Memaknai Bencana di Tengah Derasnya Arus Informasi

Akhir-akhir ini, berita seputar banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra, wara-wiri di beranda media sosial kita. Beragam opini pun mengalir seiring derasnya laju air yang membawa lumpur pekat dan ratusan kubik kayu gelondongan.

Sebagian menyebut faktor cuaca ekstrem sebagai penyebab, sebagian lagi menuding masifnya praktik penambangan dan illegal logging di hulu perbukitan. Ragam opini ini  menghiasi ruang publik, dari obrolan di warung kopi, kolom komentar di media sosial, hingga perbincangan di ruang siniar dan webinar.

Di era melimpahnya informasi, di mana kediktatoran publik menjadi panglima, kita (selaku pemirsa) seolah ‘dipaksa’ mengonsumsi tanpa henti opini satu ke opini lainnya, tanpa ada jeda untuk betul-betul merenungi sendiri apa makna sesungguhnya dari suatu peristiwa.

BACA JUGA  DBMPR Jabar Langsung Tangani Jembatan Cipager

Akibatnya, derasnya arus informasi sekadar melewati indera penglihatan, tanpa pernah menyentuh, apalagi mengendap dalam kesadaran. Sama seperti halnya berita-berita penangkapan para koruptor, sebatas diungkap dan dinikmati. Ia sekadar tontonan, belum menjadi tuntunan untuk menata agar negeri ini maupun pribadi, menjadi lebih baik ke depannya.

Begitu pula percakapan dan unggahan tentang banjir bandang yang tiba-tiba memenuhi media sosial, saya khawatir  sepertinya bakal reda dan menghilang dengan sendirinya seiring surutnya debit air.  Lalu kita kembali pada pola kebiasaan lama; membabat hutan secara ugal-ugalan, membuka lahan serampangan, serta membuang sampah dan limbah sembarangan.

Di tengah kebisingan informasi dan kehidupan yang serbapragmatis, keseharian yang banal kini memang telah menjadi kelaziman. Manusia seolah dipaksa berpacu, berkejaran entah dengan siapa dan untuk apa. Ragam informasi diproduksi dan dikonsumsi sekadar supaya tidak ketinggalan tren, bukan untuk sarana edukasi.

BACA JUGA  128 Jiwa Mengungsi Dampak Banjir Bandang Ternate

Puluhan tahun lalu, di pedalaman Schwarzwald, sebuah desa kecil di Jerman, mendiang Heidegger (lengkapnya Martin Heidegger), filsuf fenomenologi yang juga pengagum kapten tim Panzer, Franz Beckenbauer, telah mengingatkan pentingnya mengambil jeda sejenak untuk merenungi dan memaknai keseharian, termasuk hubungan kita (manusia) dengan alam.

Melalui bukunya Sein und Zeit (Ada dan Waktu), sang murid Edmund Husserl ini mengajarkan kita dalam melihat suatu fenomena secara kontemplatif. Jangan cuma sibuk menyalahkan kondisi alam yang menyebabkan bencana, tetapi lupa pada perilaku kita sendiri yang telah mengeksploitasi mereka. Jangan cuma grasa-grusu berteriak lantang banjir di Sumatra, tapi lupa menengok dan membersihkan selokan/comberan yang tersumbat di depan mata.(Adiyanto/N-1)

BACA JUGA  Pemkot Ternate Siap Relokasi Korban Banjir ke Jambula

Adiyanto

Wartawan Mimbar Nusantara

Related Posts

Bangunan SPPG di Depan Puskesmas Pangaribuan Dinilai Ganggu RSJ

PEMBANGUNAN dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) milik Badan Gizi Nasional (BGN) di kawasan UPT Puskesmas Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara-Sumatera Utara, menuai sorotan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Tapanuli…

Pemprov Jabar Pastikan Ketersediaan Hewan Kurban Cukup

KETERSEDIAAN hewan kurban di Jawa Barat untuk Iduladha 2026 mencukupi. Berdasarkan data dari Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (iSIKHNAS), stok domba pada Iduladha tahun ini diperkirakan mencapai 223.812 ekor. Jumlah…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Bangunan SPPG di Depan Puskesmas Pangaribuan Dinilai Ganggu RSJ

  • May 21, 2026
Bangunan SPPG di Depan Puskesmas Pangaribuan Dinilai Ganggu RSJ

Pemprov Jabar Pastikan Ketersediaan Hewan Kurban Cukup

  • May 20, 2026
Pemprov Jabar Pastikan Ketersediaan Hewan Kurban Cukup

SPMB SMA SMK di Sekolah Maung 2026 Siap Digelar

  • May 20, 2026
SPMB SMA SMK di Sekolah Maung 2026 Siap Digelar

Bobotoh Diminta Jaga Suasana Kondusif dan tidak Nyalakan Flare

  • May 20, 2026
Bobotoh Diminta Jaga Suasana Kondusif dan tidak Nyalakan Flare

Lulusan UIN Sunan Kalijaga Diminta tidak Takut Perubahan

  • May 20, 2026
Lulusan UIN Sunan Kalijaga Diminta tidak Takut Perubahan

Garebeg Besar Kraton Yogyakarta Dipastikan tanpa Iring-iringan Prajurit

  • May 20, 2026
Garebeg Besar Kraton Yogyakarta Dipastikan tanpa Iring-iringan Prajurit