
SEKOLAH Pascasarjana (SPs) Universitas Gadjah Mada menggelar kegiatan susur dan bersih-bersih Sungai Code melalui program ‘Kali Code Berdaya’.
Kegiatan yang menggandeng Pemkab Sleman dan Pemkot Yogyakarta itu untuk menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan sungai secara berkelanjutan.
Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., mengatakan kegiatan susur dan bersih sungai Code merupakan bentuk kerja sama untuk bersama-sama menjaga lingkungan, khususnya ekosistem sungai.
Menurutnya, kolaborasi lintas pihak perlu terus diperkuat dan dijaga keberlanjutannya agar tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat memberikan dampak yang lebih luas.
Jadi inspirasi
Ia juga berharap inisiatif tersebut dapat menjadi inspirasi bagi berbagai pihak untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan sungai, tidak hanya di Yogyakarta.
“Saya berharap penguatan kolaborasi ini tentunya dapat terus dilaksanakan, dapat langgeng, dan merupakan inspirasi bukan hanya di Jogja untuk menjadi inspirasi mencintai lingkungan sungai,” katanya, Jumat (4/9), di pasar Minggon, Bantaran Sungai Code, Kota Yogyakarta.
Rekonstruksi sosial masyarakat
Hal senada disampaikan Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menilai kolaborasi yang dibangun melalui “Kali Code Berdaya” dapat menjadi ruang untuk memperkuat upaya rekonstruksi sosial masyarakat.
Menurutnya, UGM memiliki peran penting dalam menghubungkan pengetahuan akademik dengan penerapannya di tengah masyarakat.
“UGM saya kira memberikan inspirasi yang luar biasa karena saya optimisnya untuk melakukan rekonstruksi sosial itu bersama,” ujarnya.
Inisiasi “Kali Code Berdaya” merupakan kolaborasi antara SPs dan Sekolah Vokasi (SV) UGM dengan melibatkan Pemerintah Kota Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten Sleman, Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak, Himpunan Ahli Teknik Hidraulik Indonesia, serta sejumlah komunitas warga di sekitar Sungai Code.
Jaga ekosistem sungai
Kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi upaya untuk mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, organisasi profesi, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem sungai.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pelepasan burung sebagai simbolis pembukaan acara, kemudian dilanjutkan dengan susur dan bersih-bersih Sungai Code.
Sejumlah pihak universitas dan pemangku kepentingan juga mengikuti srawung bersama warga di sekitar bantaran sungai yang sekaligus menjadi ruang interaksi dan kesempatan untuk memahami kondisi masyarakat yang hidup berdampingan dengan Sungai Code.
Kegiatan kemudian berakhir di Pasar Minggon dengan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) kerja sama serta bincang hangat mengenai Sungai Code dan pengelolaannya.
Jaga vegetasi di bantaran sungai
Dalam sesi itu, Dekan SV UGM, Prof. Agus Maryono, menekankan pentingnya menjaga sungai dari sampah dan limbah serta memastikan vegetasi di sepanjang bantaran tetap terpelihara.
Menurut Prof. Agus, kegiatan susur sungai juga perlu dilakukan secara berkala untuk mengenali potensi bahaya yang dapat muncul di sepanjang aliran sungai, seperti tebing yang rawan longsor atau material yang berpotensi menghambat aliran air.
Langkah itu dinilai penting sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana sekaligus menjaga kelancaran aliran sungai dari hulu hingga hilir.Ia juga mengingatkan bahwa potensi banjir bandang perlu menjadi perhatian masyarakat yang tinggal di sekitar sungai.
Menilik pengalaman banjir bandang di Nepal, dapat diambil kesimpulan bahwasannya ancaman serupa dapat terjadi apabila potensi bahaya di sepanjang sungai tidak dikenali dan ditangani sejak dini.
“Susur sungai secara berkala dari bagian hilir menuju hulu dapat menjadi salah satu langkah sederhana untuk memantau kondisi sungai,” paparnya.
Ruang wisata ramah lingkungan
Selain aspek mitigasi, ia melihat Sungai Code memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai ruang wisata yang ramah lingkungan sekaligus sarana edukasi masyarakat.
Keindahan kawasan sungai, apabila dikelola dengan baik, dinilai dapat memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar tanpa mengabaikan fungsi ekologisnya.
“Karena sungai cantik, maka dicari lokasi-lokasi yang bisa digunakan untuk wisata. Seperti ke sini, wisata Pasar Minggon. Jadikanlah wisata karena sungai itu memberikan segalanya kepada kita,” ujarnya.
Pengembangan kawasan wisata berbasis sungai dapat dilakukan dengan melibatkan komunitas di sepanjang aliran Sungai Code. Setiap komunitas, menurutnya, dapat memiliki ruang yang dikelola sebagai destinasi wisata berbasis lingkungan sekaligus menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya menjaga sungai.
Butuh pendekatan lintas disiplin
Perspektif mengenai pentingnya melihat Sungai Code secara menyeluruh juga disampaikan pemerhati Sungai Code sekaligus Dosen S3 Religious Studies, Dicky Sofjan, PhD.
Ia menjelaskan bahwa upaya memahami Sungai Code tidak dapat dilepaskan dari ekosistem yang lebih luas, mulai dari kawasan hulu hingga hilir.
Dicky juga turut menyampaikan jika pengelolaan lingkungan sungai membutuhkan pendekatan lintas disiplin karena persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu bidang keilmuan.
Hal tersebut sejalan dengan karakter SPs UGM yang mengembangkan pendekatan multi-, inter-, dan transdisipliner dalam merespons berbagai persoalan kemanusiaan dan lingkungan.
“Tidak ada satu pun permasalahan kemanusiaan itu yang bisa diselesaikan oleh satu bidang ilmu. Tidak ada satu pun, termasuk masalah lingkungan hidup, termasuk masalah manajemen kali. Artinya, kita butuh kolaborasi, kita butuh sintesis dari beragam pendekatan keilmuan dan disiplin itu untuk membantu merekonstruksi sosial ini,” ujarnya.
Sungai bukan sekadar ruang ekologis
Ia juga menyoroti pentingnya melihat hubungan antara lingkungan fisik dan kehidupan sosial masyarakat yang berada di sekitarnya.
Menurutnya, Sungai Code bukan sekadar ruang ekologis, tetapi juga ruang sosial dan kultural yang menyimpan beragam pengetahuan serta praktik kehidupan masyarakat.
“Dunia Kali Code ini adalah dunia yang unik. Dunia yang membutuhkan lebih banyak lagi proses pembelajaran, bukan saja dari segi alam fisikalnya, tetapi juga khususnya dunia sosialnya,” pungkasnya.
Kehangatan prosesi itu tidak hanya dirasakan oleh pemangku kepentingan dan pihak universitas.
Pertemukan masyarakat dengan pemerintah
Warsi, salah seorang warga yang tergabung ke dalam PKK setempat menilai jika prosesi tersebut menjadi ruang yang menarik untuk mempertemukan antara masyarakat dan dewan pemerintahan.
“Sangat menarik karena dari kegiatan ini kita bisa terhubung dengan anggota dewan,” katanya.
Selain menjadi ruang pengabdian kepada masyarakat, kegiatan “Kali Code Berdaya” juga menjadi pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa Program Magister Manajemen Bencana SPs UGM.
Melalui kegiatan lapangan, mahasiswa dapat memahami kondisi bantaran sungai, dinamika sosial, serta kerentanan dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi risiko bencana.
Pengetahuan dengan persoalan
Kegiatan ini menghubungkan pengetahuan akademik dengan persoalan nyata di masyarakat sekaligus mendorong pemahaman mengenai pengelolaan lingkungan, mitigasi bencana, dan pemberdayaan masyarakat.
Selain itu, “Kali Code Berdaya” menjadi salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui kolaborasi lintas sektor dan pelibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem Sungai Code serta mendorong pengelolaan sungai berbasis komunitas. (AGT/M-01)





