Memaknai Bencana di Tengah Derasnya Arus Informasi

Akhir-akhir ini, berita seputar banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra, wara-wiri di beranda media sosial kita. Beragam opini pun mengalir seiring derasnya laju air yang membawa lumpur pekat dan ratusan kubik kayu gelondongan.

Sebagian menyebut faktor cuaca ekstrem sebagai penyebab, sebagian lagi menuding masifnya praktik penambangan dan illegal logging di hulu perbukitan. Ragam opini ini  menghiasi ruang publik, dari obrolan di warung kopi, kolom komentar di media sosial, hingga perbincangan di ruang siniar dan webinar.

Di era melimpahnya informasi, di mana kediktatoran publik menjadi panglima, kita (selaku pemirsa) seolah ‘dipaksa’ mengonsumsi tanpa henti opini satu ke opini lainnya, tanpa ada jeda untuk betul-betul merenungi sendiri apa makna sesungguhnya dari suatu peristiwa.

BACA JUGA  Raja Felipe Dilempari Telur Saat Tinjau Banjir di Valencia

Akibatnya, derasnya arus informasi sekadar melewati indera penglihatan, tanpa pernah menyentuh, apalagi mengendap dalam kesadaran. Sama seperti halnya berita-berita penangkapan para koruptor, sebatas diungkap dan dinikmati. Ia sekadar tontonan, belum menjadi tuntunan untuk menata agar negeri ini maupun pribadi, menjadi lebih baik ke depannya.

Begitu pula percakapan dan unggahan tentang banjir bandang yang tiba-tiba memenuhi media sosial, saya khawatir  sepertinya bakal reda dan menghilang dengan sendirinya seiring surutnya debit air.  Lalu kita kembali pada pola kebiasaan lama; membabat hutan secara ugal-ugalan, membuka lahan serampangan, serta membuang sampah dan limbah sembarangan.

Di tengah kebisingan informasi dan kehidupan yang serbapragmatis, keseharian yang banal kini memang telah menjadi kelaziman. Manusia seolah dipaksa berpacu, berkejaran entah dengan siapa dan untuk apa. Ragam informasi diproduksi dan dikonsumsi sekadar supaya tidak ketinggalan tren, bukan untuk sarana edukasi.

BACA JUGA  80% APBN dari Pajak, Pemerintah Harus Perbaiki Tata Kelola Informasi Akuntansi

Puluhan tahun lalu, di pedalaman Schwarzwald, sebuah desa kecil di Jerman, mendiang Heidegger (lengkapnya Martin Heidegger), filsuf fenomenologi yang juga pengagum kapten tim Panzer, Franz Beckenbauer, telah mengingatkan pentingnya mengambil jeda sejenak untuk merenungi dan memaknai keseharian, termasuk hubungan kita (manusia) dengan alam.

Melalui bukunya Sein und Zeit (Ada dan Waktu), sang murid Edmund Husserl ini mengajarkan kita dalam melihat suatu fenomena secara kontemplatif. Jangan cuma sibuk menyalahkan kondisi alam yang menyebabkan bencana, tetapi lupa pada perilaku kita sendiri yang telah mengeksploitasi mereka. Jangan cuma grasa-grusu berteriak lantang banjir di Sumatra, tapi lupa menengok dan membersihkan selokan/comberan yang tersumbat di depan mata.(Adiyanto/N-1)

BACA JUGA  Pemerintah Beri Opsi Relokasi Warga Terdampak Banjir Ternate

Adiyanto

Wartawan Mimbar Nusantara

Related Posts

BPBD Tasikmalaya Distribusikan Air Bersih untuk 8.801 KK

BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tasikmalaya, memasok air bersih untuk 8.801 Kepala Keluarga (KK) atau 29.156 jiwa terdampak krisis air bersih. Krisis air di Tasikmalaya saat ini meluas akibat…

BI Tasikmalaya Perkuat Perpustakaan sebagai Pusat Edukasi

BANK Indonesia Tasikmalaya terus memperkuat ekosistem literasi ekonomi dan kebanksentralan melalui penyelenggaraan ‘BI Corner Connect 2026: Transformasi Perpustakaan sebagai Pusat Edukasi, Literasi, dan Riset Kebanksentralan’ pada Kamis (20/8). Kegiatan itu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

BPBD Tasikmalaya Distribusikan Air Bersih untuk 8.801 KK

  • August 20, 2026
BPBD Tasikmalaya Distribusikan Air Bersih untuk 8.801 KK

BI Tasikmalaya Perkuat Perpustakaan sebagai Pusat Edukasi

  • August 20, 2026
BI Tasikmalaya Perkuat Perpustakaan sebagai Pusat Edukasi

Belasan Pelajar Bolos Sekolah Terjaring Razia Satpol PP

  • August 20, 2026
Belasan Pelajar Bolos Sekolah Terjaring Razia Satpol PP

Warga Pesisir Timur Sidoarjo Dihebohkan dengan Penampakan Buaya

  • August 20, 2026
Warga Pesisir Timur Sidoarjo Dihebohkan dengan Penampakan Buaya

Pemkot Bandung Pastikan Kontrak PPPK Paruh Waktu Diperpanjang

  • August 20, 2026
Pemkot Bandung Pastikan Kontrak PPPK Paruh Waktu Diperpanjang

Buktikan Inklusivitas, UNY Terima Dua Mahasiswa Disabilitas

  • August 20, 2026
Buktikan Inklusivitas, UNY Terima Dua Mahasiswa Disabilitas