Inflasi di Jabar Terkendali dan Neraca Perdagangan Surplus US$16,63 Miliar

PEREKONOMIAN Jawa Barat ditutup dengan catatan positif pada Agustus. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jabar mencatat laju inflasi bulanan tetap terkendali di angka 0,21 persen

Hal itu ditopang oleh melimpahnya pasokan pangan panen raya yang berhasil menahan gejolak harga akibat puncak musim kemarau.

Kepala BPS Provinsi Jabar Margaretha Ari Anggorowati Selasa (1/9), memaparkan 5 indikator strategis pembangunan ekonomi wilayah, meliputi Indeks Harga Konsumen (IHK), Nilai Tukar Petani (NTP), Pariwisata, Transportasi, serta Ekspor-Impor.

Menurut Ari, perkembangan harga pada Agustus 2026 di Jabar mengalami inflasi sebesar 0,21 persen secara bulanan (month-to-month). Capaian ini membuat tingkat inflasi tahun kalender (year-to-date) mencapai 1,86 persen dan inflasi tahunan (year-on-year), berdiri di angka 3,13 persen.

Inflasi tertinggi

Berdasarkan pantauan di 10 kabupaten/kota inflasi di Jabar seluruhnya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Subang dan Kota Cirebon masing-masing sebesar 0,40 persen. Sedangkan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Majalengka sebesar 0,06 persen.

Kota lainnya yaitu Kota Bogor inflasi sebesar 0,27 persen, Kota Sukabumi inflasi sebesar 0,22 persen, Kota Bandung inflasi sebesar 0,32 persen, Kota Bekasi inflasi sebesar 0,17 persen, Kota Depok inflasi sebesar 0,07 persen, Kota Tasikmlaya inflasi sebesar 0,39 persen, dan Kabupaten Bandung inflasi sebesar 0,32 persen.

“Tekanan inflasi bulanan terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang memberikan andil inflasi terbesar yaitu 0,12 persen. Komoditas utama pendorong inflasi meliputi daging ayam ras, beras, sigaret putih mesin, semangka, dan buncis,” tandasnya.

BACA JUGA  Akhir 2025 Inflasi di Jabar Terkendali dan Perdagangan Surplus

Komoditas pangan

Ari menyebut, kenaikan harga beberapa komoditas pangan seperti beras dan cabai rawit turut dipengaruhi oleh puncak musim kemarau yang melanda seluruh wilayah Jabar.

Meski demikian, pasokan bawang merah dan tomat yang melimpah akibat panen raya di sejumlah daerah berhasil menahan laju inflasi lebih tinggi.

NTP Naik Jadi 119,36

Sementara itu kata Ari, tingkat kesejahteraan petani yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) Jabar pada Agustus 2026 mencatatkan kenaikan 0,27 persen dibandingkan Juli 2026, yaitu dari 119,04 menjadi 119,36.

Kenaikan itu didorong oleh naiknya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 0,41 persen, lebih tinggi dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang tumbuh 0,14 persen.

“Komoditas utama penyumbang kenaikan harga diterima petani adalah gabah dan ayam ras pedaging. Kenaikan harga gabah terjadi karena sebagian besar wilayah belum memasuki masa panen, sementara harga ayam ras pedaging meningkat didorong pemulihan permintaan pasar seiring aktifnya kembali program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan berakhirnya libur sekolah,” tandasnya.

Penaikan harga benih padi

Sejalan dengan NTP, Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) juga mengalami kenaikan 0,29 persen menjadi 124,06.

Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 149,18 naik 0,41 persen, lebih tinggi daripada Indeks Biaya Produksi dan Penambahan Barang Modal (BPPBM) sebesar 120,25 atau naik 0,12 persen.

BACA JUGA  Nilai Tukar Petani DIY Alami Penurunan  Hingga 0,75% pada Juni

“Kenaikan biaya produksi dan barang modal dipicu oleh kenaikan harga benih padi, insektisida, upah membajak, dan bibit ayam ras pedaging. Sehingga diperlukan kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas harga komoditas pupuk dan pestisida di kalangan petani,” imbuhnya.

Sektor Pariwisata: Perjalanan Wisnus
Tembus 130,98 Juta Kumulatif

Statistik pariwisata lanjut Ari,  menunjukkan kinerja positif pada aktivitas wisatawan nusantara (wisnus). Sepanjang bulan Juli 2026, tercatat 18,86 juta perjalanan wisnus di Jabar secara kumulatif (Januari–Juli 2026), total perjalanan wisnus mencapai 130,98 juta perjalanan, atau meningkat 4,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Kawasan Bodebek dan Bandung Raya menjadi destinasi utama yang menyerap 52,32 persen dari total kunjungan. Sedamgkan tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Juli 2026 berada di angka 51,61 persen, naik 0,56 poin dibanding bulan sebelumnya.

“Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang datang langsung via Bandara Kertajati tercatat sebanyak 232 kunjungan pada Juli 2026, yang didominasi oleh warga negara Singapura. Adapun kedatangan WNA melalui Stasiun Kereta Cepat WHOOSH (Tegalluar, Padalarang, Karawang) mencapai 17.945 kunjungan,” pungkasnya.

Transportasi Penumpang dan Barang

Ari menjabarkan, pada moda transportasi udara domestik, jumlah penumpang melayani 1.021 orang pada Juli 2026, atau naik 5,84 persen secara bulanan. Untuk moda angkutan kereta api (DAOP 2 Bandung dan DAOP 3 Cirebon), jumlah penumpang Juli 2026 mencapai 2,46 juta orang atau naik 1,01 persen (m-to-m). Pengguna Kereta Cepat WHOOSH juga tumbuh 8,02 persen secara bulanan dengan volume 288 ribu penumpang.

BACA JUGA  Nilai Tukar Petani di DIY pada Desember 2024 Naik 0,89 Persen

“Kinerja angkutan barang internasional melalui moda udara mencatatkan pertumbuhan pesat sebesar 91,77 persen (m-to-m) menjadi 16,02 ton, seiring dibukanya penerbangan rujukan muat barang baru ke tujuan Kuala Lumpur, Malaysia,” ujarnya.

Perdagangan Luar Negeri: Surplus Neraca Perdagangan US$ 16,63 Miliar

Sedangkan nilai ekspor Jabar, ungkap Ari, pada Juli 2026 mencapai USD 3,98 Miliar, naik 9,62 persen dibandingkan Juni 2026. Peningkatan ini terutama disokong oleh ekspor nonmigas yang memberikan kontribusi dominan (sektor industri pengolahan menyumbang 98,61 persen dari total ekspor).

Secara kumulatif Januari–Juli 2026, total nilai ekspor menyentuh USD 23,58 Miliar.
Di sisi lain, nilai impor pada Juli 2026 tercatat sebesar USD 1,16 Miliar, dengan struktur impor masih didominasi bahan baku/penolong sebesar 80,35 persen. Total nilai impor kumulatif Januari–Juli 2026 berada pada angka USD 6,95 Miliar.

“Dengan demikian, Neraca Perdagangan Jabar sepanjang Januari hingga Juli 2026 mencetak surplus sebesar USD 16,63 Miliar. Negara penyumbang surplus terbesar bagi Jawa Barat adalah Amerika Serikat (USD 3,76 Miliar), Filipina (USD 2,06 Miliar), dan Vietnam (USD 1,23 Miliar),” tutupnya. (zahra/M-01)

Related Posts

Pemprov DIY Berkomitmen Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Jiwa

GUBERNUR DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan keberadaan tiga gedung baru di lingkungan RSJ Ghasia, Pakem, Sleman merupakan satu kesatuan mata rantai pelayanan yang menghubungkan penanganan, pemulihan, hingga kesinambungan…

Mayat Tanpa Identitas Ditemukan di Sungai Code

SESOSOK mayat laki-laki tanpa identitas ditemukan di Sungai Code, tepatnya di bawah jembatan Baru UGM, Gemawang, Sinduadi, Mlati, Sleman pada Selasa sekitar pukul 11.00 WIB. Mayat tersebut pertama kali diketahui…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

UNE Pererat Kerja Sama dengan Fapet UGM

  • September 1, 2026
UNE Pererat Kerja Sama dengan Fapet UGM

Pemprov DIY Berkomitmen Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Jiwa

  • September 1, 2026
Pemprov DIY Berkomitmen Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Jiwa

Inflasi di Jabar Terkendali dan Neraca Perdagangan Surplus US$16,63 Miliar

  • September 1, 2026
Inflasi di Jabar Terkendali dan Neraca Perdagangan Surplus US$16,63 Miliar

Mayat Tanpa Identitas Ditemukan di Sungai Code

  • September 1, 2026
Mayat Tanpa Identitas Ditemukan di Sungai Code

Rayakan HUT ke-17, KAI Logistik Hadirkan Special Rate untuk Shipping Line

  • September 1, 2026
Rayakan HUT ke-17, KAI Logistik Hadirkan Special Rate untuk Shipping Line

Cegah Karhutla, Pemprov Jabar Tutup Sementara Gunung untuk Pendakian

  • September 1, 2026
Cegah Karhutla, Pemprov Jabar Tutup Sementara Gunung untuk Pendakian