
PEMANFAATAN kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin berkembang di berbagai bidang, termasuk kesehatan. Teknologi ini tidak hanya digunakan untuk chatbot atau mencari informasi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mengolah data, mendukung pengambilan keputusan, hingga membantu mendeteksi potensi wabah.
Hal tersebut disampaikan oleh Anis Fuad, S.Ked., DEA., peneliti Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM, dalam podcast TropmedTalk yang tayang pada Rabu (7/10).
Salah satu pemanfaatan AI yang saat ini dikembangkan oleh PKT UGM adalah riset AI for Pandemic Preparedness (AI4PEP), bagian dari riset global yang mengkaji penggunaan AI untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman pandemi.
Dalam penelitian itu, para peneliti mengembangkan platform ExplainDengue yang menggabungkan data riwayat dengue dari fasilitas kesehatan dengan data iklim, cuaca, dan curah hujan untuk membantu memprediksi perubahan risiko dengue serta wilayah yang berpotensi mengalami peningkatan kasus.
Cegah wabah jadi KLB
Menurut Anis, lonjakan kasus dengue dapat berkembang menjadi kejadian luar biasa (KLB) hingga membuat fasilitas kesehatan kewalahan. “Kalau potensi peningkatan kasus bisa diketahui lebih awal, harapannya dampak tersebut dapat dihindari,” ujarnya.
Tak hanya untuk dengue, tim juga mengeksplorasi pemanfaatan AI untuk mendukung deteksi dini potensi wabah melalui pengolahan data rekam medis elektronik (RME) di instalasi gawat darurat.
Dengan menggunakan large language model (LLM), informasi mengenai keluhan utama dan riwayat pasien dianalisis untuk membantu mengenali pola sindrom yang berpotensi menjadi penanda awal KLB. “Harapannya, data ini dapat membantu dinas kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi wabah sejak dini,” ujar Anis.
Namun, Anis menekankan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan AI tidak berhenti pada kemampuan teknologinya. Sistem AI membutuhkan data yang akurat, lengkap, konsisten, dan terus diperbarui agar dapat bekerja dengan baik.
Perlu feedback
Selain kualitas data, teknologi yang telah dikembangkan juga perlu benar-benar digunakan dan terus mendapatkan umpan balik. Tanpa pemanfaatan berkelanjutan, inovasi berisiko hanya berhenti pada tahap uji coba atau fenomena yang ia sebut sebagai pilotitis. “Jadi hanya dipilot-pilotkan saja,” kelakar Anis.
Pemanfaatan AI dalam pelayanan kesehatan juga harus diikuti dengan tata kelola dan evaluasi yang memadai. Anis menjelaskan bahwa teknologi AI yang dikembangkan di luar negeri, meskipun memiliki tingkat akurasi tinggi, tidak dapat langsung diterapkan pada pasien di Indonesia.
Fasilitas kesehatan perlu memahami cara kerja teknologi, memastikan status dan regulasinya, mengetahui pengelolaan serta penyimpanan data, mempelajari hasil penggunaannya di tempat lain, dan melakukan health technology assessment sebelum mengadopsinya.
Lebih lanjut, Anis menekankan pentingnya keterlibatan manusia (human in the loop) dalam setiap tahap pemanfaatan AI, mulai dari pengembangan, pengujian, hingga verifikasi hasilnya.
Panduan WHO
Prinsip tersebut sejalan dengan panduan etika penggunaan AI dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang turut menekankan perlindungan terhadap otonomi manusia.
Menurutnya, AI perlu diposisikan sebagai alat bantu yang digunakan secara bertanggung jawab,bukan sebagai pengganti peran manusia atau sesuatu yang menimbulkan ketergantungan.
“Manfaatkan AI secara bijak untuk kebutuhan yang memang kita perlukan dan untuk mendukung aktivitas yang lebih bermanfaat bagi banyak pihak,” pungkasnya. (Agt/M-01)








