Buku Madilog Tan Malaka Jadi Incaran Pembaca Muda

BUKU Madilog karya Tan Malaka kini menjadi salah satu buku terlaris di toko-toko buku besar. Sejak pascademo besar di Jakarta akhir Agustus lalu, karya filsuf revolusioner itu tak bergeser dari rak best seller. Fenomena ini menandai kebangkitan minat anak muda pada literatur pemikiran kritis yang pernah dibungkam puluhan tahun.

Di era Orde Baru, karya-karya Tan Malaka sempat dilarang beredar. Sosok pahlawan nasional yang juga dikenal sebagai jurnalis dan filsuf ini dianggap ancaman karena gagasan-gagasannya yang revolusioner. Namun kini, buku itu justru digandrungi generasi muda yang mencari arah baru dalam membaca realitas sosial dan politik.

Madilog merupakan singkatan dari Materialisme, Dialektika, dan Logika. Tan Malaka menulisnya pada 15 Juli 1942 hingga 30 Maret 1943, di tengah suasana perang dunia dan pergolakan kemerdekaan. Buku ini lahir dari keyakinan bahwa bangsa Indonesia hanya bisa maju jika melepaskan diri dari cara berpikir mistis, feodal, dan irasional.

Isi Madilog merumuskan tiga pilar pemikiran:

  • Materialisme, memahami dunia berdasarkan fakta dan bukti nyata.
  • Dialektika, melihat pertentangan sebagai motor penggerak kemajuan.
  • Logika, menggunakan akal sehat untuk memilah kebenaran dari kebohongan.

Menurut Tan Malaka, revolusi fisik tanpa revolusi pikiran hanyalah sia-sia. Karena itu, Madilog dirancang bukan sekadar karya filsafat, melainkan panduan berpikir ilmiah dan rasional yang dapat digunakan untuk memajukan bangsa. Topik-topiknya pun luas, mulai dari filsafat, sejarah, sains, hingga matematika, membuatnya relevan lintas generasi.

Madilog dan pemikiran kritis

Tan Malaka, bernama asli Ibrahim Datuk Sutan Malaka, lahir di Sumatra Barat pada 2 Juni 1897. Ia menempuh pendidikan di Hindia Belanda dan melanjutkan ke Belanda, di mana pemikirannya ditempa oleh ide-ide progresif Eropa. Setelah kemerdekaan, ia mendirikan Persatuan Perjuangan dan Partai Murba dengan ideologi antifasisme, antiimperialisme, dan antikapitalisme.

Riwayat hidupnya penuh liku: diasingkan, dipenjara, hingga akhirnya wafat pada 21 Februari 1949 di Kediri dan dimakamkan secara sederhana di hutan. Dua dekade kemudian, Presiden Soekarno menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 53 Tahun 1963.

Kini, puluhan tahun setelah pernah dilabeli terlarang, pemikiran Tan Malaka kembali menemukan relevansinya. Madilog diburu pembaca muda yang mencari inspirasi baru untuk memahami bangsa, sejarah, dan masa depan Indonesia dengan cara berpikir kritis.

“Generasi sekarang lebih terbuka dengan pemikiran yang kritis dan berani,” ujar seorang pengunjung toko buku di Jakarta. “Madilog memberi cara pandang berbeda untuk melihat realitas hari ini.”

Fenomena larisnya Madilog bukan sekadar tren literasi, tetapi juga menandakan kerinduan publik pada bacaan serius yang menantang nalar. Tan Malaka seakan hadir kembali, bukan hanya sebagai pahlawan yang pernah gugur, tetapi juga sebagai pemikir yang suaranya kembali bergema di tengah generasi baru. (*/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Atasi Penyakit Embun Tepung pada Melon dengan UVB, Putri Lulus S2 UGM dengan IPK 4.00

PENYAKIT embun tepung (powdery mildew) pada melon merupakan salah satu persoalan yang sering dihadapi petani saat panen. Penyakit yang disebabkan jamur Podosphaera xanthii itu mudah menyebar dan sulit dikendalikan di…

Mahasiswa UNY Ubah Kulit Bawang Jadi Pupuk Organik

KREATIVITAS mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam program Pembelajaran Luar Kampus (PLK) berhasil mengolah limbah kulit bawang merah menjadi pupuk organik cair (POC) yang ramah lingkungan dan bernilai guna. Inisiatif…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Atasi Penyakit Embun Tepung pada Melon dengan UVB, Putri Lulus S2 UGM dengan IPK 4.00

  • May 5, 2026
Atasi Penyakit Embun Tepung pada Melon dengan UVB, Putri Lulus S2 UGM dengan IPK 4.00

Persija Mendekat, Persib Kembali Menjauh

  • May 4, 2026
Persija Mendekat, Persib Kembali Menjauh

Hujan Lebat Rendam Sebagian Wilayah Jabodetabek pada Senin Sore

  • May 4, 2026
Hujan Lebat Rendam Sebagian Wilayah Jabodetabek pada Senin Sore

Polresta Sidoarjo Bongkar Praktik Suntik Gas Elpiji Bersubsidi

  • May 4, 2026
Polresta Sidoarjo Bongkar Praktik Suntik Gas Elpiji Bersubsidi

Polresta Sidoarjo Ungkap 36 Kasus Curanmor dan Amankan 43 Tersangka

  • May 4, 2026
Polresta Sidoarjo Ungkap 36 Kasus Curanmor dan Amankan 43 Tersangka

Surat dan Foto-foto The Beatles Era Awal Dipamerkan di Hamburg

  • May 4, 2026
Surat dan Foto-foto The Beatles Era Awal Dipamerkan di Hamburg