Indonesia Tengah Hadapi Deindustrialisasi

EKONOM Mari Elka Pangestu mengingatkan Indonesia saat ini tengah menghadapi kondisi deindustrialisasi.

Kondisi sektor industri atau manufaktur yang menurun drastis ini dapat dilihat dari banyaknya pabrik manufaktur yang tutup dan badai PHK yang terjadi di banyak tempat.

Padahal sektor industri, investasi dan ekspor berperan penting dalam menumbuhkan ekonomi nasional.

Apabila tidak bisa diatasi, kondisi industrialisasi berpotensi menimbulkan dampak negatif seperti peningkatan jumlah pengangguran dan kemiskinan dan menimbulkan masalah sosial.

Mari Elka Pangestu menyampaikan itu dalam Kuliah Bestari Spesial Ramadhan Refleksi dan Solusi yang bertajuk Liberalisasi Perdagangan, Kran Impor dan Dampak Deindustrialisasi di Kampus UGM secara daring di Youtube UGM, Jumat (21/3).

Kuliah Bestari yang diselenggarakan Dewan guru Besar UGM ini menghadirkan beberapa orang pembicara. Di antaranya Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan Internasional dan Kerja Sama, Mari Elka Pangestu.

Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) RI, Arief Anshory Yusuf, Ekonom sekaligus Rektor Universitas Paramadina Didik Junaidi Rachbini dan peneliti ISEAS Singapore,Yanuar Nugroho.

BACA JUGA  Perekonomian RI Tumbuh Lewat Program MBG dan 3 Juta Rumah

Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan Internasional dan Kerja Sama itu mengatakan Indonesia tengah menghadapi dampak dinamika ekonomi global.

“Ada perubahan-perubahan yang terjadi secara global dan berdampak pada penyesuaian kebijakan di tingkat nasional,” kata Mari Elka Pangestu.

Mari menyebut beberapa kondisi perubahan global yang berdampak pada ekonomi tersebut yakni peperangan di Timur Tengah, Ukraina-Rusia, dan konflik di Laut Cina Selatan.

Hingga pelantikan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat juga disebut turut berperan dalam perang dagang dan meningkatnya beban tarif.

“Pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat terganggu dan inflasi akan lebih tinggi sebab kenaikan tarif sehingga tingkat suku bunga lebih tinggi,” jelasnya.

Kondisi ini menurutnya menjadikan instrumen kebijakan yang bisa dilakukan akan terbatas untuk menstimulasi pertumbuhan. Sedangkan dari APBN yang mengalami efisiensi dan realokasi akan menyebabkan ruang untuk pemberian stimulasi juga akan terbatas.

Namun begitu, penurunan ekonomi di Amerika Serikat dapat ditangkap menjadi peluang dari relokasi investasi. Bila ingin tercapai, perlu dilakukan upaya penguatan ekonomi hingga mencapai angka 6-7%.

BACA JUGA  Tim Panahan Putri Indonesia Terhenti di Perempat Final

Kita perlu pertumbuhan ekonomi 6% atau 7%. Negara juga perlu menghindari gejolak dan menjaga kepercayaan agar mencegah kerentanan arus keluar modal dan iklim usaha,” paparnya.

Anggota DEN Arief Anshory Yusuf menambahkan kondisi deindustrialisasi tengah menyongsong Indonesia.

“Deindustrialisasi ini hal yang wajar, tetapi dapat menjadi masalah saat terjadi secara prematur,” sebut Dosen di Universitas Padjajaran ini.

Permasalahan terjadi ketika tidak ada momentum untuk tumbuh lebih tinggi. Saat ini Indonesia dilihat dari sisi tingkat pendapatan masih dapat mengalami industrialisasi.

Namun dari tingkat pekerjaan Indonesia hampir melewati momentum tersebut. Hal ini dapat berdampak pada tidak adanya lapangan pekerjaan.

Misalnya pada program hilirisasi fokus di sektor padat sumber daya alam bisa menjadi jebakan penurunan penyerapan tenaga kerja.

Deindustrialisasi dan solusinya

Lalu apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi dilema liberasi perdagangan dan deindustrialisasi? Ekonom sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik Junaidi Rachbini, menyebut jawabannya adalah outward looking.

BACA JUGA  Pemerintah Harus Serius Tangani Masalah PHK Massal

Ia mencontohkan dengan model pembangunan industri angsa terbang atau flying geese model of industrialization yang menunjukkan 40 tahun yang lalu Jepang memimpin gerakan industrialisasi.

Indonesia saat itu memiliki pendapatan di atas China. Namun, hal itu kini berubah dengan China yang bahkan memimpin industri global. Vietnam pun mengungguli Indonesia.

“Kuncinya ada pada industri. Sekalipun ekonomi tumbuh 8%, tetapi industri hanya berkembang 3-4% dan banyak perdagangan sektor informal maka kemungkinan akan susah,” paparnya.

Sedangkan Yanuar Nugroho, menyebut angka pengangguran Indonesia sebenarnya mengalami perbaikan, tetapi muncul tren negatif pada awal tahun 2025.

Kasus pengangguran struktural memunculkan implikasi sosial seperti kemiskinan, kesenjangan sosial yang semakin melebar dan penurunan kesejahteraan dan kualitas hidup. (AGT/S-01)

Siswantini Suryandari

Related Posts

Dorong Logistik Berkelanjutan, Angkutan Kontainer Bidik Pertumbuhan 8,5%

PENGEMBANGAN layanan logistik ramah lingkungan atau green freight service menjadi strategi baru untuk memperkuat pertumbuhan bisnis angkutan kereta api kontainer. Selain meningkatkan daya saing bisnis, inisiatif ini diarahkan untuk mendorong…

Diversifikasi Bisnis, Kalog Kembangkan Pergudangan di Bandung dan Purwokerto

KAI Logistik (Kalog) melakukan diversifikasi bisnis melalui pengembangan dua pergudangan di Bandung dan Purwokerto yang ditargetkan rampung pada akhir 2026. Hal itu merupakan langkah perusahaan dalam memperluas portofolio bisnis sekaligus…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Jadwal Piala Asia 2027 Resmi Diundur Jadi Desember Tahun Depan

  • November 3, 2026
Jadwal Piala Asia 2027 Resmi Diundur Jadi Desember Tahun Depan

Terbukti Lakukan Penyadapan Ilegal, Listyo Sigit dkk Terancam Hukuman 10 Tahun

  • November 3, 2026
Terbukti Lakukan Penyadapan Ilegal,  Listyo Sigit dkk Terancam Hukuman 10 Tahun

Polri Tetapkan LSP, ASN, EH Jadi Tersangka Penyadapan Ilegal

  • November 3, 2026
Polri Tetapkan LSP, ASN, EH Jadi Tersangka Penyadapan Ilegal

Dorong Logistik Berkelanjutan, Angkutan Kontainer Bidik Pertumbuhan 8,5%

  • November 3, 2026
Dorong Logistik Berkelanjutan, Angkutan Kontainer Bidik Pertumbuhan 8,5%

Heboh Anggota TNI Pangkat Kopral Beratribut Jenderal, Dandim 0816 Sidoarjo Beri Penjelasan 

  • November 3, 2026
Heboh Anggota TNI Pangkat Kopral Beratribut Jenderal, Dandim 0816 Sidoarjo Beri Penjelasan 

Diversifikasi Bisnis, Kalog Kembangkan Pergudangan di Bandung dan Purwokerto

  • November 3, 2026
Diversifikasi Bisnis, Kalog Kembangkan Pergudangan di Bandung dan Purwokerto