serikat. Demikian diungkapkan Dosen Sastra Rusia Universitas Indonesia, Dr A. Fahrurodji.

Menurutnya, kendati Rusia bersahabat dengan China yang kini mulai menjadi salah satu kekuatan utama dunia dan menjadi sekutu dekatnya dalam melawan Barat, ‘Negeri beruang Merah’ tidak sudi berada di bawahnya.

Untuk itulah mereka membuat berbagai aliansi dengan negara-negara nentral atau negara yang tidak mau tunduk di bawah Barat. Salah satunya adalah dengan merangkul Indonesia.

Negara besar

“Sebagai negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia, jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, sejatinya posisi Indonesia sangat penting di mata dunia. Ditambah lagi dengan posisinya yang strategis,” kata Fahrurodji

BACA JUGA  Indonesia Tegaskan Komitmen Iklim Berkeadilan di COP30

“Itu sebabnya banyak kekuatan dunia yang mencoba mendekati Indonesia, termasuk Rusia,” lanjutnya.

Untungnya, kata dia, Indonesia bisa bebas memainkan berbagai kartunya berkat politik bebas aktifnya. “Tetapi ini tidak serta merta Indonesia bisa benar-benar bebas dari intervensi luar, karena berbagai faktor. Salah satunya karena keraguan atau ketakutan dari dalam negeri sendiri.”

Manfaatkan momentum

Menurut dia sebagai negara berdaulat dan besar, Indonesia sebenarnya bisa memainkan peranan lebih penting di dunia. Pertemuan Presiden Prabowo dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin di Kremlin untuk kedua kalinya pada Rabu (10/12) lalu setelah sebelumnya bertemu di St. Petersburg pada 18–20 Juni silam, menegaskan hubungan baik kedua negara.

“Ketika sebagian pemimpin dunia lainnya menjauhi atau takut bertemu Putin akibat perang di Ukraina, Prabowo bahkan tidak ragu untuk menemuinya. Ini bisa menjadi momentum. Indonesia misalnya bisa saja menjadi juru damai dalam konflik dengan Ukraina,” paparnya.

BACA JUGA  Kemenhut Repatriasi Empat Orangutan dari Thailand

Selain itu, lanjut dia, sudah saatnya Indonesia meningkatkan kerja sama yang lebih luas dengan Rusia. Apalagi Presiden Putin juga menunjukan kesediaannya untuk membantu Indonesia. Salah satunya adalah menyatakan kesiapannya membantu Indonesia dalam mengembangkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) dan akan mengirimkan tenaga ahli Rusia.

“Indonesia harus bisa memanfaatkan momentum itu. Bagaimana pun Rusia punya banyak kelebihan, selain industri pertahanan. Demikian juga Indonesia. Kedua negara bisa saling belajar,” tegasnya.

Kerja sama strategis

Pada bagian lain, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut kerja sama industri antara Indonesia dengan Rusia terus menunjukkan perkembangan pesat dan semakin strategis.

Hubungan kedua negara, kata dia juga bergerak ke arah yang lebih substantif dan komprehensif, khususnya setelah pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Putin di Kremlin.

BACA JUGA  Presiden Jokowi Siap Menyambut Paus Fransiskus

Agus mengungkapkan, selama ini perkembangan kerja sama ekonomi kedua negara sangat positif. Pada 2024, total perdagangan bilateral nonmigas mencapai US$ 3,9 miliar, dengan tren peningkatan sebesar 18,69% sejak 2020. Hingga Oktober 2025, nilai perdagangan kedua negara telah meningkat menjadi US$ 4,04 miliar.

Di sisi lain, investasi Rusia di Indonesia juga mencatat pergerakan yang konsisten. Pada 2024, total investasi mencapai US$262,7 juta, sementara hingga September 2025, investasi Rusia telah mencapai US$147,2 juta.

“Angka-angka tersebut menunjukkan tingkat kepercayaan yang tinggi dari pelaku industri Rusia terhadap stabilitas ekonomi dan potensi pengembangan industri di Indonesia,” ujar Agus. (*/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Lolos dari Hadangan Kongo, Inggris Ditunggu Meksiko di Babak 16 Besar

INGGRIS akhirnya berhasil merebut tiket ke babak 16 besar Piala Dunia 2026. Meski begitu tiket tersebut tidak didapat Inggris dengan mudah. Saat menghadapi RD Kongo di Stadion Atlanta, Amerika Serikat,…

Waktu Pelatihan SPPI KDKMP Dipangkas dan Fokus ke Manajerial

KEMENTERIAN Pertahanan akhirnya mempersingkat waktu pelatihan kedisiplinan dan kepemimpinan bagi peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) untuk program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), menjadi dua pekan. Wakil Menteri Pertahanan Donny…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Lolos dari Hadangan Kongo, Inggris Ditunggu Meksiko di Babak 16 Besar

  • July 2, 2026
Lolos dari Hadangan Kongo, Inggris Ditunggu Meksiko di Babak 16 Besar

Waktu Pelatihan SPPI KDKMP Dipangkas dan Fokus ke Manajerial

  • July 2, 2026
Waktu Pelatihan SPPI KDKMP Dipangkas dan Fokus ke Manajerial

PON 2028 Bakal Digelar di Tiga Provinsi

  • July 2, 2026
PON 2028 Bakal Digelar di Tiga Provinsi

Juarai AVC Men’s Cup, Timnas Voli Diharap Terus Tingkatkan Prestasi

  • July 2, 2026
Juarai AVC Men’s Cup, Timnas Voli Diharap Terus Tingkatkan Prestasi

Belanda Tersingkir di Fase Gugur, Koeman Pilih Mundur

  • July 1, 2026
Belanda Tersingkir di Fase Gugur, Koeman Pilih Mundur

Rayakan Hari Bhayangkara, Bupati Garut Apresiasi Pengabdian Polri

  • July 1, 2026
Rayakan Hari Bhayangkara, Bupati Garut Apresiasi Pengabdian Polri