
FAKULTAS Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) terus mendorong penerapan teknologi yang mendukung kesejahteraan hewan sekaligus meningkatkan efisiensi pemotongan ternak kurban.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Gama Abilawa Portable Restraining Box yang digagas oleh Prof. Ir. Panjono, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.
Praktik pemotongan sapi kurban di masyarakat selama ini, jelas Prof. Panjono, sebagian besar belum dilakukan di Tempat Pemotongan Hewan (TPH).
Selain menggunakan peralatan yang terbatas, proses penanganan ternak juga sering dilakukan secara kurang manusiawi sehingga berdampak pada kesejahteraan hewan maupun kualitas daging yang dihasilkan.
“Selama ini banyak pemotongan sapi kurban dilakukan di luar TPH dengan fasilitas terbatas. Kondisi tersebut menyebabkan ternak mengalami tekanan fisik maupun psikis, meningkatkan risiko kecelakaan bagi petugas penyembelihan, serta menurunkan kualitas daging,” ujar Prof. Panjono dalam kegiatan Fapet Menyapa, Senin (18/5).
Permudah penanganan
Prof. Panjono mengungkapkan, dalam praktik di lapangan sapi kurban sering kali sulit ditangani sejak proses penambatan, penggiringan menuju lokasi penyembelihan, hingga perebahan dan pengikatan sebelum disembelih.
Kondisi tersebut tidak jarang memicu ternak mengamuk, mengalami luka, bahkan menimbulkan kecelakaan pada petugas penyembelihan.
Dikatakan inovasi portable restraining box hadir untuk mempermudah penanganan ternak secara lebih aman dan manusiawi. Dengan alat tersebut, sapi dapat diarahkan masuk ke dalam box dengan lebih tenang dan siap disembelih tanpa harus mendapat perlakuan yang tidak manusiawi.
“Kasus yang sering dijumpai di lapangan adalah kecelakaan petugas penyembelih maupun ternak yang mengalami luka akibat proses perebahan yang tidak tepat. Dengan restraining box ini, sapi lebih mudah ditangani dan proses penyembelihan bisa dilakukan dengan lebih aman,” jelasnya.
Cocok untuk panitia kurban
Ia menambahkan, alat tersebut dirancang agar kompatibel dan mudah digunakan di berbagai lokasi yang tidak memiliki fasilitas TPH.
Desainnya portabel sehingga mudah dipindahkan dan cocok digunakan panitia kurban di berbagai daerah.Pengembangan alat ini telah dilakukan sejak 2019 dan terus disempurnakan setiap tahun berdasarkan evaluasi lapangan.
Dari hasil kajian yang dilakukan, penggunaan portable restraining box mampu mempercepat proses pemotongan hingga 52,5 persen serta menurunkan secara signifikan jumlah personel yang terlibat dalam proses penyembelihan.
Jika sebelumnya proses perebahan dan penanganan sapi memerlukan banyak orang, kini cukup ditangani sekitar lima personel dengan risiko yang lebih rendah.
Minimalkan stress
Selain mendukung efisiensi kerja, alat ini juga dinilai mampu meminimalkan stres dan cedera pada ternak sehingga kualitas daging yang dihasilkan menjadi lebih baik.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa portable restraining box mampu meningkatkan efisiensi proses pemotongan sekaligus meningkatkan kesejahteraan ternak. Tingkat stres sapi dapat ditekan sehingga kualitas daging menjadi lebih terjamin,” tambahnya.
Protokol Pengukuran Kesejahteraan Hewan
Tidak hanya mengembangkan teknologi restraining box, Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Kesayangan juga mengembangkan protokol pengukuran kesejahteraan hewan yang disesuaikan dengan kondisi tropis di Indonesia.
Prof. Tri Satya Mastuti Widi atau yang akrab disapa Prof. Vitri menjelaskan bahwa pengukuran kesejahteraan hewan harus dilakukan secara objektif dan sistematis berdasarkan sudut pandang hewan, bukan semata dari sisi manusia atau peternak.
“Pengukuran kesejahteraan hewan harus dilakukan secara objektif dan sistematis berdasarkan apa yang dialami hewan. Karena itu kami mengembangkan berbagai protokol pengukuran yang sesuai dengan sistem produksi di daerah tropis, baik intensif, semi-intensif, maupun ekstensif,” kata Vitri.
Pengembangan protokol tersebut diterapkan pada berbagai jenis ternak, mulai dari ternak besar dan kecil, ternak kerja maupun olahraga, hingga hewan kesayangan.
Keseimbangan teori dan praktik
Selain itu, pengukuran kesejahteraan ternak juga dilakukan pada Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA) sebagai bagian dari upaya peningkatan standar kesejahteraan hewan di Indonesia.
Selain fokus pada riset dan pengembangan teknologi, Laboratorium Ternak Potong, Kerja dan Kesayangan Fapet UGM juga menekankan pentingnya keseimbangan antara teori dan praktik lapangan.
Hal ini diwujudkan melalui pengembangan keterampilan berkuda, ekuitasi, dan kemampuan menunggang kuda bagi mahasiswa.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Mata Kuliah Industri Ternak Kerja dan Olahraga yang memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa terkait horse and stable management, mulai dari pengelolaan kandang dan perawatan kuda hingga teknik dasar menunggang kuda (basic horseback riding). (AGT/M-01)







