
FILM dokumenter pendek berjudul “The Candles From The Edge” yang disutradarai oleh Aru Dewangga, mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Lingkungan Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, berhasil menorehkan prestasi membanggakan di ajang Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Regional Indonesia.
Film itu menjadi salah satu dari empat finalis kategori Best Project Award dalam kompetisi tersebut, yang Regional Screening & Awarding Day-nya berlangsung pada 11 September 2026 di Ice Palace, Lotte Mall, Jakarta.
Selain itu, film ini juga terpilih mewakili Indonesia untuk melaju ke babak Semi-Final Inspiring Asia dan berkesempatan tampil di Grand Final Inspiring Asia di Manila, Filipina, berkompetisi dengan peserta lain dari berbagai negara di kawasan Asia.
Tiga masalah pertanian
Aru mengaku tidak menyangka film garapannya bisa mendapat penghargaan ajang Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Regional Indonesia.
Di film dokumenter tersebut, menyampaikan terdapat tiga masalah serius yang menghadapi bidang pertanian yaitu penurunan kualitas air dan tanah, tingginya biaya produksi dan penyusutan tanah, hingga kurangnya minat generasi muda untuk menjadi petani.
“Ketiga masalah ini menjadi alasan pembuatan film yang menyoroti Kelompok Tani Mulyo 1, Desa Gentungan yang sudah mengusung sistem pertanian organik terintegrasi,” ujarnya.
Para petani di daerah tersebut, kata Aru, telah memproduksi pupuk organik secara mandiri, meracik pestisida nabati yang ramah lingkungan, memanfaatkan energi baru terbarukan, serta mengadakan Eduwisata Rumah Tani sehingga dapat menekan biaya produksi sekaligus menjaga kelestarian alam.
Dorong generasi muda suka pertanian
Tidak hanya itu, komunitas petani juga menginisiasi Program Eduwisata Rumah Tani, mendidik anak-anak mulai dari tingkat SD, SMP, SMA bahkan universitas untuk mempelajari bidang pertanian dengan menyenangkan.
Program ini menjadi solusi untuk menarik generasi muda untuk dapat melanjutkan profesi tersebut.
“Film ini mengangkat tentang kisah Kelompok Tani Mulyo 1 yang menyelesaikan tiga permasalahan tersebut,” ucapnya.
Melalui film ini, Aru berpesan bahwa nasi dan bahan makanan yang dikonsumsi tidak hadir begitu saja tetapi lahir dari kerja keras para petani sehingga profesi tersebut harus terus dilanjutkan.
Kondisi ekosistem
Untuk mengembalikan minat generasi muda terhadap pertanian sehingga petani menjadi profesi yang menghasilkan dan mensejahterakan.
Oleh karena itu, ia menyebarluaskan metode yang sudah dilaksanakan pada satu kelompok tani untuk dapat dilaksanakan oleh kelompok yang lain.
Aru menambahkan dengan adanya film ini dapat memberikan informasi baru kepada petani, akademisi, dan masyarakat umum dapat mengadopsi sistem yang telah dijalankan Kelompok Mulyo 1 untuk keberlanjutan pertanian.
Mereka bisa menerapkan sistem dengan menyesuaikan kondisi ekosistem di masing-masing daerah.
Tiga kategori utama
“Harapannya, film ini bisa menjadi jembatan penghubung antara petani, akademisi, dan masyarakat umum terkait pertanian di Indonesia,” tuturnya.
Kompetisi Inspiring Asia Micro Film Festival menghadirkan tiga kategori utama yaitu Best Project Award, Best Micro Film Award, dan Best AI Film Award.
Capaian yang diraih Aru melalui film ini menjadi bukti nyata bahwa karya ilmiah dan karya seni dapat berjalan berdampingan, sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa UGM mampu berkontribusi pada isu-isu global melalui media yang kreatif, inovatif, dan berdampak luas. (AGT/M-01)






