
KEPALA Stsiun Klimatologi Yogyakarta Mamenun, mengungkapkan awal musim hujan 2026/2027 diprediksi terjadi pada dasarian III November 2026 sebanyak 2 ZOM (25%), dasarian Desember I 2026 sebanyak 3 ZOM (37.5%), dan dasarian II Desember 2026 sebanyak 3 ZOM (37.5%).
Ia mengatakan perbandingan prediksi awal musim hujan 2026/2027 terhadap normal (periode 1991-2020) seluruhnya mundur sekurangnya 3 dasarian (100%) dari rata-ratanya.
“Durasi musim hujan 2026/2027 di DIY diprediksi antara 13 – 15 dasarian sebanyak sebanyak 7 ZOM (87.5%) dan 16 – 18 dasarian sebanyak 1 ZOM (12.5%),” kata Mamenun, Minggu.
Ditambahkan perbandingan durasi musim hujan 2026/2027 terhadap normalnya (1991 – 2020 ) diprediksi seluruh wilayah DIY lebih pendek setidaknya 3 dasarian (100%).
Puncak musim hujan
Sedangkan puncak musim hujan 2026/2027 diprediksi terjadi pada bulan Februari 2027 sebanyak 4 ZOM (50 %) dan bulan Maret 2027 sebanyak 4 ZOM (50 %).
Dijelaskan perbandingan puncak musim hujan 2026/2027 terhadap normalnya (1991 – 2020) umumnya diprediksi sama terhadap normalnya sebanyak 4 ZOM (50%), mundur 1 bulan dari normalnya sebanyak 3 ZOM (37.5%).
Jumlah curah hujan musim hujan 2026/2027 ujarnya diprediksi berkisar antara 1001 – 2000 mm.
Menurut dia, sifat hujan musim hujan 2026/2027 diprediksi Bawah Normal sebanyak 2 ZOM (25 %), Normal sebanyak 5 ZOM (62.5 %), dan Atas Normal sebanyak 1 ZOM (12.5 %).
Akhir musim hujan
Akhir musim hujan 2026/2027 di DIY diprediksi pada dasarian I April 2027 sebanyak 3 ZOM ( 37.5% ), dasarian II April 2027 sebanyak 1 ZOM (12.5%); dan dasarian III April sebanyak 4 ZOM (50%).
Pada kesempatan itu Mamenun mengimbau pemerintah daerah, institusi terkait dan seluruh masyarakat untuk tetap waspada terhadap kekeringan, kebakaran hutan/lahan, dan kondisi kualitas udara yang buruk akibat mundurnya awal musim hujan.
“Meningkatkan kewaspadaan pada masa peralihan/akhir musim kemarau yang ditandai dengan cuaca ekstrim, seperti hujan lebat, petir, angin kencang, putting beliung dan hujan es,” katanya.
Langkah lainnya yang disarankan adalah melakukan langkah mitigasi antara lain membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon yang berisiko tumbang, serta memastikan struktur bangunan dan baliho dalam kondisi kuat guna mengurangi potensi dampak cuaca ekstrem selama masa peralihan musim.
Langkah antisipatif
Selainitu juga diminta untuk lebih siap dan antisipatif terhadap dampak puncak musim hujan, khususnya di wilayah rawan banjir, tanah longsor, angin kencang, serta bencana hidrometeorologi lainnya.
Mamenun menambahkan, berdasar pengamatan gejala fisis dan data dinamika atmosfer-laut terkini menunjukkan angin di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator bertiup dari timur mengindikasikan Monsun Australia aktif dan Indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) dalam fase sangat kuat.
Menurut dia, dengan data tersebut fenomena El Nino berpeluang terjadi hingga awal tahun 2027.Selain itu, jelasnya Dipole Mode Indeks (DMI) berada dalam fase positif dan berpeluang terjadi sampai dengan awal tahun 2027.
“Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksi tidak aktif di wilayah Indonesia,” ujarnya.
Kategori rendah
Menurut Mamenun analisis anomali suhu muka air laut di perairan selatan DIY antara -0.5°C sampai dengan +0.5°C atau dalam kategori netral, dengan suhu berkisar antara 26°C s.d. 30°C.
Ia mengungkapkan prediksi hujan dasarian- Curah hujan dasarian II Oktober 2026 (tanggal 11 sampai dengan 20) diprediksi dalam kategori rendah berkisar antara 0 – 20 milimeter per dasarian dengan sifat hujan seluruhnya Bawah Normal (BN).
Curah hujan dasarian III Oktober 2026 (tanggal 21 sampai dengan 31) diprediksi dalam kategori rendah berkisar antara 0 – 50 milimeter per dasarian dengan sifat hujan seluruhnya Bawah Normal (BN).
Curah hujan dasarian I November 2026 (tanggal 1 sampai dengan 10) diprediksi dalam kategori rendah antara 10 – 50 milimeter per dasarian dengan sifat hujan seluruhnya Bawah Normal (BN).
Peringatan dini kekeringan
Mamenun menegaskan, Stasiun Klimatologi Kelas II Yogyakarta mengeluarkan peringatan dini kekeringan meteorologis DIY pada Dasarian II Oktober 2026 berada dalam status Awas di seluruh wilayah DIY.
Dalam tiga bulan ke depan, jelasnya curah hujan di wilayah DIY diprediksi Curah hujan bulan November 2026 berkisar 51 – 300 milimeter per bulan (kriteria rendah) dengan sifat hujan seluruhnya Bawah Normal (BN).
“Curah hujan bulan Desember 2026 diprediksi berkisar 151 – 500 milimeter per bulan (kriteria rendah) dengan sifat hujan Bawah Normal (BN) – Atas Normal (AN). (AGT/A-01)






