
SEBAGAI salah satu negara penghasil padi terbesar di dunia, Indonesia memiliki limbah jerami yang besar pula. Di sisi lain, terjadi peningkatan kebutuhan teknologi penyimpanan energi di tengah penggunaan baterai litium-ion yang terus berkembang.
Kondisi tersebut mendorong kebutuhan untuk mencari material alternatif.
Berawal dari persoalan tersebut, lima mahasiswa UGM, Gilang Romadhon (Elektronika dan Instrumentasi 2024), Zuhrul Anam (Teknik Fisika 2024), Ethan Armana G. (Matematika 2024), Asty Goviana (Kimia 2025), dan Dinaesy Fadillah H. (Antropologi 2025) yang tergabung dalam tim Carbonova mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Riset Eksakta (PKM-RE).
Di ajang itu mereka menghadirkan inovasi material baterai yang berasal dari jerami padi sisa pertanian dengan menggabungkan grafit dari limbah baterai bekas.
Ketua Tim Carbonova, Gilang Romadhon, mengatakan bahwa gagasan penelitian ini berangkat dari cara pandang sederhana terhadap limbah.
Limbah punya potensi jadi solusi
Ia menceritakan, inovasi ini berangkat dari isu sederhana, bahwa sesuatu yang dianggap limbah sebenarnya masih memiliki potensi untuk menjadi solusi.
Melalui penelitian ini, kami mencoba mengubah limbah menjadi material bernilai bagi masa depan energi.
“Kita berupaya menciptakan alternatif atas keterbatasan teknologi baterai saat ini dengan menghadirkan material anoda baterai ion-natrium yang tidak hanya inovatif, tetapi juga memanfaatkan sumber daya yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya.
Ia menyebutkan penelitian yang mereka lakukan itu mengangkat judul ‘Rekayasa Struktur Nitrogen-Doped Hard Carbon Berbasis Jerami Padi dengan Spacer Limbah Grafit untuk Peningkatan Performa Anoda Baterai Ion Natrium.’
Jarang dimanfaatkan
Gagasan tersebut berangkat dari banyaknya limbah jerami padi dan limbah grafit di Indonesia yang masih jarang dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan energi baru.
Dalam pengembangannya, jerami padi dimanfaatkan sebagai bahan dasar untuk menghasilkan material karbon, sementara limbah grafit dimanfaatkan untuk membantu merekayasa struktur material tersebut.
Kemudian, tim mengembangkan material tersebut melalui serangkaian tahapan penelitian hingga menghasilkan material kandidat anoda baterai ion-natrium yang selanjutnya diuji karakteristik dan respons elektrokimianya.
Respon elektro kimia
Hasil pengujian awal menunjukkan bahwa material yang dikembangkan mampu memberikan respons elektrokimia dan menghasilkan kapasitas penyimpanan muatan.
“Temuan ini menjadi hasil pendahuluan bagi Tim Carbonova untuk terus melakukan optimasi terhadap material dan sistem baterai yang dikembangkan,” ungkap Gilang.
Melalui Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM), Tim Carbonova menjadikan penelitian ini sebagai momentum untuk mengembangkan sekaligus memperbaiki penelitian-penelitian terdahulu yang telah membahas potensi hard carbon sebagai material anoda baterai.
Dengan penelitian dan temuan inovasi yang dihadirkan, tim Carbonova berharap inovasi yang dikembangkan dapat menjadi salah satu langkah kecil dalam mendorong pemanfaatan limbah sekaligus membuka peluang pengembangan material anoda baterai ion natrium berbasis sumber daya yang lebih mudah ditemukan di Indonesia. (AGT/M-01)








