Walhi: Jabar Berisiko Alami Bencana Lebih Parah dari Sumatra

BENCANA banjir bandang, longsor, dan tanah ambles yang melanda Aceh, Sumatra Utara, serta Sumatra Barat dinilai sangat mungkin terjadi di Jawa Barat, bahkan dengan dampak lebih besar. Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat, Wahyudin Iwang, Selasa (2/12).

Menurutnya, intensitas hujan tinggi bukan satu-satunya pemicu bencana ekologis. Kerusakan lingkungan akibat deforestasi, pembukaan lahan tambang, pembabatan hutan untuk kepentingan tertentu, hingga ekspansi properti dan pariwisata menjadi faktor dominan yang memperparah kerentanan.

“Deforestasi terjadi di banyak titik. Aktivitas tambang, proyek tidak tepat sasaran, hingga pengembangan wisata menjadi pemicu kuat terjadinya bencana,” ujarnya.

Wahyudin menegaskan, Jawa Barat merupakan provinsi dengan ragam ancaman bencana tinggi—mulai dari tsunami, letusan gunung berapi, banjir bandang, longsor, hingga puting beliung. Di sisi lain, kerusakan lingkungan terus meningkat sementara upaya pemulihan dinilai minim.

BACA JUGA  Dedi Mulyadi Kirim 3 Truk Bantuan untuk Bencana Sukabumi

“Pemerintah nyaris tidak melakukan pencegahan dan pemulihan lingkungan. Bahkan dalam banyak kasus, justru terkesan melegitimasi kerusakan,” katanya.

Bencana lebih parah karena penyusutan hutan meningkat

Walhi mencatat 54 izin tambang yang habis masa berlakunya sejak 2023 tidak ditertibkan dan banyak yang tetap beroperasi. Selain itu, pada 2024 ditemukan 176 titik tambang ilegal. Sumedang dan Tasikmalaya tercatat sebagai wilayah terbanyak, masing-masing 48 titik.

Penyusutan tutupan hutan di Jawa Barat juga disebut mengkhawatirkan. Dalam periode 2023–2025, setidaknya 43 persen kawasan hutan mengalami degradasi, baik hutan lindung maupun hutan produksi. Banyak area berubah fungsi menjadi tambang, wisata, properti, hingga lokasi ekspansi geothermal.

Wahyudin juga menyoroti pengelolaan kawasan oleh BBKSDA dan PTPN Regional II yang dinilai turut berperan dalam degradasi lingkungan. Penurunan status kawasan konservasi untuk proyek strategis nasional, pembangunan fasilitas wisata di area konservasi, hingga perjanjian kerja sama lahan yang berujung alih fungsi disebut sebagai penyebab utama.

BACA JUGA  Buruh Jabar Tuding Jiwa Sosial Dedi Mulyadi Hanya di Konten

“Banyak HGU PTPN yang habis dan kemudian berubah menjadi area kondominium atau wisata berkedok ramah lingkungan. Ini bentuk ketidakmampuan dalam mengelola lahan,” tegasnya. (Rava/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Pemain Bergabung di Jakarta, Timnas Siap Berkiprah di FIFA ASEAN Cup 2026

Sebanyak 14 pemain telah bergabung di Jakarta untuk mengikuti persiapan Timnas Indonesia menuju FIFA ASEAN Cup 2026. Mereka adalah Luke Vickery, Mitchell Baker, Maarten Paes, Thom Haye, Ragnar Oratmangoen, Jordi…

Antusiasme Skuad Garuda Jelang FIFA ASEAN Cup 2026

Antusiasme menyambut FIFA ASEAN Cup 2026 mulai dirasakan para pemain Timnas Indonesia. Bagi Luke Vickery, turnamen ini memiliki makna khusus karena menjadi pengalaman pertamanya memperkuat skuad Garuda di ajang internasional…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Pemain Bergabung di Jakarta, Timnas Siap Berkiprah di FIFA ASEAN Cup 2026

  • September 21, 2026
Pemain Bergabung di Jakarta, Timnas  Siap Berkiprah di FIFA ASEAN Cup 2026

Gasak Vietnam 3-0, Timnas Voli Putri Selangkah Menuju Posisi Kelima

  • September 21, 2026
Gasak Vietnam 3-0, Timnas Voli Putri Selangkah Menuju Posisi Kelima

Antusiasme Skuad Garuda Jelang FIFA ASEAN Cup 2026

  • September 21, 2026
Antusiasme Skuad Garuda Jelang FIFA ASEAN Cup 2026

UIN Sunan Kalijaga Gelar Pameran Arsip

  • September 21, 2026
UIN Sunan Kalijaga Gelar Pameran Arsip

Dean James Antusias Menuju FIFA ASEAN Cup, Akhirnya Bela Timnas Indonesia Lagi

  • September 21, 2026
Dean James Antusias Menuju FIFA ASEAN Cup, Akhirnya Bela Timnas Indonesia Lagi

Navigasi Robotik Dorong Presisi Bedah Tulang Belakang

  • September 21, 2026
Navigasi Robotik Dorong Presisi Bedah Tulang Belakang