
TIM peneliti Universitas Gadjah Mada memasang teknologi panel surya Agrovoltaic di Desa Pandowoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Pemasangan teknologi dilakukan dalam mendukung pengembangan inovasi smart farming yang dikelola oleh BUMDes dan kelompok wanita tani.
“Program itu dilaksanakan sebagai upaya pengembangan desa berbasis energi terbarukan melalui penerapan teknologi PLTS Hybrid dan konsep agrivoltaic yang terintegrasi dengan pemberdayaan masyarakat,” ungkap Ahmad Agus Setiawan, ST., M.Sc., Ph.D., selaku ketua tim peneliti kepada wartawan, Rabu.
Pengembangan desa berbasis energi terbarukan

Pakar energi terbarukan sekaligus Kepala Laboratorium Energi Terbarukan (RELab) Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, Fakultas Teknik menyebut, kegiatan implementasi pemanfaatan teknologi tepat guna ini bagian dari pengembangan desa berbasis teknologi energi terbarukan melalui riset aplikatif oleh akademisi.
Harapannya, penerapan agrovoltaic yang dihadirkan dapat menjadi solusi terhadap permasalahan keterbatasan akses energi yang dihadapi BUMDes Amarta dan Kelompok Wanita Tani Wastajap Bersinar di Desa Pandowoharjo.
Aas, demikian ia akrab disapa, menuturkan BUMDesa Amarta mengelola lahan pertanian kas desa seluar 1.376 meter persegi. Tidak jauh dari sana, KWT Wastajap Bersinar mengelola lahan pertanian seluas 587 meter persegi.
Usaha desa tersebut turut mengelola dua unit green house yang aktif memproduksi melon dan berbagai komoditas perkebunan seperti pepaya, cabai, jagung, kacang tanah, ubi jalar, talas, dan terong.
Perkuat fondasi usaha
Sebagai sektor vital penyangga perekonomian masyarakat, BUMDes Amarta menargetkan gelar Desa Mandiri Hijau untuk memperkuat fondasi unit usaha.
“Produktivitas tersebut turut menuntut standar operasional yang memadai, dengan tetap menyesuaikan kemampuan pengelola dan kelompok tani,” katanya.
Peran PLTS Hybrid Agrovoltaic hadir untuk membantu mengoptimasi biaya energi, meskipun terdapat penyesuaian dari rencana awal yang mulai sebesar 3,3 kWp menjadi 2,6 kWp.
Hal ini dilakukan guna menekan pengeluaran yang melonjak akibat dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada kenaikan harga komponen energi surya di pasar global.
Solusi aplikatif
Prof. Bayu Dwi Apri Nugroho, pakar agrometeorologi, perubahan iklim, dan inovasi smart farming, dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM, salah satu anggota tim peneliti lainnya, menyebutkan teknologi agrovoltaic ini berpotensi menghadirkan solusi aplikatif untuk BUMDes Amarta yang didominasi oleh petani milenial dan KWT Wastajap Bersinar.
Guna memperluas dampak dan potensi berbagai kolaborasi lainnya, inisiatif tersebut turut menggandeng mitra internasional dari Solar Research Institute (SRI) Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia.
Bayu mengatakan pihaknya bersama tim yang terdiri para dosen dan mahasiswa sebelumnya sudah melakukan serangkaian observasi dan evaluasi peluang penerapan model PLTS Hybrid agar cocok untuk ditanam di atas lahan perkebunan tersebut.
Dibandingkan dengan model PLTS On-Grid yang terhubung langsung dengan jaringan listrik, cadangan baterai pada PLTS Hybrid membantu menekan biaya konsumsi listrik karena hanya menyerap listrik ketika daya baterai habis.
Kurang cocok
Sementara itu, tim juga menilai model PLTS Off-Grid yang sumber dayanya bergantung pada baterai secara penuh, kurang cocok diimplementasikan untuk kondisi lahan dan kapasitas BUMDes Amarta.
“Terdapat lonjakan harga komponen di tengah dinamika politik global dan melemahnya nilai tukar rupiah,” jelasnya.
Sebagai teknologi yang belum banyak diadopsi, kata Bayu, eksistensi PLTS Hybrid perlu mendapat perhatian khusus, baik dari segi penggunaan maupun pemeliharaan.
Dari sini, tim turut melibatkan masyarakat, pemuda karang taruna, dan unit teknis BUMDes Amarta dalam proses perakitan.
Manfaatkan modul
Lebih lanjut, monitoring akan memanfaatkan modul pemantauan berbasis IoT (RiTx) yang memanfaatkan sensor untuk mencatat data real-time mengenai kondisi tanah dan cuaca agar dapat dipantau dari jarak jauh.
“Kita mengikutsertakan BUMDes Amarta dalam penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) sederhana, sehingga keberlanjutan program dapat terjamin,” paparnya.
Bagi Bayu, program pengabdian kepada masyarakat Menghadirkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang mengintegrasikan praktik Agro-Voltaic ini menjadi salah satu upaya mitigasi dampak perubahan iklim di sektor pertanian yang menuntut kemampuan adaptasi tingkat tinggi pada petani guna memastikan hasil panen tetap optimal. (Agt/A-01)








