Produsen Harus Bertanggung Jawab atas Limbah Plastik

MENTERI Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Hanif Faisol Nurofiq menegaskan komitmen Indonesia dalam mendorong pengurangan limbah plastik bahan kimia berbahaya, perbaikan pencemaran, dan pencegahan kebocoran plastik ke lingkungan.

Hal itu ia sampaikan dalam dialog bersama Koalisi Bisnis untuk Perjanjian Plastik Global yang mewakili lebih dari 300 perusahaan di rantai nilai plastik.

Hanif menyatakan dukungan terhadap tiga poin utama koalisi, yaitu penghapusan produk dan bahan kimia bermasalah, penerapan desain produk berkelanjutan, serta penerapan sistem Extended Producer Responsibility (EPR).

Kebijakan EPR mewajibkan produsen bertanggung jawab penuh atas seluruh siklus hidup produk, termasuk pengumpulan, pemilahan, daur ulang, hingga pembuangan yang aman.

“Langkah ini sejalan dengan prioritas Indonesia dalam mendorong ekonomi sirkular, inovasi, dan investasi infrastruktur pengelolaan sampah di lebih dari 500 kabupaten/kota,” kata Hanif dalam keterangan tertulis, Sabtu (16/8).

BACA JUGA  Nana Sudjana Dorong Peningkatan Implementasi Ekonomi Sirkular

Limbah plastik dan inovasi plastik ramah lingkungan

Selain itu, Menteri Hanif juga menggelar pertemuan bilateral dengan Inggris dan Belanda. Dengan Inggris, pembahasan difokuskan pada perlindungan keanekaragaman hayati, pengendalian banjir di Sungai Ciliwung, serta pengembangan ekonomi sirkular. Inggris juga menawarkan dukungan teknis, penelitian, dan pendanaan untuk mencegah kebocoran plastik ke sungai dan laut.

Sementara itu, pertemuan dengan Menteri Lingkungan Hidup Belanda, Christianne van der Wal-Zeggelink, menitikberatkan pada pengelolaan sampah menjadi energi, desain produk berkelanjutan, serta kerja sama universitas dalam inovasi plastik ramah lingkungan.

“Kedua negara juga sepakat memperkuat kemitraan di forum G20 dan UNEA, serta mempercepat penyelesaian perjanjian plastik global,” ujar Christianne.

BACA JUGA  Tjiwi Kimia Berkomitmen Terapkan Ekonomi Sirkular

Hanif menekankan pentingnya konsensus antarnegara dalam menyelesaikan perjanjian plastik global agar implementasinya berjalan efektif.

“Momentum tidak boleh hilang. Perjanjian harus ambisius, praktis, dan memberi sinyal tegas bahwa polusi plastik harus diakhiri. Waktu untuk bertindak adalah sekarang,” tegasnya. (DS/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Ludes Terjual, 67 Ribu Tiket Final FIFA ASEAN Cup 2026 Laga Indonesia Vs Thailand

Antusiasme suporter Indonesia untuk menyaksikan final FIFA ASEAN Cup 2026 membludak. Panitia penyelenggara mengonfirmasi sebanyak 67 ribu tiket pertandingan final Indonesia melawan Thailand telah terjual habis atau sold out. Partai…

Timnas Putri U-17 Indonesia Berlaga di Singapura, Sasar Juara Grup B Kualifikasi Piala Asia U-17

Timnas Putri U-17 Indonesia telah tiba di Singapura pada Sabtu (3/10) siang untuk mengikuti Kualifikasi Piala Asia Putri U-17 2027. Garuda Pertiwi siap bertanding pada laga pembuka Grup B melawan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Tim UGM Raih Juara 1 Kompetisi Esai Inovasi

  • October 4, 2026
Tim UGM Raih Juara 1 Kompetisi Esai Inovasi

Ludes Terjual, 67 Ribu Tiket Final FIFA ASEAN Cup 2026 Laga Indonesia Vs Thailand

  • October 4, 2026
Ludes Terjual,  67 Ribu Tiket Final FIFA ASEAN Cup 2026 Laga Indonesia Vs Thailand

Bawaslu DIY Catat 2,9 Juta Pemilih saat Pemutakhiran Data

  • October 3, 2026
Bawaslu DIY Catat 2,9 Juta Pemilih saat Pemutakhiran Data

Sambut Hari Kesaktian Pancasila, PLN UP3 Pematangsiantar Pastikan Keandalan Listrik

  • October 3, 2026
Sambut  Hari Kesaktian Pancasila, PLN UP3 Pematangsiantar Pastikan Keandalan Listrik

Timnas Putri U-17 Indonesia Berlaga di Singapura, Sasar Juara Grup B Kualifikasi Piala Asia U-17

  • October 3, 2026
Timnas Putri U-17 Indonesia Berlaga di Singapura, Sasar Juara Grup B Kualifikasi Piala Asia U-17

Komersialisasi Paten UGM Tertinggi di Indonesia

  • October 3, 2026
Komersialisasi Paten UGM Tertinggi di Indonesia