
SEBAGAI negara pewaris utama imperium Uni Soviet, Rusia kerap masih sering disalahpahami banyak negara di dunia, termasuk sebagian masyarakat Indonesia. Banyak negara di dunia seperti masih ragu berhubungan dengan Rusia hanya karena takut terkena sanksi Barat ataupun alasan lain.
Padahal semasa masih menjadi negara bagian Uni Soviet, Rusia pun sejatinya tidak punya ambisi hegemoni, seperti negara-negara adidaya lain. Hal itu terungkap dalam diskusi yang menjadi bagian dari acara peluncuran buku karya sejarawan Universitas Indonesia, Dr. Ahmad Fahrurodji berjudul ‘Indonesia–Rusia dalam Pusaran Perang Dingin: Geopolitik dan Diplomasi Soviet di Asia Tenggara’ di Auditorium Gedung I FIB UI, Senin (26/10).
Dalam acara launching buku setebal hampir 300 halaman terbitan Yayasan Obor itu turut hadir sejumlah undangan, termasuk Menteri Kebudayaan Fadli Zon, serta Duta Besar Federasi Rusia, Sergei Tolchenov, dan mantan Kasau Chepy Hakim. Adapun acara diskusi menghadirkan pembicara Budiman Sudjatmiko, Kusnanto Anggoro, Ali Mochtar Ngabalin, dan I Ketut Suradjaja.
Sejarah panjang

Dalam buku tersebut, Fahrurodji menyebut sejarah hubungan diplomasi antara Indonesia dan Rusia lumayan panjang dan kompleks. Berbagai fase perubahan politik dalam negeri yang terjadi di masing-masing negara dan juga situasi geopolitik dunia, turut memengaruhi relasi tersebut.
Salah satunya ialah dukungan diplomatik Soviet terhadap perjuangan Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa, bahkan sebelum kedua negara menjalin hubungan diplomatik formal. Hubungan itu berkembang semakin erat pada era Nikita Khrushchev, termasuk melalui kerja sama ekonomi, kebudayaan, politik, dan militer.
Dukungan Soviet turut berperan dalam perjuangan Indonesia merebut kembali Irian Barat. Kedekatan kedua negara juga meninggalkan jejak pembangunan, antara lain kompleks olahraga Gelora Bung Karno dan Rumah Sakit Persahabatan di Jakarta.
Peran Sukarno
Fahrurodji juga menyoroti kepiawaian Presiden Sukarno kala itu dalam membangun hubungan personal dengan para pemimpin dunia, termasuk pemimpin Uni Soviet.
“Belum ada presiden Indonesia yang mampu menandingi kelihaian Bung Karno dalam memadukan peran kepala negara dan diplomat. Salah satu kunci keberhasilannya terletak pada pendekatan personal yang melampaui hubungan formal antarpemerintah,” ujarnya.
Dalam diplomasi Soviet, pendekatan tersebut berkaitan erat dengan konsep druzhba atau persahabatan. Menurut Fahrurodji, hubungan antarnegara tidak cukup dibangun melalui kesepakatan politik, tetapi juga membutuhkan kedekatan dan kepercayaan antarpemimpin.
Fahrurodji turut mengulas bagaimana prinsip koeksistensi damai memungkinkan negara-negara dengan sistem politik berbeda membangun kerja sama. Namun, hubungan bilateral tersebut juga mengalami perubahan seiring pergantian kepemimpinan dan orientasi politik masing-masing negara.
“Buku ini tak hanya merekonstruksi sejarah hubungan bilateral, tetapi juga menjelaskan makna dan implikasi dari perubahan kebijakan yang terjadi di kedua negara pada masa Perang Dingin yang penuh gejolak,” tulis Fadli Zon dalam kata pengantar buku tersebut.
Posisi Strategis Indonesia
Buku ini juga mengungkap episode diplomasi menjelang Perang Dunia II ketika Jepang berupaya menarik Uni Soviet ke dalam persekutuan dengan Jepang dan Jerman. Dalam perundingan tersebut, Menteri Luar Negeri Jepang disebut menyinggung kekayaan alam Hindia Belanda sebagai bagian dari tawaran kepada Soviet.
“Padahal, ketika perundingan berlangsung, Jepang belum menduduki Hindia Belanda. Upaya diplomatik tersebut akhirnya gagal dan Uni Soviet kemudian bergabung dengan pihak Sekutu dalam Perang Dunia II,” ujar Fahrurodji.
Temuan itu memperlihatkan bagaimana wilayah Indonesia telah masuk dalam perhitungan geopolitik negara-negara besar bahkan sebelum pendudukan Jepang. Persaingan kepentingan tersebut menjadi salah satu latar historis untuk memahami posisi Indonesia dalam hubungan internasional pada masa berikutnya.
Pasang surut
Menurut Kusnanto Anggoro, hubungan Indonesia dengan Rusia sendiri sempat diwarnai pasang surut. Namun dia meyakini 15 atau 20 tahun ke depan, hubungan kedua negara bakal jauh lebih erat karena berbagai alasan.
“Kalau pun bukan dari penerintah, tapi ada elemen lain yang membuat hubungan kedua negara makin erat di masa depan,” tegasnya.
Sementara itu, Budiman menyebut sebagai negara yang mempunyai kemiripan Rusia punya peluang bekerja sama lebih erat dengan Indonesia. “Persoalannya memang Rusia harus lebih gigih untuk kembali menanamkan kepercayaan kepada Indonesia,” ujarnya. (N-01)








