Ketika Pohon tak lagi Efektif Jadi Penyejuk Kota

SELAMA ini keberadaan pohon dianggap bukan sekadar penghias, melainkan juga penyejuk. Hal itu lantaran kemampuan pohon dalam mengeluarkan oksigen dan menyerap polusi udara.

Tidak berlebihan jika banyak kota di dunia yang menanami pohon di tepi-tepi jalan atau di tengah jalan untuk menjadi penyejuk.

Namun dalam enelitian terbaru mengungkap bahwa tutupan pohon di banyak kota dunia tidak cukup untuk menurunkan suhu perkotaan. Hal itu karena pemanasan global yang memicu cuaca panas ekstrem di banyak negara, termasuk negara-negara berkembang. Ditambah lagi dengan masih terbatasnya ruang terbuka hijau.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications menunjukkan, secara rata-rata tutupan pohon hanya mampu menurunkan suhu sekitar 0,15 derajat Celsius di kota-kota dunia. Sementara tanpa pohon, suhu kawasan perkotaan meningkat sekitar 0,31 derajat Celsius akibat fenomena urban heat.

Ancam kesehatan

Penanaman pohon di atap biasanya untuk meredam panas. (Dok/MN)

Cuaca panas di perkotaan disebut sedikit banyak akibat atap dan trotoar berwarna gelap yang menyerap panas. Selain itu peneliti juga menganalisa bahwa hampir 9.000 kota besar dengan detail hingga per segmen 150 blok kota.

BACA JUGA  Telkom University Berkomitmen Tangani Kenaikan Air Laut

Pendekatan itu dilakukan agar efek pendinginan pohon bisa diukur lebih akurat di tiap wilayah perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak kota miskin dan panas justru hampir tidak mendapatkan efek pendinginan tersebut.

Ketua riset Nature Conservancy, Rob McDonald mengatakan, panas perkotaan menjadi ancaman serius bagi kesehatan karena dapat memicu gangguan otak, gagal organ, hingga penyakit jantung.

“Ketika anda melihat kota-kota di seluruh dunia, banyak sekali kota, terutama di negara berkembang, yang tutupan pohonnya sangat sedikit, jadi saya kira suhu dingin juga lebih rendah dari yang kami perkirakan,” kata McDonald.

Perbandingan kota dan pedesaan

Penanaman pohon di pinggir jalan dilakukan untuk meredam panas. (Dok/MN)

Para ilmuwan menggunakan kombinasi data stasiun cuaca, satelit, dan model komputer untuk membandingkan suhu pusat kota dan pedesaan dalam mengukur efektivitas pendinginan dari tutupan pohon.

BACA JUGA  BMKG Andalkan AI untuk Prediksi Musim Hujan Lebih Akurat

Di sejumlah kota seperti Dakar, Jeddah, Kuwait City, dan Amman, efek pendinginan pohon disebut hampir tidak terasa. Akibatnya, jutaan warga di kota-kota tersebut tidak memperoleh manfaat pendinginan alami.

Sebaliknya, kota-kota di negara maju seperti Berlin, Atlanta, dan Seattle memperoleh manfaat lebih besar dari ruang hijau perkotaan. Penelitian menunjukkan sekitar 40 persen kota di negara kaya menikmati pendinginan alami dari tutupan pohon, sedangkan di negara miskin hanya sekitar 9 persen.

Ekolog dari King Abdullah University of Science and Technology, Thomas Crowther menilai vegetasi perkotaan akan semakin penting seiring meningkatnya populasi kota. Namun, distribusi pohon yang tidak merata membuat kelompok berpenghasilan rendah menjadi paling rentan terhadap gelombang panas.

Perubahan iklim

Untuk menghindari panas di kota, warga biasanya mencari tempat yang sejuk di daerah pinggiran. (Dok/MN)

McDonald mengatakan, penanaman pohon tetap penting, tetapi memiliki keterbatasan karena kebutuhan lahan dan air. Menurut dia, pohon diperkirakan hanya mampu mengurangi sekitar 20 persen pemanasan perkotaan di masa depan.

BACA JUGA  Masyarakat Diimbau Waspadai Cuaca Panas, Petir dan Banjir Hari ini

“Pohon tidak bisa menyelamatkan kita sepenuhnya dari perubahan iklim. Skenario iklim menunjukkan dunia akan tetap memanas secara drastis, dan kemampuan pohon ada batasnya,” kata McDonald.

Meski begitu, penanaman pohon tetap dinilai penting karena mampu menyerap karbon dioksida. Para ahli bahkan mengusulkan penanaman satu triliun pohon tambahan untuk membantu menyerap emisi karbon global.

Dekan jurusan lingkungan University of Michigan Jonathan Overpeck menegaskan solusi utama tetap berada pada percepatan transisi energi dari bahan bakar fosil menuju energi terbarukan.

“Hanya dengan beralih dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan dan baterai yang kami harapkan dapat menahan perubahan iklim yang menghancurkan planet ini,” ujar Overpeck. (*/N-01)

Dimitry Ramadan

Related Posts

Sandal Pintar Pendeteksi Komplikasi Diabetes

MAHASISWA Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) mengembangkan Glucowrap, sandal pintar yang dirancang untuk membantu mendeteksi lebih awal perubahan kondisi kaki pada…

Inovasi SaClay Mahasiswa UPNVY, Perpanjang Masa Simpan Cabai hingga 15 Hari

PARA petani cabai, sering harus berhadapan degn fluktuasi harga dan kualitas hasil panen, terutama saat panen raya. Kondisi dan kejadian ini, menjadi perhatian serius mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Dekan Fakultas Peternakan UGM Dipercaya Pimpin AAACU

  • September 16, 2026
Dekan Fakultas Peternakan UGM Dipercaya Pimpin AAACU

UIN Sunan Kalijaga Raih Tiga Penghargaan UI GreenMetric

  • September 16, 2026
UIN Sunan Kalijaga Raih Tiga Penghargaan UI GreenMetric

Wagub Jabar Minta Mahasiswa Baru Ikopin Jaga Eksistensi Koperasi

  • September 16, 2026
Wagub Jabar Minta Mahasiswa Baru Ikopin Jaga Eksistensi Koperasi

KPK Tangkap Ketua DPP Golkar dan Presdir Summarecon

  • September 15, 2026
KPK Tangkap Ketua DPP Golkar dan Presdir Summarecon

Aktris Dewasa Jepang Hana Kuraki Meninggal di Usia 25 Tahun

  • September 15, 2026
Aktris Dewasa Jepang Hana Kuraki Meninggal di Usia 25 Tahun

Sekolah Ceria RDP Dukung Psikososial Anak Terdampak Gempa NTT

  • September 15, 2026
Sekolah Ceria RDP Dukung Psikososial Anak Terdampak Gempa NTT