Cegah Kecelakaan dan Kerusakan Jalan, Pemerintah Harus Larang Truk Odol

PEMERINTAH diminta serius menghentikan operasi truk kelebihan dimensi dan muatan (over dimension dan overload atau ODOL). Hal itu penting untuk mencegah kecelakaan lalu lintas, melindungi infrastruktur jalan, serta menjaga kelancaran lalu lintas.

Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mencermati kecelakaan truk di Ciawi, Purworejo, Semarang dan banyak lokasi lainnya membuat kerugian material dan menghilangkan nyawa manusia.

“Hampir setiap hari terjadi kecelakaan angkutan barang. Sebelum ada jalan tol, truk sering memunculkan musibah. Lalu setelah ada jalan tol, gantian truk ditabrak dari belakang. Istilahnya tabrak depan belakang di jalan tol,” beber Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan MTI Pusat, Djoko Setijowarno, Selasa (13/5/2025) kepada Mimbar Nusantara.

Akibat kelalaian

Menurut dia, kecelakaan truk di jalan raya lebih dari akibat kelalaian dalam persiapan kendaraan. Selain kompetensi pengemudi, kondisi kendaraan yang kurang terawat membuat kecelakaan yang melibatkan angkutan barang terus terjadi.

Berbagai kejadian laka itu, mencerminkan lemahnya tata kelola dan kurangnya upaya perbaikan yang semestinya dilakukan pemerintah. “Karena itu, harus ada keseriusan dari Pemerintah untuk membenahi,” sergah dia.

Perang tarif

MTI menganalisa UU 22/ 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, ternyata memunculkan perang tarif yang tidak sehat di bisnis transportasi barang. Dan imbas perang tarif, para pengusaha truk berupaya menekan biaya agar mendapatkan tender dari perusahaan pemilik barang.

Pemicunya adalah Pasal 184 dari UU tersebut, yang mengatur tentang penetapan tarif angkutan barang yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara pengguna jasa dan perusahaan angkutan umum.

BACA JUGA  TVOne Ajak Masyarakat Doakan Kru Mereka yang Mengalami Musibah

Djoko menegaskan, tarif angkutan barang sebaiknya ditetapkan pemerintah, dan bukan melalui kesepakatan antara pengguna jasa dan perusahaan angkutan barang. Sebab hal inilah yang menyebabkan terjadirnya variasi tarif antara perusahaan angkutan, yang disebut sebagai perang tarif.

Perang tarif angkutan barang, menjadikan persaingan harga tidak sehat antara pengusaha angkutan barang. “Celakanya perang tarif ini berdampak pada kerusakan infrastruktur jalan dan daya saing pengusaha. Kerusakan jalan disebabkan kendaraan barang berdimensi dan muatan berlebih,” ujar Djoko.

Libatkan 11 instansi

MTI mengapresiasi perintah Presiden Prabowo Subianto, yang memerintahkan Kantor Staf Kepresidenan (KSP) untuk menginisiasi langkah dialog pembenahan angkutan barang dengan melibatkan 11 instansi dan kelompok masyarakat yang peduli akan keselamatan transportasi.

KSP telah mengundang Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Forum Studi Transportaai antar Perguruan Tinggi (FSTPT), Institut Studi Transportasi (Instran), Inteligent Transportation System (ITS), Korlantas Polri, Ditjen Perhubungan Darat dan Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan, PT Jasa Marga, PT Jasa Raharja, Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT).

“Dan masih ada sejumlah instansi dan kelompok masyarakat yang perlu didengar masukannya, seperti Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Road Safety Assosiation (RSA), Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), Asosiasi Logistik Indonesia, Komunitas Pengemudi Truk, PT Hutama Karya,” kata dia.

Daya saing Industri

Kelanjutan dari pertemuan, MTI mendapatkan informasi Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita dan Menhub Dudy Purwagandhi akhirnya bisa membuat kesepakatan menerapkan kebijakan zero ODOL atau jalanan tanpa truk berlebih muatan.

BACA JUGA  MTI Desak Pemerintah Beri Sanksi Pengusaha bukan Sopir

Menperin Agus Gumiwang menyebutkan, bahwa penerapan zero ODOL akan secepatnya dilaksanakan setelah mempertimbangkan beragam aspek. Salah satu komponen utama adalah meningkatkan daya saing industri.

Bahkan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menargetkan penerapan aturan Zero ODOL berlaku efektif 2026.

“Tentu langkah itu perlu diapresias, mengingat sudah 20 tahun lebih telah berlangsung praktek truk ODOL ini,” beber pengajar Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijopranoto, Semarang itu.

Harapan MTI, kebijakan Zero ODOL yang akan diberlakukan efektif pada 2026 itu, regulasinya dituangkan dalam Peraturan Presiden ( Perpres) tentang penguatan logistik nasional. Di dalamnya memuat aturan tentang insentif bagi pelaku usaha.

Jangan cuma jalan

MTI juga berharap, angkutan barang jangan difokuskan atau ditumpukan melintas di jalan raya. Sebagai negara kepulauan, negara ini masih mempunyai jaringan jalan rel.

Di Pulau Jawa sepanjang 4.573 km, terbagi rel tunggal 1.229 km (26,9 persen), rel ganda 3.285 km (71,8 persen), dan rel dobel ganda 59 km (1,3 persen).

Selain itu, masih ada pula perairan untuk logistik antar pulau dan aliran sungai. Jalan rel tidak setara dengan jalan raya. “Angkutan logistik menggunakan jalur KA dikenai PPN 11 persen. Moda KA menggunakan BBM non subsidi dan menggunakan jalan rel masih dikenakan track access charge (TAC),” tutur dia

Sementara lewat jalan raya menggunakan BBM subsidi, tidak dikenakan PPN, menggunakan jalan arteri tidak dipungut biaya dan jika lewat tol dikenakan tarif.

BACA JUGA  Jikalahari Desak Perusahaan Tanggung Jawab atas Kecelakaan Truk

Namun moda transportasi jalan, umumnya lebih murah jika digunakan untuk angkutan yang jaraknya relatif pendek, kurang dari 500 km. Sedang untuk kereta api lebih kompetitif pada jarak menengah antara 500 – 1.500 km, dan untuk jarak lebih dari 1500 km moda transportasi laut akan lebih murah.

Data Bappenas (2023), biaya logistik nasional Indonesia sebesar 14,29 persen dari PDB untuk tahun 2022, sekitar 8,79 persen adalah biaya transportasi. Skor Logistics Performance Index (LPI) Indonesia tahun 2023 sebesar 3,0, di bawah sejumlah negara ASEAN (Singapura (4,3), Malaysia (3,6), Thailand (3,5), Filipina (3,3), Vietnam (3,3).

Perlu Roadmap

MTI menganggap, Pemerintah memerlukan roadmap, untuk menegaskan tahapan dan langkah-langkah efektif, yang akan membantu tim dan stakeholder untuk memahami posisi saat ini dan langkah selanjutnya dalam mencapai target.

Menurut Djoko Setijowarno, roadmap dapat dibagi dalam tiga periode, misalnya jangka pendek (2025-2026), jangka menengah (2027 – 2029) dan jangka panjang (2030-2045). Di dalam roadmap ada program, indikator dan
penanggungjawab dari Kementerian dan Lembaga terkait.

Setelah itu dapat dimulai dari proyek pemerintah dan BUMN yang tidak menggunakan truk ODOL. Baru kemudian ke sektor atau wilayah lainnya. (WID/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Garuda Indonesia Buka Rute Bandung-Denpasar Mulai 14 Agustus

SETELAH memperoleh persetujuan dari Kementerian Perhubungan, mulai 14 Agustus 1026, Bandara Internasional Husein Sastranegara Bandung, resmi melayani penerbangan pesawat jet berbadan sedang (narrow body) Garuda Indonesia dengan tujuan Denpasar, Bali.…

Empat Penumpang Meninggal dalam Insiden Terbakarnya KMP Mutiara Sentosa 2

KAPAL Motor Penumpang (KMP) Mutiara Sentosa 2 dilaporkan terbakar di wilayah perairan Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur, pada Minggu pagi, saat berlayar dari Surabaya menuju ke Makassar. Akibat insiden itu,…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Qolby, Maba Termuda UNY yang tak Menyerah Mengejar Impian Belajar Bahasa Jerman

  • August 18, 2026
Qolby, Maba Termuda UNY yang tak Menyerah Mengejar Impian Belajar Bahasa Jerman

Pertamina Bantu Donasi untuk Korban Gempa NTT

  • August 17, 2026
Pertamina Bantu Donasi untuk Korban Gempa NTT

Rayakan HUT ke-81 RI, IDN Resmikan Rumah Layak Huni di Sleman

  • August 17, 2026
Rayakan HUT ke-81 RI, IDN Resmikan Rumah Layak Huni di Sleman

Lion Group Kirim 1 Ton Bantuan Logistik ke Korban Gempa NTT 

  • August 17, 2026
Lion Group Kirim 1 Ton Bantuan Logistik ke Korban Gempa NTT 

Bupati Bandung Ajak Warga Isi Kemerdekaan dengan Karya 

  • August 17, 2026
Bupati Bandung Ajak Warga Isi Kemerdekaan dengan Karya 

Dukung Pemerataan, Telkomsel Hadirkan Broadband di Sukabumi

  • August 17, 2026
Dukung Pemerataan, Telkomsel Hadirkan Broadband di Sukabumi