
HARI Rabies Sedunia yang diperingati setiap 28 September menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran dan aksi bersama melawan penyakit mematikan namun sebenarnya dapat dicegah ini.
Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Bertindak Sekarang: Kamu, Saya, Komunitas”, yang menekankan bahwa upaya mengeliminasi rabies adalah tanggung jawab semua pihak, baik individu maupun masyarakat.
Rabies masih menjadi tantangan besar kesehatan masyarakat di kawasan Asia Tenggara. Setiap tahun, diperkirakan 27.700 orang meninggal akibat rabies, hampir setengah dari total kasus global.
Tragisnya, sebagian besar korban adalah anak-anak di bawah usia 15 tahun dari komunitas kurang terlayani yang sulit mengakses vaksinasi maupun perawatan pasca-terpapar.
Pada 2023, negara-negara anggota WHO melaporkan lebih dari 13 juta kasus paparan hewan, dengan lebih dari 1 juta orang menerima vaksinasi pasca-terpapar. Namun, banyak kasus kematian masih belum tercatat. Karena itu, pengawasan, ketersediaan vaksin, dan edukasi masyarakat harus terus diperkuat.
Tema tahun ini mengajak semua pihak untuk mengambil langkah nyata. Mulai dari individu dengan vaksinasi hewan peliharaan, mengenali cara penanganan luka gigitan, serta mencari perawatan medis segera.
Pemimpin dan tenaga kesehatan: memberi teladan, mendukung program eliminasi rabies, dan menggerakkan aksi kolektif.
Komunitas menggelar vaksinasi massal, meningkatkan kesadaran, dan memperkuat layanan kesehatan lokal.
Rabies merupakan salah satu dari 21 penyakit tropis terabaikan (NTDs) yang diprioritaskan WHO. Pada 2015, rabies menjadi penyakit zoonosis pertama yang ditargetkan untuk dieliminasi sebagai masalah kesehatan masyarakat melalui strategi “Zero by 30”, yakni mengakhiri kematian manusia akibat rabies yang ditularkan anjing pada 2030.
Bebas Rabies di Asia Tenggara
Untuk mempercepat langkah ini, WHO Asia Tenggara telah membentuk Kelompok Penasihat Teknis Regional sejak 2023, serta bekerja sama dengan organisasi mitra global seperti WOAH, FAO, dan UNEP guna memperkuat pendekatan lintas sektor One Health.
Prioritas yang terus dijalankan antara lain dengan advokasi berkelanjutan dan dukungan sumber daya
Penguatan kapasitas surveilans, laboratorium, serta akses vaksin pasca-terpapar, Peningkatan vaksinasi anjing dan pengendalian populasi dan pemberdayaan serta edukasi masyarakat.
“Rabies adalah penyakit yang 100% dapat dicegah. Setiap nyawa yang hilang adalah pengingat mendesak untuk bertindak,” tegas Dr. Catharina Boehme, Pejabat WHO Asia Tenggara.
Pada peringatan Hari Rabies Sedunia, WHO mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama berkomitmen menuju masa depan bebas rabies. “Kita harus bertindak sekarang, demi setiap anak, setiap keluarga, dan setiap komunitas,” tandasnya. (*/S-01)








