
KOMPLEKSITAS wilayah geografis Indonesia dipengaruhi oleh pertemuan tiga lempeng besar yakni Lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik.
Meski begitu, pertemuan lempeng ini menghadirkan kesuburan sekaligus risiko bencana yang memerlukan pendekatan ilmiah yang konsisten.
Dinamika alam Indonesia menyebabkan gempa ribuan kali setiap tahun dan mempengaruhi stabilitas ruang hidup masyarakat. Kegempaan di Indonesia dalam satu tahun bisa mencapai 10 ribu kali.
Perubahan iklim juga ikut memperberat kerentanan wilayah. Sebab, kenaikan suhu global menurutnya memicu percepatan siklus hidrologi yang berdampak pada frekuensi hujan ekstrem.
Penerapan sains
Kondisi ini menyebabkan bencana hidrometeorologi semakin sering tercatat di berbagai daerah. Pembentukan awan kumulonimbus menjadi semakin kencang dan hujan lebat semakin sering terjadi.
Persoalannya ada tantangan penerapan sains dalam pengambilan kebijakan publik. Rekomendasi berbasis data sering kali tidak cukup kuat ketika berhadapan dengan berbagai kepentingan di lapangan.
Hal itu karena zona rawan bencana yang telah dipetakan secara ilmiah dapat berubah ketika memasuki proses pengesahan. Zona yang harusnya merah berubah menjadi kuning dan akhirnya dibangun kembali menjadi kota.
Karenanya diperlukan inovasi pemantauan kelautan yang terus dikembangkan BMKG untuk menjaga keselamatan transportasi laut.
Sistem digital dan sensor berbasis kecerdasan buatan kini memungkinkan deteksi risiko bagi setiap kapal di lautan Indonesia. Upaya ini menjadi bagian penting untuk melindungi aktivitas perdagangan dan perikanan nasional.
Kapal yang berada di lautan bisa terdeteksi dan risiko keselamatannya dapat dihitung secara real time. (Agt/N-01)







