
UNIVERSITAS Pendidikan Indonesia (UPI) menyiapkan hingga 1.000 dosis vaksin Human Papillomavirus (HPV) bagi perempuan dalam rangkaian Dies Natalis ke-72.
Program itu menjadi bagian dari upaya memperluas akses vaksinasi sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan kanker serviks sejak dini.
Wakil Rektor Bidang Sumber Daya dan Sistem Informasi UPI Tri Indri Hardini menyatakan, vaksinasi tersebut menyasar perempuan dari berbagai kalangan, mulai dari dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, hingga masyarakat umum di sekitar kampus.
Vaksinasi HPV merupakan langkah preventif untuk melindungi kesehatan perempuan. Melalui program ini, UPI juga berupaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pencegahan kanker serviks.
Mengikis keraguan
“Karena ternyata vaksin HPV ini sangat bermanfaat, terutama bagi perempuan. Memang untuk acara kali ini kita fokuskan hanya untuk perempuan, kaitannya dengan mencegah kanker serviks.”
“Untuk pelaksanaannya direncanakan berlangsung dalam tiga tahap. Dosis pertama diberikan pada Oktober, dilanjutkan dosis kedua pada Januari dan dosis ketiga pada April” paparnya.
Tri berharap program tersebut tidak hanya memperluas akses vaksinasi, tetapi juga mengikis keraguan masyarakat terhadap vaksin melalui edukasi yang memadai.
“Sehat itu kan investasi. Jadi kita jangan berpikir saat sehat, karena kadang ada rasa takut atau keraguan setelah pengalaman vaksin sebelumnya. Tapi alhamdulillah setelah ada edukasi dan pemahaman, antusiasme masyarakat mulai terlihat,” tuturnya.
Pemkot Bandung Bidik Cakupan 97%
Upaya pencegahan kanker serviks juga diperkuat Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, melalui Dinas Kesehatan (Dinkes). Kepala Dinkes Kota Bandung, Sony Adam, menyebut vaksinasi HPV sebagai salah satu langkah penting untuk menekan risiko kanker serviks.
Pemkot Bandung menargetkan cakupan vaksinasi HPV bagi perempuan mencapai 97%. Program pemerintah tersebut terutama menyasar anak perempuan usia sekolah, khususnya siswi kelas V sekolah dasar (SD).
“Vaksinasi perlu disertai edukasi agar masyarakat memahami manfaat perlindungan kesehatan sejak dini dan tidak mengabaikan langkah pencegahan.
Selain pemahaman masyarakat, keterjangkauan biaya menjadi faktor penting dalam memperluas akses vaksinasi HPV. Untuk layanan mandiri di rumah sakit, harga vaksin dapat mencapai Rp1,2 juta per dosis,” paparnya.
Subsidi pemerintah
Namun kata Sony, melalui dukungan subsidi pemerintah pusat dan korporasi, biaya vaksinasi dapat ditekan menjadi Rp290.000 per dosis. “Kalau normal itu harganya bisa mencapai Rp1.200.000 per dosis. Melalui subsidi ini, harganya menjadi Rp290.000 per dosis,” terangnya.
Kolaborasi UPI dan Pemkot Bandung diharapkan dapat memperluas jangkauan vaksinasi sekaligus memperkuat edukasi kesehatan di lingkungan kampus dan masyarakat.
Melalui kemudahan akses serta peningkatan pemahaman, semakin banyak perempuan diharapkan dapat memanfaatkan layanan pencegahan kanker serviks melalui vaksinasi HPV sesuai rekomendasi medis. (zahra/A-01)








