
KEPUTUSAN PT Agrinas Pangan Nusantara yang memilih mengimpor kendaraan komersial pick-up dari India mendapat tanggapan dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO). Organisasi tersebut menegaskan kapasitas produksi pick-up di dalam negeri sebenarnya masih sangat memadai.
Sekretaris Umum GAIKINDO, Kukuh Kumara, dalam keterangan tertulis, Sabtu (21/2), menyampaikan sejumlah perusahaan anggota GAIKINDO memproduksi kendaraan jenis pick-up. Perusahaan tersebut antara lain PT Isuzu Astra Motor Indonesia, PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor, PT SGMW Motor Indonesia (Wuling Motors), PT Sokonindo Automobile (DFSK), PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), serta PT Astra Daihatsu Motor.
Anggota GAIKINDO produksi mobil pick-up
Secara keseluruhan, kapasitas produksi kendaraan pick-up dari anggota GAIKINDO tersebut mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun. Namun, kapasitas itu hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal.
Kukuh menjelaskan, kendaraan yang diproduksi umumnya berpenggerak 4×2 dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang cukup tinggi, yakni di atas 40 persen.
“Dan kendaraan-kendaraan tersebut ini sudah memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang cukup tinggi, mencapai lebih dari 40 persen,” ujarnya.
Menurutnya, kendaraan komersial penggerak 4×2 atau jenis pick-up tersebut telah mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga ke pelosok daerah, didukung jaringan bengkel dan layanan purna jual yang tersebar luas di seluruh Indonesia.
Adapun untuk kendaraan jenis penggerak 4×4, lanjutnya, industri dalam negeri juga mampu memproduksi, meski membutuhkan waktu persiapan produksi.
Penjualan kendaraan bermotor domestik masih tertekan
Kukuh memaparkan, dalam beberapa tahun terakhir penjualan kendaraan bermotor domestik masih tertekan, dengan capaian di bawah satu juta unit per tahun. Sebaliknya, ekspor kendaraan bermotor dari Indonesia ke 93 negara justru mampu menembus lebih dari 518.000 unit.
Ia menambahkan, anggota GAIKINDO bersama industri pendukung, termasuk yang tergabung dalam Gabungan Industri Alat-Alat Mobil dan Motor (GIAMM), pada dasarnya memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan kendaraan komersial tersebut.
“Memang diperlukan waktu yang memadai agar jumlah dan kriterianya dapat dipenuhi. Namun bila diberikan kesempatan, industri otomotif nasional siap berpartisipasi,” ujarnya.
Menurutnya, optimalisasi produksi dalam negeri penting untuk menjaga keberlangsungan industri sekaligus menghindari potensi pengurangan tenaga kerja akibat penurunan permintaan pasar domestik dalam beberapa tahun terakhir.
Saat ini, GAIKINDO beranggotakan 61 perusahaan otomotif dengan total kapasitas produksi mencapai 2,5 juta unit kendaraan roda empat atau lebih per tahun. (*/S-01)







