Bukan Cuma Mengajar, Guru di Bandung Bangun Karakter dan Keterampilan

SEKOLAH sejatinya bukan sekadar tempat anak belajar membaca, berhitung, dan mengejar nilai akademis. Di sekolah, anak juga belajar mengenali diri, membangun pertemanan, menghargai perbedaan, serta mengelola emosi.

Namun, proses tersebut tidak selalu berjalan mudah. Perundungan, kesulitan berkomunikasi, hingga kurangnya kemampuan bekerja sama masih menjadi tantangan dalam dunia pendidikan. Kondisi itu mendorong sejumlah guru di Kota Bandung menghadirkan inovasi yang tidak hanya berfokus pada pembelajaran, tetapi juga perkembangan karakter, sosial, dan emosional siswa.

Dua di antaranya adalah Ilham Pauji, guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti sekaligus Wakil Kepala SMPN 43 Bandung Bidang Kesiswaan, serta Irfan Fauzi, guru SDN 093 Tunas Harapan Cijerah. Ilham mengembangkan Bejakeun dan Someah sebagai upaya mencegah perundungan sekaligus membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman.

Sementara Irfan menghadirkan Sikasep untuk membantu guru mengenali dan mengembangkan keterampilan sosial anak. Meski berangkat dari persoalan berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama: memastikan setiap anak mendapatkan ruang untuk tumbuh, merasa aman, dan berkembang sesuai potensinya.

Mengubah Pengalaman Menjadi Inovasi Antiperundungan

Guru di Kota Bandung menghadirkan inovasi yang tidak hanya berfokus pada pembelajaran, tetapi juga perkembangan karakter, sosial, dan emosional siswa. (Dok. Diskominfo Kota Bandung)

Bagi Ilham, perhatian terhadap perundungan berawal dari pengalaman ketika masih duduk di bangku SMP. Ia pernah menyaksikan temannya menjadi korban perundungan, tetapi memilih diam karena takut menjadi sasaran berikutnya.

Belakangan, temannya semakin terpuruk hingga enggan datang ke sekolah. Pengalaman tersebut meninggalkan penyesalan sekaligus menjadi pemantik untuk menghadirkan ruang aman bagi siswa yang mengalami maupun menyaksikan perundungan.

“Saya pernah melihat teman dibully, tetapi saat itu tidak berani melapor karena takut menjadi korban berikutnya. Teman saya akhirnya tidak mau sekolah. Dari situ saya berpikir, bagaimana caranya agar anak-anak yang melihat atau mengalami perundungan bisa melapor tanpa takut identitasnya diketahui,” ungkap Ilham.

Menurut Ilham, gagasan itu diwujudkan melalui aplikasi Bejakeun yang dikembangkan pada 2024. Diambil dari bahasa Sunda yang berarti memberi tahu atau melaporkan, aplikasi ini menyediakan sarana pengaduan perundungan dengan menjaga identitas pelapor.

Laporkan perundungan

Siswa tidak harus menjadi korban untuk menyampaikan laporan. Mereka yang menyaksikan tindakan perundungan juga dapat melapor tanpa khawatir identitasnya diketahui. Bejakeun turut dilengkapi informasi mengenai bentuk-bentuk perundungan, regulasi, dan sanksi edukatif.

BACA JUGA  Seniman Muda Bandung Raih Juara Pertama Grey Award 2026

Laporan yang masuk dipantau tim pengelola dengan standar operasional penanganan dalam waktu satu jam. Selanjutnya, Ilham berkoordinasi dengan guru Bimbingan dan Konseling (BK), wali kelas, serta orang tua untuk menindaklanjuti persoalan.

“Yang terpenting bukan hanya laporan masuk, tetapi bagaimana laporan itu segera ditindaklanjuti. Kami berupaya mempertemukan pihak-pihak terkait, mendengarkan semuanya, dan mencari penyelesaian agar anak tetap merasa terlindungi,” terangnya.

Seiring perkembangannya, lanjut Ilham, Bejakeun kemudian diperluas menjadi Someah, yang dalam bahasa Sunda berarti ramah. Someah merupakan akronim dari Sistem Operasi Manajemen Emosi, Akal, dan Hati, terinspirasi dari Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.

Media pembelajaran

Jika Bejakeun berfokus pada pelaporan perundungan, Someah menjadi media pembelajaran dan penguatan karakter. Bejakeun kini terintegrasi sebagai salah satu fitur di dalamnya.

“Someah memuat materi Pendidikan Agama Islam tentang toleransi, sikap saling menghormati, kebaikan, dan pengelolaan emosi. Tersedia pula kuis interaktif agar siswa memahami cara menghadapi perilaku yang tidak menyenangkan,” jelasnya.

Upaya tersebut lanjut Ilham, mulai memperlihatkan perkembangan. Jumlah laporan perundungan di SMPN 43 Bandung tercatat menurun dari 33 laporan pada tahun ajaran 2022/2023 menjadi 25 laporan pada 2023/2024, 20 laporan pada 2024/2025, dan 14 laporan pada 2025/2026. Pada tahun ajaran 2026/2027, hingga saat wawancara tercatat lima laporan. Angka tersebut bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Lebih penting, siswa memiliki keberanian untuk bercerita dan sekolah mampu memberikan penanganan yang tepat.

“Inovasi Bejakeun juga mengantarkan SMPN 43 Bandung meraih AIA Outstanding Mental Wellbeing Award dalam ajang Kompetisi Sekolah Tersehat se-Asia Pasifik,” ucapnya.

Mengenali Kebutuhan Anak Lewat Sikasep

Perhatian terhadap perkembangan anak juga menjadi dasar inovasi Irfan Fauzi di SDN 093 Tunas Harapan Cijerah. Dalam kegiatan belajar mengajar, Irfan menemukan masih ada siswa yang malu menyampaikan pendapat, kesulitan bekerja sama, atau belum mampu menolak ajakan teman meskipun sebenarnya tidak menginginkannya.

Ia meyakini pendidikan tidak cukup hanya mengembangkan kemampuan akademis. Keterampilan sosial dan emosional juga perlu mendapat perhatian agar anak mampu membangun hubungan yang sehat dengan lingkungannya.

BACA JUGA  Bandung Jadi Pilot Project Program Makan Bergizi Gratis

“Peran guru itu bagaimana mengidentifikasi aspek perkembangan anak dan mengoptimalkannya. Selama ini yang paling terlihat di sekolah adalah perkembangan kognitif, karena ada nilai dan rapor. Padahal, aspek sosial dan emosional juga perlu dikembangkan,” tandasnya.

Dari pengamatan tersebut, kata Irfan, guru yang mulai mengajar di SDN 093 Tunas Harapan Cijerah sejak 2021 ini mengembangkan Sikasep atau Sistem Informasi dan Evaluasi Keterampilan Sosial serta Pengembangannya.

Lima komponen

Mulai dikembangkan pada 2024 dan diterapkan pada 2025, Sikasep membantu guru melakukan asesmen awal terhadap kondisi sosial siswa melalui tiga aspek, yakni keterampilan sosial, daftar cek masalah, serta hubungan sosial atau pertemanan.

Ada lima komponen keterampilan sosial yang menjadi perhatian, yaitu kerja sama, asertivitas atau kemampuan menyampaikan pendapat secara tepat, tanggung jawab, empati, dan pengendalian diri. Hasil asesmen menjadi dasar bagi guru untuk mengenali kebutuhan siswa sekaligus menentukan pendampingan yang sesuai, baik melalui bimbingan dan konseling maupun penyesuaian aktivitas pembelajaran.

“Salah satu penerapannya dilakukan melalui kegiatan rutin “Kamis Bermain”. Dalam kegiatan yang dilaksanakan setiap pekan ini, siswa diajak mengikuti permainan kelompok untuk belajar berkomunikasi, berbagi peran, bekerja sama, dan mengelola emosi.”

Respon positif siswa

“Karakteristik anak itu tidak lepas dari aktivitas fisik dan bermain. Karena itu, kegiatan bimbingan juga kami integrasikan dengan aktivitas bermain kelompok. Dari sana bisa terlihat bagaimana emosi, sosial, dan komunikasi anak,” paparnya.

Irfan menambahkan, respons siswa terbilang positif. Mereka bahkan kerap menanyakan kapan kegiatan bermain bersama kembali dilaksanakan. Melalui permainan, guru dapat mengamati bagaimana anak menghadapi perbedaan pendapat, menerima kekalahan, membantu teman, hingga menyelesaikan persoalan dalam kelompok.

Pendekatan tersebut membantu guru memahami kondisi siswa secara lebih mendalam sehingga pendampingan tidak dilakukan secara seragam.

Dari Ruang Kelas Menjadi Kontribusi Ilmu Pengetahuan

Bagi Irfan, praktik baik di sekolah perlu didokumentasikan agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas. Pengalaman mendampingi siswa kemudian dikembangkan menjadi buku berjudul Pengembangan Keterampilan Sosial Anak Usia Sekolah Dasar yang diterbitkan Eureka Media Aksara pada Februari 2026.

BACA JUGA  Punya 709 Koperasi Aktif, Bandung Bisa Kembangkan Ekonomi Rakyat dan UMKM

Buku tersebut membahas perkembangan keterampilan sosial anak, strategi intervensi, serta peran guru dan orang tua. Di dalamnya juga diulas teori pembelajaran sosial Albert Bandura, cooperative play, pembelajaran kooperatif, dan project based learning.

Irfan juga memperkuat gagasannya melalui penelitian berjudul The Role of Cooperative Play in Enhancing Social Skills: A Study on Elementary School Students in Indonesia yang dipublikasikan dalam Journal of Curriculum and Teaching pada Agustus 2026. Penelitian tersebut mengkaji peran permainan kooperatif dalam mengembangkan kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, bertanggung jawab, berempati, dan mengendalikan diri.

“Ketika kita menerbitkan sebuah buku, kita bukan hanya berkontribusi kepada siswa dan sekolah, tetapi juga kepada ilmu pengetahuan. Buku itu bisa dibaca orang lain dan manfaatnya bisa dirasakan lebih luas,” bebernya.

Identifikasi hambatan keterampilan

Inovasi Sikasep juga mendapat dukungan Kepala SDN 093 Tunas Harapan Cijerah, Nyi R. Waluyawati. Menurutnya, sistem tersebut membantu sekolah mengidentifikasi hambatan keterampilan sosial siswa dan menentukan tindak lanjut yang diperlukan.

Sekolah yang berdiri sejak 1974 dan kini melayani 722 siswa dengan sistem dua shift tersebut memiliki pengalaman dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif.

“Dengan adanya inovasi dari Pak Irfan ini, kami sangat terbantu. Khususnya untuk mengidentifikasi hambatan keterampilan sosial anak. Harapannya, anak-anak yang memiliki hambatan bisa ditindaklanjuti dan ditangani lebih komprehensif,” kata Waluyawati.

Saat ini sebut Waluyawati, Sikasep telah diadaptasi oleh lima sekolah lainnya. Irfan berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan, termasuk untuk asesmen siswa kelas rendah dan anak-anak berkebutuhan khusus. Inovasi Bejakeun, Someah, dan Sikasep memperlihatkan bahwa perhatian terhadap perkembangan anak dapat dimulai dari kepekaan guru dalam melihat persoalan di lingkungan sekolah.

Keduanya menyadarkan bahwa setiap siswa memiliki karakter dan kebutuhan berbeda. Karena itu, pendidikan perlu menghadirkan pendekatan yang tidak hanya mengejar pencapaian akademis, tetapi juga membangun karakter, empati, kepedulian, dan kemampuan berinteraksi. (zahra/M-01)

Related Posts

Dorong Pelestarian Genetik, Fapet UGM Gelar Kontes Kuda Lokal

FAKULTAS Peternakan Universitas Gadjah Mada, menggelar Kontes Kuda Lokal 2026 di Gadjah Mada Equastrian Center, Minggu. Kegiatan yang dirangkaikan dengan peringatan Dies Natalis ke-57 Fakultas Peternakan ini mengusung tema “Kuda…

Kapolda DIY Ajak Siswa SMPN 1 Depok Sleman Tanamkan Disiplin dan Karakter

PENDIDIKAN karakter dan pembentukan generasi muda yang berintegritas menjadi perhatian Polda Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui program Polisi Peduli Pendidikan, Kapolda DIY Irjen Pol. Langgeng Purnomo, menjadi pembina upacara di SMP…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Nekat Bobol Rumah Temannya, Remaja ini Gondol Emas dan Laptop

  • November 4, 2026
Nekat Bobol Rumah Temannya, Remaja ini Gondol Emas dan Laptop

Bukan Cuma Mengajar, Guru di Bandung Bangun Karakter dan Keterampilan

  • November 4, 2026
Bukan Cuma Mengajar, Guru di Bandung Bangun Karakter dan Keterampilan

Penurunan Kemiskinan dan Good Governance Jadi Fokus Pembangunan DIY

  • November 4, 2026
Penurunan Kemiskinan dan Good Governance Jadi Fokus Pembangunan DIY

Kapolda DIY Pimpin Upacara Serah Terima Jabatan di Mapolda

  • November 4, 2026
Kapolda DIY Pimpin Upacara Serah Terima Jabatan di Mapolda

Eks Tim Mawar Sebut Prabowo Sudah Waspadai Pengkhianat Sejak 2025

  • November 4, 2026
Eks Tim Mawar Sebut Prabowo Sudah Waspadai Pengkhianat Sejak 2025

Polresta Sidoarjo Ungkap 147 Kasus Narkoba dan Amankan 180 Tersangka

  • November 4, 2026
Polresta Sidoarjo Ungkap 147 Kasus Narkoba dan Amankan 180 Tersangka