Kejati Jabar Tunjuk 4 Jaksa untuk Tangani Kasus Dokter PA

KEJAKSAAN Tinggi Jawa Barat resmi menunjuk empat orang jaksa penyidik dalam perkara dugaan kekerasan seksual yang dilakukan dokter residen dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung bernama Priguna Anugerah (PA).

“Kejati sudah memerintahkan empat jaksa menangani perkara ini. Kami sudah terima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan atau SPDP dari penyidik Reskrim Polda Jabar soal perkara ini pada 26 Maret 2025, dengan sangkaan pasal 6 UU no 12 tahun 2022 tentang tindak pidana kekerasan seksual. Berikutnya, berkas itu akan diteliti para jaksa tadi,” jelas Kepala Seksi Penerangan Hukum (Kasipenkum) Kejati Jabar, Nur Sricahyawijaya, Rabu (16/4).

Sebelumnya diberitakan bahwa tersangka PA melakukan aksinya dengan modus membawa korban ke ruangan gedung MCHC lantai 7. Dalihnya adalah mengambil darah untuk ditransfusikan ke ayah korban yang tengah kritis.

BACA JUGA  Menjaga Tradisi sambil Mengedukasi Lewat Engkle Rancage

Namun, korban justru dibius dengan 15 kali suntikan. Nahasnya, ayah korban sudah meninggal dunia. Sejumlah pihak pun telah mengutuk dan mengecam terhadap aksi pelaku.

Sudah berkoordinasi

Sementara itu, Direskrimum Polda Jabar, mengaku sudah berkoordinasi dengan kejaksaan, terkait penanganan kasus pemerkosaan keluarga pasien di RSHS.
Koordinasi itu berkaitan pasal yang hendak diterapkan ke pelaku PA lantaran perbuatannya berulang.

“Saat ini total korbannya sudah tiga orang. Kami masih terus melakukan penyelidikan lebih lanjut seperti memeriksa sejumlah saksi dan menunggu hasil DNA dari Pusat Laboratorium Forensik Polri untuk menguatkan proses penyidikan ini,” papar Dirkrimum Polda Jabar, Kombes Surawan.

Menurut Surawan, hasil DNA itu guna mendapatkan bukti bahwa pelaku melakukan pemerkosaan ke tiga korban secara scientific. Selain itu, tes psikologi pada pelaku akan terus dilakukan guna mengetahui kondisi kejiwaannya.

BACA JUGA  Unpad Ungkap Joki Terdaftar Mengikuti UTBK  

“Saat ini kondisi korban masih pusing dan dalam pemulihan kesehatan. Sementara tes psikologi terhadap pelaku merupakan bagian dari penyidikan dan tidak akan meringankan hukuman kepada korban,” beber Surawan. (Rava/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

  • Hukum
  • September 30, 2026
Kejaksaan Tinggi DIY Tahan Dua Petinggi BUKP Tegalrejo Kota Yogyakarta

SETELAH memeriksa lebih dari 20 saksi dan keterangan dari Inspektorat Daerah Istimewa Yogyakarta, Kejaksaan Tinggi DIY akhirnya menahan dua petinggi BUKP (Badan Usaha Kredit Pedesaan) Kemantren Tegalrejo, Kota Yogyakarta, berinisial…

Ganda Putra Leo/Daniel Tambah Medali Emas untuk Indonesia

GANDA putra Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin berhasil menyumbang medali emas kedua dari cabang bulu tangkis untuk kontingen Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Medali emas itu direbut Leo/Daniel setelah mengalahkan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Vikram Sinha Kembali Jabat Presiden Direktur dan CEO PT Indosat Tbk

  • September 30, 2026
Vikram Sinha Kembali Jabat Presiden Direktur dan CEO PT Indosat Tbk

Panen Jagung di Lima Desa Binaan Imigrasi di Gunungkidul

  • September 30, 2026
Panen Jagung di Lima Desa Binaan Imigrasi di Gunungkidul

Kejaksaan Tinggi DIY Tahan Dua Petinggi BUKP Tegalrejo Kota Yogyakarta

  • September 30, 2026
Kejaksaan Tinggi DIY Tahan Dua Petinggi BUKP Tegalrejo Kota Yogyakarta

Persaingan FIFA ASEAN Cup 2026 kian Ketat, Erick Thohir Peringatkan Timnas Indonesia Tak Boleh Anggap Remeh Lawan

  • September 30, 2026
Persaingan FIFA ASEAN Cup 2026 kian Ketat, Erick Thohir Peringatkan Timnas  Indonesia Tak Boleh Anggap Remeh Lawan

Nowela dan Suara 5 Gemakan Semangat Kebangsaan di Laga Timnas Indonesia vs Malaysia

  • September 30, 2026
Nowela dan Suara 5 Gemakan Semangat Kebangsaan di Laga Timnas Indonesia vs Malaysia

10 Pemain Skuad Garuda Tahan Malaysia, Indra Sjafri Ungkap Sistem Pertahanan Masih Punya PR

  • September 30, 2026
10 Pemain Skuad Garuda Tahan Malaysia, Indra Sjafri Ungkap  Sistem Pertahanan Masih Punya PR