Bernostalgia Sambil Menikmati Seni dalam Pameran Lukisan Bertajuk Oldiest

  • Pentas
  • September 15, 2024
  • 0 Comments

PAMERAN lukisan bertajuk Oldies yang akan digelar di Monumen Jogja Kembali (Monjali) pada 17-30 September akan memajang karya 55 perupa.

Pameran ini menampilkan karya-karya orang yang selama ini memiliki reputasi. Yang pertama, sosok yang membuka pameran lukisan dengan 55 perupa ini adalah seorang bintang dua kepolisian bergelar profesor Prof. Dr. Irjen Pol Chryshnanda Dwilaksana.

Chryshnanda adalah jenderal yang seniman.Yang kedua, yakni para pendidik yang bergelar profesor. Ada Prof.  Dr. Trie Hartiti Retnowati, dan Prof Dr I Wayan Suardana dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Tema Oldies sebenarnya bisa dimaknai dalam dua sisi. Pertama, dimaksudkan merujuk pada nostalgia terhadap masa lalu, khususnya era 50-an hingga 70-an. Kedua, bisa pula merujuk pada para perupa peserta yang usianya sudah  berumur.

BACA JUGA  Prabowo Ajak Ridwan Kamil Makan Malam di Restoran Garuda

Para perupa ingin menghidupkan kembali semangat kreativitas, merangsang para seniman untuk bereksplorasi dan menghasilkan karya-karya seni.

Kurator Pameran Dr. Hadjar Pamadhi mengungkap pameran karya seni Oldies ini seperti lagu-lagu yang terhimpun dalam Golden Oldies Indonesia tahun 1950-1960 seperti Chrisye, Nike Ardila, Rhoma Irama, Achmad Albar, Benyamin dan yang lain-lain.

“Itulah dunia oldies lagu, maka serasa lagu Oldies Seni Rupa; karya-karya yang masuk sebagai imajinasi perupa adalah dunia realis,” ungkap Hadjar Pamadhi, seorang sebagai pelukis Rajah.

Para perupa Oldies ini,  menerjemahkan dunia realis menjadi realisme semu, realisme sosial, bahkan surealisme. Para perupa ini merepresentasikan menjadi dua kategori: seni representasional dan nonrepresentasional.

BACA JUGA  Imifest 2024 Berikan Layanan Pembuatan 1000 Paspor

Juragan Erwan dalam tulisan pengantar pameran menuliskan fantasi dan imajinasi para perupa dalam berkarya pun banyak yang mengarah pada upaya reflektif masa lalu, dan mengungkap isu-isu sosial yang relevan dengan konteks masa kini.

Ada pula yang mengangkat lawasan, sesuatu yang kuno, yang old.Upaya reflektif masa lalu diangkat oleh Christina Anggriyani (Siapakah Aku Ini), Dwi Retno Sri Ambarwati (Wanita Penjaga Kehidupan), Andaru Priyoko (Narima ing Pandum) dan Erwan Widyarto (Menjalani Takdir).

Sedangkan tema lawasan terlihat pada Bank Indonesia Jogja karya Agus Winarto. Atau I Will Survive karya Agung Suhastono yang memvisualkan sepeda onta.

Jika oldies adalah masa lalu, lawan dari kontemporer atau kekinian, maka banyak perupa yang mengangkat soal masa lalu seperti tarian, tokoh wayang maupun kehidupan sosial jual beli pasar tradisional. (AGT/N-01)

BACA JUGA  228 Stand Ramaikan Pameran Hari Jadi Jateng

Dimitry Ramadan

Related Posts

Ketika Del Toro Membuat Frankenstein Lebih Manusiawi

ENTAH sudah berapa ratus film Frankenstein dibuat. Menurut catatan Ensiklopedia, adaptasi pertama kali dirilis pada 1910 silam, sementara beberapa versi terkenal meliputi serial film dari Universal Pictures dan film-film modern…

Tari Daun dan Tari Pusaka 4 Keraton Mataram Islam Warnai Solo Menari

PEMERINTAH Kota Solo dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta memeriahkan perayaan Hari Tari Dunia 2025 dengan menampilkan berbagai kreasi menari selama 24 jam yang melibatkan ribuan penari pada Selasa (29/4/2025).…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Neraca Perdagangan Jabar Surplus, Ekspor Capai US$3,14 Miliar

  • March 3, 2026
Neraca Perdagangan Jabar Surplus, Ekspor Capai US$3,14 Miliar

Kadin Kota Tasikmalaya Gandeng Sandiaga Gelar Training Center

  • March 2, 2026
Kadin Kota Tasikmalaya Gandeng Sandiaga Gelar Training Center

Kalog Bidik Pendapatan Rp 2,47 Triliun pada 2026

  • March 2, 2026
Kalog Bidik Pendapatan Rp 2,47 Triliun pada  2026

Pemkot Bandung Beri Insentif PBB 2026

  • March 2, 2026
Pemkot Bandung Beri Insentif PBB 2026

Resmikan Balai Desa di Aceh, UGM Fokus Pemulihan Pascabencana

  • March 2, 2026
Resmikan Balai Desa di Aceh, UGM Fokus Pemulihan Pascabencana

UGM Kritik Keputusan Pemerintah Tanda Tangani ART dengan AS

  • March 2, 2026
UGM Kritik Keputusan Pemerintah Tanda Tangani ART dengan AS