
DALAM rangka memperingati Harlah ke-103 Nahdlatul Ulama, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo menggelar kegiatan Ziarah Muassis NU, Sabtu (24/1).
Rombongan Ziarah Muassis NU itu dibagi dalam tiga tim. Mereka awalnya melakukan ziarah bersama di komplek Makam Bupati Sidoarjo yang berada di belakang Masjid Agung Sidoarjo. Setelah itu mereka berpencar menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok selatan, tengah dan barat.
Totalnya ada 18 titik makam yang didatangi untuk ziarah. Kelompok pertama mendatangi makam KH Abdi Manaf di Kloposepuluh, makam KH Imron Hamzah dan KH Sholeh Qosim di Ngelom Sepanjang dan makam HM Hosein Idris di Bebekan. Pada kelompok pertama ini terlihat ada pengasuh Ponpes Al Khoziny KH Abdul Salam Mujib.
Kelompok dua di antaranya mendatangi makam Mbah Ali Mas’ud di Pagerwojo, makam Sono di Buduran, serta makam KH Sahal Mansur dan KH Chludori Amir di Celeb.
Bentuk penghormatan

Adapun kelompok tiga di antaranya mendatangi makam Siwalan Panji, makam KH Anas Al Ayyubi di kawasan Lumpur Lapindo dan makam KH A Sirodj Kholil di kompleks Masjid Kedungcangkring.
Kegiatan yang dimulai sejak Sabtu pagi hingga menjelang sore hari ini menjadi agenda rutin tahunan. Yaitu sebagai bentuk khidmah dan penghormatan kepada para pendiri serta tokoh-tokoh NU yang berjasa membangun organisasi di Kabupaten Sidoarjo.
Sekretaris PCNU Sidoarjo, KH Agus Mahbub Ubaidillah menjelaskan, pembagian kelompok tersebut dilakukan untuk menjangkau seluruh titik makam ulama NU yang tersebar di berbagai wilayah.
Nilai sejarah

Dia menegaskan, ziarah muassis bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga sarana menanamkan nilai sejarah dan perjuangan NU kepada kader.
“Ini bagian dari khidmah kita di NU, menghargai jasa-jasa para leluhur Nahdlatul Ulama yang telah membangun organisasi di Sidoarjo. Kita mengeling-eling, nguri-nguri jasa beliau-beliau agar perjuangannya bisa kita lanjutkan,” kata KH Agus.
Salah satu titik penting ziarah adalah makam KH Hosein Idris, tokoh sentral pendirian NU di wilayah Sidoarjo. Dalam kesempatan tersebut, cucu KH Hosein Idris, H Ahmad Humam, mengungkapkan sejarah awal berdirinya NU di kawasan Sepanjang.
“NU itu berdiri di sini bermula tahun 1928. Waktu itu ada dua santri, Kiai Hamim Syahid dan Kiai Hosein Idris. Mereka dipanggil ke Jombang oleh Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari, lalu diminta kembali ke daerah Sepanjang untuk mendirikan NU,” kata Ahmad Humam.
Ranting pertama

Ia menyebutkan bahwa ranting NU pertama di Indonesia berdiri di wilayah Sepanjang Kecamatan Taman Sidoarjo pada 1928. Namun namanya disebut Kring Bebekan, sesuai nama Desa Bebekan.
“Tahun 1928 berdirilah NU ranting pertama se-Indonesia, namanya Kring Bebekan. Lokasinya dulu ada di rumah sebelah sini,” kata Ahmad Humam.
Ahmad Humam juga menegaskan bahwa ziarah ke makam para pendiri NU di Sidoarjo selalu dilakukan setiap peringatan Harlah NU.
“Setiap Harlah NU pasti ada ziarah ke makam pendiri NU Sidoarjo. Ketua NU pertama itu Mbah KH Hosein Idris,” katanya.
Jadi teladan
Terkait perawatan makam dan musola bersejarah tersebut, ia menyebut masih dikelola oleh keluarga. Bahkan musola di samping komplek makam sampai sekarang tidak masuk dalam waris.
“Jadi masih utuh milik Mbah Buyut,” kata Ahmad Humam.
Melalui kegiatan Ziarah Muassis NU ini, PCNU Sidoarjo berharap semangat perjuangan para ulama pendiri NU terus hidup. Selain itu menjadi teladan bagi generasi muda dalam mengawal Indonesia menuju peradaban yang mulia. (OTW/N-01)







