
MANTAN Wali Kota New York Rudy Giuliani dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami kecelakaan lalu lintas di New Hampshire, Sabtu (31/8) malam waktu setempat. Mobil yang ditumpanginya ditabrak dari belakang dengan kecepatan tinggi.
Juru bicara Giuliani, Michael Ragusa, mengatakan bahwa Giuliani menderita patah tulang belakang bagian dada, sejumlah luka robek dan memar, serta cedera pada lengan kiri dan kaki bagian bawah. Meski begitu, kondisinya dilaporkan tidak mengancam nyawa.
Menurut Kepolisian Negara Bagian New Hampshire, kecelakaan terjadi di Interstate 93. Saat itu, mobil Honda yang dikemudikan perempuan berusia 19 tahun, Lauren Kemp, menabrak bagian belakang mobil Ford yang ditumpangi Giuliani dan dikemudikan rekannya, Ted Goodman. Kedua kendaraan mengalami kerusakan parah. Giuliani, Goodman, dan Kemp sama-sama dilarikan ke rumah sakit.
Ragusa menambahkan, sebelum kecelakaan, Giuliani sempat menolong seorang perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga. Ia memanggil layanan darurat 911 dan mendampingi korban hingga polisi tiba di lokasi. Pihak Giuliani menegaskan kecelakaan ini bukan serangan yang ditargetkan.
Rudy Giuliani pernah jadi timses Donald Trump
Putra Giuliani, Andrew Giuliani—yang kini menjabat Kepala Satuan Tugas Piala Dunia FIFA 2026 di Gedung Putih—menyampaikan terima kasih atas doa dan perhatian publik. “Sebagai seorang anak, saya bangga memiliki ayah yang menurut saya adalah orang paling tangguh yang pernah saya kenal!” tulisnya di media sosial.
Giuliani dikenal publik sejak era 1980–1990-an sebagai jaksa federal sekaligus Wali Kota New York. Setelah menjabat dua periode, ia mencoba masuk ke politik nasional, termasuk mencalonkan diri sebagai presiden pada 2008. Belakangan, Giuliani menjadi penasihat dekat Donald Trump selama masa jabatan pertamanya, sekaligus salah satu tokoh yang menyebarkan teori konspirasi terkait hasil pemilu 2020.
Namun, reputasinya merosot setelah dicabut izin praktik hukumnya di New York dan Washington, D.C., serta dinyatakan bangkrut usai diwajibkan membayar ganti rugi sebesar 146 juta dolar AS akibat menyebarkan fitnah terhadap petugas pemilu di Georgia. (*/S-01)








