
AKSI kerusuhan yang terjadi di Prancis sebagai buntut dari aksi demonstrasi biaya hidup membuat kehidupan di beberapa wilayah negara itu lumpuh. Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu pun menyerukan pemberlakuan jam malam di sejumlah daerah.
Lecornu meminta otoritas daerah untuk menerapkan jam malam yang bersifat parsial dan terlokalisasi. Hal itu bertujuan untuk melindungi sektor usaha setelah ratusan toko mengalami kerusakan dan penjarahan.
“Saya bertekad penuh untuk memulihkan ketertiban umum,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah siap memberlakukan status darurat jika diperlukan.
Keputusan itu diambil Sebastien Lecornu setelah dia mengadakan rapat darurat dengan para menteri. Apalagi setelah Menteri Dalam Negeri Prancis menyatakan bahwa polisi telah kehilangan kendali selama kerusuhan.
Mengundurkan diri

Pihak berwenang sendiri berupaya keras meredam ketidakpuasan publik. Aksi itu merupakan puncak dari rangkaian protes selama empat minggu, yang awalnya dimulai oleh para siswa sekolah menengah yang menuntut perbaikan kondisi di sekolah mereka.
Namun aksi demonstrasi damai itu berubah menjadi kekerasan di sejumlah lokasi. Kelompok-kelompok bertopeng yang menyusup ke dalam aksi protes menyerang aparat penegak hukum, membobol dan membakar balai kota serta bangunan publik lainnya, menjarah toko-toko, serta membakar mobil, sepeda, dan skuter di jalanan.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengajukan pengunduran dirinya, menyusul penangkapan lebih dari 2.500 orang dan cederanya hampir 1.000 personel aparat keamanan.
Namun Presiden Prancis Emmanuel Macron menolak pengunduran diri Nunez, meskipun ia mengakui adanya kegagalan dalam aspek keamanan dan intelijen terkait respons pemerintah.
Kecam keras
Dalam pidatonya kepada warga Prancis, Macron mengecam kekerasan yang tak terkendali tersebut. Ia menyatakan bahwa otoritas lokal dapat melarang sejumlah unjuk rasa, namun tidak sampai menerapkan langkah-langkah yang lebih drastis.
Otoritas kota Marseille pada Senin (19/10), mengumumkan pelarangan pertemuan publik mulai tengah hari hingga pukul 20.00 waktu setempat.
Uni Eropa mengecam kekerasan yang terjadi selama akhir pekan sebagai tindakan yang tidak dapat diterima, namun mengingatkan bahwa hak untuk melakukan protes secara damai harus tetap dilindungi di Prancis. (*/N-01)







