
INDONESIA menghadapi beban dengue yang masih tinggi. Pada 2025, Indonesia tercatat menempati urutan kedua di dunia dalam jumlah kematian akibat dengue, dengan 703 kematian atau sekitar 17 persen dari total kematian dengue secara global.
Hal tersebut disampaikan Ketua Tim Kerja Penyakit Akibat Tular Vektor Zoonotik, Gigitan Hewan Berbisa dan Tanaman Beracun, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr. Fadjar Surya M. Silalahi, dalam kick-off meeting Proyek SHIELD yang diselenggarakan oleh Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM pada Kamis (22/10).
SHIELD (Scaling Health Interventions for Effective Long-term Dengue Control) merupakan penelitian kolaboratif yang dipimpin oleh UGM untuk mengambil pembelajaran dari implementasi teknologi Wolbachia di lima kota di Indonesia.
Hasil penelitian yang dipimpin oleh Dr. dr. Citra Indriani, M.P.H. ini diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan strategi perluasan penerapan Wolbachia, baik di tingkat nasional maupun global.
Hasil penelitian
Lebih lanjut dr. Fadjar menjelaskan tingginya beban dengue di Indonesia menjadi salah satu dasar pelaksanaan implementasi teknologi Wolbachia di lima kota.
Pendekatan ini mengacu pada hasil penelitian di Yogyakarta yang menunjukkan bahwa Wolbachia mampu menurunkan kejadian dengue hingga 77 persen dan angka rawat inap sebesar 86 persen. Di Kota Semarang, implementasi Wolbachia juga menunjukkan perkembangan positif.
“Implementasi yang kami lakukan di Kota Semarang menunjukkan hasil positif, dengan tren penurunan kasus dengue seiring stabilnya proporsi nyamuk ber-Wolbachia di atas 60 persen,” papar dr. Fadjar.
Terjadi penurunan dengue
Katie Anders, MSc, PhD dari Monash University yang berperan sebagai Pendamping Peneliti Utama Proyek SHIELD, menjelaskan dampak penerapan Wolbachia dalam menekan penularan dengue di Yogyakarta masih bertahan hingga tujuh tahun setelah pelepasan nyamuk ber-Wolbachia.
“Hasil pemantauan pada 2023-2024 menunjukkan bahwa proporsi Wolbachia pada populasi nyamuk Aedes aegypti mencapai 89 persen,” ujarnya.
Selain itu, selama lima tahun setelah penerapan Wolbachia secara menyeluruh di Kota Yogyakarta, angka kejadian dengue tercatat 76 persen lebih rendah dibandingkan kota-kota tanpa intervensi Wolbachia di Pulau Jawa.
Meski demikian, Katie menekankan bahwa Wolbachia tidak sepenuhnya menghilangkan penularan dengue. Oleh karena itu, penerapannya tetap perlu menjadi bagian dari strategi pengendalian dengue yang terpadu, bersama dengan upaya pencegahan dan pengendalian lainnya.
Efektif dan berkelanjutan
Berangkat dari pembelajaran tersebut, project SHIELD dirancang untuk memahami lebih jauh bagaimana implementasi Wolbachia dapat berjalan efektif dan berkelanjutan di berbagai konteks.
Ketua Peneliti Proyek SHIELD, Dr. dr. Citra Indriani, M.P.H., menjelaskan bahwa proyek ini merupakan kelanjutan dari perjalanan panjang pengembangan teknologi Wolbachia di Indonesia.
“Melalui SHIELD, kami ingin mengambil pembelajaran dari implementasi di lima kota sebagai dasar untuk menyusun strategi perluasan Wolbachia, baik di tingkat nasional maupun global,” jelas dr. Citra.
Untuk mencapai tujuan tersebut, SHIELD dijalankan melalui empat kelompok kerja (pokja) yang saling melengkapi, yaitu Riset Implementasi, Entomologi, Epidemiologi, dan Pemodelan.
Identifikasi faktor
Pokja Riset Implementasi berfokus pada identifikasi faktor pendukung dan penghambat implementasi Wolbachia, serta komponen-komponen penting yang menentukan keberhasilan penerapannya.
Pokja Entomologi mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan serta keberlanjutan Wolbachia pada populasi nyamuk, termasuk ketahanan intervensi terhadap kondisi panas ekstrem.
Sementara itu, Pokja Epidemiologi mengevaluasi dampak implementasi Wolbachia melalui program pengendalian dengue terhadap penularan dengue dan kesehatan masyarakat di berbagai wilayah dengan karakteristik yang berbeda.
Adapun Pokja Pemodelan melakukan analisis manfaat-biaya serta mengembangkan berbagai skenario integrasi Wolbachia dengan strategi pengendalian dengue lainnya, termasuk vaksinasi, untuk memaksimalkan manfaat bagi kesehatan masyarakat dan mendukung pengambilan kebijakan.
Jadi pembelajaran
Melalui kolaborasi lintas bidang tersebut, SHIELD diharapkan dapat menghasilkan pembelajaran yang tidak hanya memperkuat bukti ilmiah mengenai Wolbachia, tetapi juga mendukung perencanaan dan pengambilan kebijakan terkait perluasan penerapannya.
Menutup paparannya, dr. Citra menekankan pentingnya dukungan dan kolaborasi berkelanjutan dari berbagai pihak agar proyek ini dapat berjalan optimal. “Semoga proyek ini menghasilkan luaran yang bisa kita gunakan untuk penguatan kebijakan perluasan Wolbachia di Indonesia,” harapnya.
Wolbachia bukanlah pengganti metode pengendalian dengue yang telah ada, melainkan pendekatan pelengkap dalam strategi pengendalian terpadu. Melalui Proyek SHIELD, pembelajaran dari implementasi di lima kota diharapkan dapat memperkuat dasar ilmiah dan kebijakan untuk mengembangkan strategi pengendalian dengue yang lebih efektif dan berkelanjutan. (AGT/N-01)






