
SUASANA di depan gedung DPRD Jawa Barat di Jalan Diponegoro sempat memanas sebelum polisi membubarkan massa berpakaian serba hitam melakukan pelemparan ke dalam gedung. Aksi itu mereka lakukan pada Senin (1/9) sekitar pukul 17.30 WIB.
Massa anarki itu melemparkan Molotov ke dalam DPRD Jabar. Sekitar pukul 18.15 WIB, aparat kepolisian yang berjaga di dalam pagar Gedung DPRD Jabar meminta massa agar pulang lantaran waktu demonstrasi telah berakhir pukul 18.00 WIB .
“Bagi adik-adik, ayo segera bubar, pulang, karena waktu berunjuk rasa telah berakhir,” tegas petugas dari gedung DPRD Jabar.
Petugas kepolisian yang berada di balik pagar sempat menyemprotkan air untuk membubarkan massa. Namun, mereka masih saja mencoba untuk merobohkan pagar DPRD Jabar. Mereka juga terpantau masih melakukan pembakaran di depan pagar DPRD Jabar.
Suarakan aspirasi
Sebelumnya, pada siang sampai pukul 17.00 WIB, massa aksi dari Cipayung Plus melakukan orasi di depan DPRD Jabar dengan damai. Mereka menuntut sejumlah hal ke pemerintah.
Korlap Cipayung Plus, M Rafli Salam menyampaikan, mereka yang terdiri atas beberapa organisasi hadir menyuarakan aspirasi yang menandakan pemerintah saat ini masih belum baik dalam menyelesaikan masalah.
“Presiden Prabowo Subianto, sampai sekarang justru menambahkan tingkat pengamanan yang lebih. Jelas, ini menandakan pemerintah masih tak mampu menyelesaikan hal-hal itu. Kekacauan yang sudah terjadi lima hari lalu, kami masih lihat kepolisian yang sudah membunuh Affan (Kurniawan) hanya 20 hari ditahan. Jadi, sistem di Indonesia masih dikorup,” ungkapnya.
Menurut Rafli, pihaknya mulai menyalakan api pergerakan dari Bandung, lantaran Bandung terkenal dengan Bandung Lautan Api. “Kota Bandung lebih baik dijajah dari pada dibakar,” katanya.
Delapan tuntutan
Mereka menuntut delapan hal, yakni reformasi, RUU Perampasan Aset, pendidikan dan Kapolri dicopot. “Empat dari delapan poin yang kami garisbawahi, karena fokus kami ialah untuk pembenahan diri bagi Polri. Jika ini tak direspons, kami akan melakukan dengan eskalasi yang lebih besar, sebab ini bentuk kekecewaan,” terangnya.
Di tempat terpisah DPRD Kota Bandung menyatakan akan mendukung penuh langkah Forkopimda Kota Bandung dalam menjaga suasana tetap kondusif di tengah dinamika masyarakat. DPRD akan memperkuat komunikasi dengan masyarakat melalui kerja sama dengan para camat dan aparat kewilayahan.
“Langkah ini diharapkan mampu menjadi jembatan yang memperkuat sinergi antara pemerintah dan masyarakat, sekaligus menghadirkan solusi konkret bagi permasalahan perkotaan di Bandung,” tandasnya. (Rava/N-1)







