
LPPOM kembali menegaskan perannya sebagai motor penggerak ekosistem halal nasional melalui gelaran Festival Syawal 1447 H. Sejak diinisiasi pada 2021, program ini fokus mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk “naik kelas” melalui sertifikasi halal, edukasi, dan penguatan rantai pasok.
Direktur Utama LPPOM, Muti Arintawati pun menekankan bahwa Festival Syawal bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan pasca-Ramadan. Menurutnya, pemberdayaan UMK harus dilakukan secara komprehensif agar memiliki daya saing yang kuat.
“Bagi kami, pemberdayaan UMK bukan hanya soal menerbitkan sertifikat halal, tetapi membekali mereka agar bisa naik kelas,” ujar Muti dalam Sambutannya di Menara Peninsula Hotel, Kamis (30/4).
Hingga 2025, Festival Syawal tercatat telah mengedukasi hampir 10.000 peserta dan memfasilitasi sertifikasi bagi lebih dari 1.500 UMK. Berkat konsistensinya, program ini meraih berbagai penghargaan nasional, termasuk Indonesia Halal Industry Awards (IHYA) dan Best NGO Initiative 2024.
Tantangan di lapangan

Tahun ini, Festival Syawal mengangkat tema “Toko Bahan Baku Halal, Langkah Awal Menuju UMKM Tangguh”. Pemilihan tema tersebut didasarkan pada tantangan nyata di lapangan, di mana banyak pelaku UMK masih kesulitan memperoleh bahan baku yang terjamin kehalalannya.
Muti menjelaskan bahwa penguatan sektor hilir tidak akan maksimal tanpa dukungan di sektor hulu. Ia menilai toko bahan baku halal masih menjadi mata rantai yang perlu diperkuat dalam ekosistem halal di Indonesia.
Sebagai langkah konkret, LPPOM mulai menginisiasi pengembangan toko bahan baku halal di berbagai daerah. Salah satunya melalui pilot project toko daging halal Metaly di Bogor, serta rencana ekspansi ke beberapa wilayah lainnya. LPPOM juga membuka fasilitasi sertifikasi halal bagi pelaku usaha toko bahan baku.
Belum capai kuota
Meski demikian, LPPOM mencatat kuota fasilitasi tersebut belum sepenuhnya terpenuhi. Hal ini dinilai mencerminkan masih rendahnya kesadaran akan pentingnya sertifikasi halal di tingkat penyedia bahan baku.
Upaya penguatan ini turut didukung dengan edukasi halal yang menjangkau lebih dari 1.500 peserta sepanjang rangkaian festival tahun ini. LPPOM juga menggandeng berbagai pihak, termasuk sektor perbankan syariah, untuk menghadirkan dukungan komprehensif mulai dari pembiayaan hingga akses pasar.
Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso, turut memberikan apresiasi atas langkah strategis LPPOM. Ia menilai kegiatan ini sangat krusial dalam memperkuat posisi Indonesia di kancah ekonomi syariah global.
“Festival ini bukan hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi momentum penting untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah ekonomi Islam global,” kata Budi.
Ekonomi Islam
Berdasarkan laporan global tahun 2025, Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dalam sektor ekonomi Islam dengan nilai ekspor halal mencapai 64,42 miliar dolar AS. Pemerintah pun terus mendorong penguatan pasar domestik melalui fasilitasi branding, standardisasi mutu, hingga business matching internasional.
Di sisi lain, Kepala BPJPH, Ahmad Haikal Hassan, mengingatkan bahwa halal merupakan fondasi penting dalam pembangunan bangsa dan menjaga kualitas hidup masyarakat. Ia menyoroti tantangan besar yang masih dihadapi terkait jumlah produk bersertifikat.
“Makanan halal bukan sekadar pilihan, tetapi menjadi barrier utama dalam menjaga kualitas hidup,” tegas Ahmad Haikal. Ia menambahkan bahwa dari sekitar 64 juta produk yang beredar, baru 24 juta yang telah bersertifikat halal, sehingga ruang akselerasi masih sangat terbuka luas.
Audit ketat
Senada dengan hal tersebut, M. Cholil Nafis dari perspektif ulama menekankan pentingnya kehati-hatian terhadap produk pangan modern. Ia menyebutkan bahwa batas antara yang halal dan syubhat kini semakin meluas. Oleh karena itu, penetapan halal harus melalui audit ketat oleh tenaga profesional dan tetap menjadi kewenangan ulama dalam sinergi bersama pemerintah.
Dukungan juga datang dari Kementerian Koperasi. Perwakilan Kemenkop, Deva Rahman, menyatakan bahwa koperasi memiliki peran strategis dalam rantai pasok halal, terutama dengan keberadaan puluhan ribu koperasi desa yang potensial diintegrasikan ke dalam ekosistem ini.
Sebagai lembaga pemeriksa halal pertama di Indonesia yang berdiri sejak 1988, LPPOM melalui Festival Syawal berkomitmen terus menyambungkan mata rantai halal dari hulu ke hilir. Sertifikasi halal dipandang bukan sekadar kewajiban regulasi, melainkan investasi jangka panjang untuk membangun kepercayaan dan keberlanjutan usaha di pasar global. (*/N-01)






