
DINAS Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat menyiapkan suntik anti tetanus bagi relawan yang terlibat dalam evakuasi korban tanah longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Kepala Dinkes Jabar, R. Vini Adiani Dewi, mengatakan pemberian anti tetanus penting untuk menjaga kondisi kesehatan relawan, terutama jika mengalami luka akibat benda tajam saat proses evakuasi.
“Kami menyiapkan anti tetanus dalam jumlah banyak. Jadi relawan yang membutuhkan tidak perlu khawatir, kami siap,” ujar Vini, Kamis (29/1).
Selain penyediaan vaksin, Dinkes Jabar juga mengirimkan tim kesehatan ke lokasi serta menyiapkan Fasilitas Kesehatan Tingkat Rujukan Lanjutan (FKTRL) untuk menangani kasus kegawatdaruratan. Rumah sakit rujukan yang disiapkan antara lain RSUD Welas Asih, RSUD Cibabat, RSUD Lembang, dan RS Dustira.
Suntik anti tetanus dukung klaster kesehatan
Menurut Vini, pihaknya bersama Kementerian Kesehatan dan Dinkes KBB turut mengaktifkan Health Emergency Operation Center (HEOC) untuk mendukung klaster kesehatan.
Tim juga melakukan monitoring dan evaluasi posko kesehatan serta memberikan penyuluhan kepada para pengungsi terkait kesehatan selama masa tanggap darurat.
Untuk membantu proses identifikasi korban, Dinkes Jabar bersama Dinkes KBB juga menyiapkan perlengkapan Disaster Victim Identification (DVI), peti jenazah, serta freezer penyimpanan jenazah.
“Kami berharap dukungan ini dapat membantu memperlancar dan mempercepat proses penanggulangan bencana,” katanya.
Pencarian korban berlanjut
Sementara itu, tim SAR gabungan terus melakukan pencarian korban. Hingga Rabu (28/1) pukul 16.00 WIB, sebanyak 53 kantong jenazah telah berhasil dievakuasi. Sebanyak 27 korban lainnya masih dalam pencarian.
Kepala Kantor SAR Bandung, Ade Dian, mengatakan seluruh kantong jenazah telah diserahkan kepada tim DVI Polda Jabar untuk proses identifikasi. Hingga Selasa (27/1) pukul 18.00 WIB, sebanyak 37 korban telah berhasil diidentifikasi.
“Operasi SAR dilakukan dengan mengutamakan keselamatan personel, pengendalian risiko bencana susulan, akurasi dan transparansi data korban, serta sinergi seluruh unsur yang terlibat,” ujarnya. (Rava/S-01)







