
GANDA putra Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri berhasil menjuarai Denmark Open 2026. Kesuksesan itu didapat Fajar/Fikri setelah mengalahkan pasangan Malaysia Aaron Chia/Soh Wooi Yik dua gim langsung 21-8, 21-11 pada babak final di SJF Arena, Odense, Denmark, Minggu.
Fajar/Fikri tampil dominan sejak awal pertandingan dan hanya membutuhkan waktu 31 menit untuk memastikan gelar juara turnamen level BWF World Tour Super 750 tersebut.
Pada gim pertama, pasangan Indonesia langsung mengambil kendali permainan dengan unggul 8-1. Fajar/Fikri terus menekan hingga memimpin 11-3 pada interval dan memperlebar keunggulan menjadi 19-8 sebelum menutup gim pertama dengan skor 21-8 dalam waktu 11 menit.
Memasuki gim kedua, Aaron/Soh berusaha memberikan perlawanan dengan mengawali permainan melalui keunggulan 4-0. Namun, Fajar/Fikri mampu bangkit dan menyamakan kedudukan menjadi 4-4.
Manfaatkan challenge
Fajar/Fikri kemudian memanfaatkan keberhasilan challenge untuk berbalik unggul 5-4 dan memperlebar jarak menjadi 6-4. Reli panjang berikutnya kembali menjadi milik pasangan Indonesia yang mencatatkan tujuh poin beruntun untuk memimpin 7- 4
Keunggulan tersebut terus dipertahankan Fajar/Fikri melalui permainan agresif dan pertahanan solid. Mereka memimpin 17-9 sebelum pasangan Malaysia menambah dua poin untuk memperkecil ketertinggalan.
Fajar/Fikri kembali menjauh setelah pertahanan apik Fajar menghasilkan poin ke-19. Kesalahan kontrol dari pasangan Malaysia kemudian membawa Indonesia unggul 20-11 sekaligus memperoleh championship point.
Pasangan Indonesia akhirnya memastikan kemenangan 21-11 setelah pengembalian servis ganda Malaysia gagal melewati net, sekaligus mengunci gelar juara Denmark Open 2026. Gelar tersebut menjadi gelar ketiga Fajar/Fikri tahun ini.
Jadi motivasi
“Senang kami bisa menjuarai Denmark Open. Semoga menjadi awal untuk prestasi kami ke depannya, jadi motivasi dan percaya diri lebih meningkat. Kekalahan di Asian Games kemarin memacu kami berdua untuk mencapai hasil yang terbaik lagi,” ujar Fajar.
“Kami sudah sangat sering bertemu Aaron/Soh bahkan sejak sebelum kami berpasangan jadi sudah tahulah kelemahan dan kelebihan masing-masing. Shuttlecock sangat kencang lajunya jadi kami tidak mau bermain bertahan, kami dari awal selalu menekan, selalu bermain menyerang jadi lawan juga tidak bisa berkembang,” lanjutnya
“Seperti kata Fajar, ini obat atas kegagalan kami di Asian Games lalu. Tapi kami tidak boleh cepat puas juga,” timpal Fikri. (*/N-01)






