Lomban Kupatan Sambiroto, Tradisi Larung Sesaji usai Hari Raya Idul Fitri

SEBAGAI masyarakat maritim yang berada di pesisir Pantai Utara, Desa Sambiroto Kecamatan Tayu Kabupaten Pati masih mewarisi tradisi larung sesaji di acara Lomban Kupatan.

Lomban Kupatan menjadi acara rutin ini biasanya dilaksanakan seminggu usai Hari Raya Idul Fitri.

Seperti kebanyakan daerah pesisir utara pulau Jawa, masyarakat desa Sambiroto juga menggunakan kepala kerbau sebagai sesaji utama dan disertakan juga kepala kambing.

Semua sesaji itu ditempatkan pada perahu kecil berhiaskan janur kuning (daun kepala yang masih muda).

Sebelum dilarung ke arah muara sungai menuju laut, sesaji itu diarak keliling desa diikuti pawai oleh warga menggunakan iring iringan kereta kuda yang dihias.

Setelah keliling, kemudia acara pelepasan dan doa dipusatkan di TPI Desa Sambiroto.

Kepala desa dan camat setempat menyampaikan beberapa sambutan, diantaranya adalah bagaimana potensi warisan ini terus dijaga dan dilestarikan.

BACA JUGA  Pegawai Pemprov Jateng Harus Tingkatkan Pelayanan di 2025

Bahkan potensi ini bisa menjadi daya tarik wisata khas Desa Sambiroto, khususnya dan Pati pada umumnya.

Sayang potensi wisata ini belum digarap secara maksimal , utamanya daya pikat wisatawan untuk ikut serta dalam iring iringan perahu menuju muara belum terkoordinir secara matang.

Jika ini sudah terkelola dengan baik, tidak mustahil event tahunan ini akan menjadi destinasi wisata yang menarik di wilayah Pati.

Lomban Kupatan Penuh Filosofi

Kupat dan lepet (ketupat dan lepet) yang menjadi  hidangan khas pada momen perayaan ini adalah warisan kuliner masa lampau.  Sepasang kupat dan lepet–lingga dan yoni–dalam perspektif kepercayaan Hindu-Budha yang kemudian dipakai dan dimaknai ulang oleh Sunan Kalijaga pada masa awal-awal Islam era kerajaan Demak.

Filosofi kupat yang bermakna ngaku lepat dan laku papat, sesuai dengan bentuknya segi empat ayaman daun janur (daun kelapa muda), sedang laku papat diantaranya lebaran, luberan, leburan dan laburan.

BACA JUGA  Jateng Alami Deflasi 0,07% pada Agustus 2024

Menjadi waktu untuk saling memaafkan, bersedekah, dan saling silaturahim setelah usai menjalani puasa ramadan.

Ini menunjukkan adanya transisi dan transformasi budaya yang berkelanjutan, meskipun kepercayaan masyarakat daerah pesisir telah berganti ke agama Islam.

Kupatan Kendeng

Sebaran acara kupatan sebagai perayaan komunal masyarakat pesisir juga ada di daerah pegunungan, di Tegaldawa,  Kabupaten Rembang. Kupatan dimaknai ulang sebagai ajang perayaan budaya sekaligus sarana mengkritisi keadaan lingkungan sekitar Pegunungan Kendeng.

Selain arak-arakan ketupat, juga ada temon banyu dan beras–bahan dasar pembuat ketupat.

Pada serasehan, selain silaturahim antarwarga dan aktivis lingkungan menyoal isu-isu lingkungan dan pertanian . Kemudian acara rutin lamporan (perang obor) khas daerah Pegunungan  Kendeng Utara.

Sewu Kupat Muria

Di wilayah Colo, Lereng Gunung Muria, juga tidak kalah menarik. Berbagai gunungan ketupat didoakan kemudian diarak dan diperebutkan oleh masyarakat sebagai berkah dan wujud syukur kepada Sang Pencipta.

BACA JUGA  Polda Jateng Tangkap Tersangka Pengeroyokan Saat Demo di Pati

Acara yang diberi nama  Sewu Kupat ini diikuti oleh warga sekitar makam Sunan Muria, tokoh sentral penyebar Islam di area sekitar kawasan Muria–meliputi Kabupaten Kudus, Pati, dan Jepara.

Dari berbagai acara kupatan sebagai bakda kecil usai sepekan selepas Hari Raya Idul Fitri ini, kita dapat melihat bahwa budaya adalah warisan yang terus bertransformasi dan membawa nilai-nilai filosofi dari generasi ke generasi. Bahkan bisa dimaknai ulang sebagai sarana untuk membicarakan harmoni dengan lingkungan , agar tetap terjaga dan lestari. (Put/W-01)

bowo prasetyo

Related Posts

Persib dan Jubelo Kelola 65,4 Ton Sampah Sepanjang Musim 2025/2026

STADION Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) kembali membuktikan bahwa sepak bola dapat menghadirkan dampak positif tidak hanya di atas lapangan, tetapi juga bagi lingkungan. Melalui implementasi program Zero Waste to…

Sempat Galau, Made Sarmita Selesaikan Program Doktor dengan IPK 4.00

SATU dari 90 wisudawan lulusan Program Doktor Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada memiliki Indeks Prestasi 4,00 setelah menjalani kuliah pascasarjana selama 2 tahun 10 bulan. Wisudawan yang meraih IPK sempurna…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Kendalikan Inflasi, BI Tasikmalaya Luncurkan Aplikasi Sindang Priatim

  • July 30, 2026
Kendalikan Inflasi, BI Tasikmalaya Luncurkan Aplikasi Sindang Priatim

Persib dan Jubelo Kelola 65,4 Ton Sampah Sepanjang Musim 2025/2026

  • July 30, 2026
Persib dan Jubelo Kelola 65,4 Ton Sampah Sepanjang Musim  2025/2026

Sempat Galau, Made Sarmita Selesaikan Program Doktor dengan IPK 4.00

  • July 30, 2026
Sempat Galau, Made Sarmita Selesaikan Program Doktor  dengan IPK 4.00

Puspenerbal Sulap Lahan 400m2 Jadi Kebun Melon Hidroponik

  • July 30, 2026
Puspenerbal Sulap Lahan 400m2 Jadi Kebun Melon Hidroponik

Bekuk PSMS, Persebaya Rebut Tiket ke Semifinal

  • July 29, 2026
Bekuk PSMS, Persebaya Rebut Tiket ke Semifinal

Persija Bermain Imbang dengan Port FC, STY Puas

  • July 29, 2026
Persija Bermain Imbang dengan Port FC, STY Puas