
PEREKONOMIAN Jawa Barat menunjukkan penguatan pada Triwulan III 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jabar mencatat pertumbuhan ekonomi mencapai 5,89% secara tahunan (year-on-year/y-on-y), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,19%.
Capaian tersebut sekaligus melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,47%. BPS juga merilis kondisi ketenagakerjaan Agustus 2026 dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2026. Berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), ekonomi Jawa Barat atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp844,54 triliun. Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) tercatat Rp489,11 triliun.
“Ekonomi Jabar secara kuartalan (q-to-q) tumbuh sebesar 0,62% dibandingkan Triwulan II 2026. Pertumbuhan ini sejalan dengan pola musiman historis di mana kinerja triwulan ketiga lebih rendah dari triwulan sebelumnya,” ungkap Kepala BPS Jabar, Margaretha Ari Anggorowati Kamis (5/11).
Menurut Ari, secara kumulatif (c-to-c) hingga Triwulan III 2026, ekonomi Jabar tumbuh 5,81%, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,14%. Kondisi tersebut menunjukkan semakin solidnya aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.
Penopang utama

Dari sisi lapangan usaha, industri pengolahan masih menjadi penopang utama dengan kontribusi 40,67% terhadap struktur PDRB dan pertumbuhan 4,98%. Sektor ini sekaligus menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan sumbangan 2,09%.
Sementara itu, sektor transportasi dan pergudangan serta konstruksi mencatatkan pertumbuhan masing-masing 13,61% dan 9,10%.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga mendominasi struktur PDRB dengan kontribusi 63,80%.
“Komponen ini tumbuh 5,93% dan menjadi sumber pertumbuhan terbesar sebesar 3,50%. Adapun pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh 8,85% dengan kontribusi terhadap sumber pertumbuhan sebesar 2,10%. Konsumsi pemerintah mencatatkan pertumbuhan tertinggi, yakni 28,34%. Dan secara spasial di Pulau Jawa, Jabar mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 5,89% (y-on-y) dengan kontribusi sebesar 12,71% terhadap perekonomian nasional,” terangnya.
Pengangguran Turun
Ari menyebut, di sektor ketenagakerjaan, BPS mencatat adanya perbaikan penyerapan tenaga kerja, jumlah penduduk usia kerja pada Agustus 2026 mencapai 39,74 juta orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 26,54 juta orang merupakan angkatan kerja, sedangkan 13,20 juta orang lainnya bukan angkatan kerja.
Penduduk yang bekerja tercatat sebanyak 24,77 juta orang atau bertambah sekitar 260 ribu orang dibandingkan Agustus 2025. Sejalan dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja, tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun 0,10 poin persentase menjadi 6,67%. Jumlah pengangguran tercatat sebanyak 1,77 juta orang.
“Penurunan TPT terjadi di seluruh kabupaten/kota di Jabar. Kabupaten Bekasi mencatatkan tingkat pengangguran tertinggi sebesar 8,71%, sedangkan Kabupaten Pangandaran menjadi yang terendah dengan 1,76%.
Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) Jawa Barat mencapai 66,78%. Partisipasi perempuan dalam angkatan kerja juga menunjukkan peningkatan, dari 49,17% pada Agustus 2025 menjadi 50,16% pada Agustus 2026,” bebernya.
Berdasarkan lapangan usahabkata Ari, perdagangan besar dan eceran menjadi sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar, yakni 23,04% dari total penduduk bekerja. Posisi berikutnya ditempati industri pengolahan dan pertanian. Jumlah pekerja formal turut meningkat menjadi 11,15 juta orang. Sementara itu, proporsi pekerja penuh atau mereka yang bekerja minimal 35 jam per minggu mencapai 74,39%.
IPM Jabar Meningkat
“Di sisi pembangunan manusia, IPM Jabar 2026 mencapai 76,62 atau meningkat 0,72 poin dibandingkan 2025 yang sebesar 75,90. Capaian tersebut mempertahankan Jabar dalam kategori pembangunan manusia tinggi.
Peningkatan IPM ditopang perbaikan seluruh indikator pembentuknya. Umur harapan hidup saat lahir (UHH) meningkat 0,27 tahun menjadi 75,80 tahun,” tandasnya.
Harapan lama sekolah (HLS) ucap Ari, mencapai 13,03 tahun atau meningkat 0,01 tahun dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, rata-rata lama sekolah (RLS) naik 0,11 tahun menjadi 9,25 tahun. Dari sisi standar hidup, pengeluaran riil per kapita per tahun yang disesuaikan meningkat Rp555 ribu menjadi Rp13,002 juta. Dan Kota Bandung mencatatkan IPM tertinggi di Jabar dengan angka 85,44 dan masuk kategori sangat tinggi.
Sebaliknya, Kabupaten Cianjur mencatatkan IPM terendah sebesar 70,64. Sejumlah daerah juga mengalami peningkatan status pembangunan manusia. Kota Bogor naik dari kategori tinggi menjadi sangat tinggi, sedangkan Kabupaten Cianjur meningkat dari kategori sedang menjadi tinggi.
“Secara keseluruhan, saat ini terdapat lima kota berstatus sangat tinggi dan 22 kabupaten/kota berstatus tinggi, sehingga tidak ada lagi wilayah di Jawa Barat yang berada pada kategori status sedang,” imbuhnya.
Ari menambahkan, Kabupaten Bandung Barat menjadi daerah dengan laju pertumbuhan IPM paling pesat di Jabar. Wilayah tersebut mencatatkan peningkatan sebesar 0,99 poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Capaian ketiga indikator tersebut memperlihatkan penguatan ekonomi yang berjalan beriringan dengan perbaikan penyerapan tenaga kerja dan kualitas pembangunan manusia di Jabar. (zahra/M-01)






