
RENCANA Presiden Amerika SerIkat, Donald Trump untuk menundukkan Iran secara cepat dan tepat ternyata jauh panggang dari api. Alih-alih sukses membuat pemerintahan boneka seperti yang mereka lakukan di Venezuela, Trump justru melihat dampak kerusakan global dari kebijakannya sendiri.
Sementara Iran sendiri sampai kini belum juga mau menyerah. Itu sebabnya Trump disebut-sebut mulai putus asa.
Diungkapkan Profesor ilmu politik dari Universitas Chicago, Robert Pape, Trump sudah sangat putus asa menghadapi Iran dalam perang yang makin memanas ini. Hal itu bisa dilihat dari serangan AS ke pusat ekspor minyak mentah di Taheran, Pulau Kharg.
“Sulit untuk memahami pikiran Donald Trump. Tetapi saya pikir apa yang dia coba lakukan adalah mendapat kembali kendali atas situasi ketika dia kehilangan kendali dari jam ke jam, hari demi hari,” kata Pape dikutip Al Jazeera.
Melambungkan harga minyak
Menuru Pape, rencana awal AS sebenarnya hanya menyerang Iran dalam hitungan hari. Namun, karena tujuan tak tercapai AS terus menekan Iran. Tapi serangan balasan Teheran juga tak kalah intensif.
Iran bukan hanya meluluhlantakan kota-kota di Israel dan pangkalan AS di Timur Tengah, mereka juga menutup Selat Hormuz yang membuat harga minyak melambung dan mengancam ketersediaan energi global.
“Dia pikir dia akan mendapatkan perubahan rezim dan bahwa kepemimpinan Iran akan runtuh seperti rumah kartu remi setelah gugurnya Ali Khamenei dan petinggi militer. Tetapi dia kemudian terkejut Iran tidak runtuh,” kata Pape.
Ideologi Iran
Fakta bahwa Iran punya ideologi yang kuat dan tak mudah digoyah membuat Trump bingung. Apalagi Iran juga punya mekanisme pemilihan calon pemimpin tertinggi yang begitu jelas.
Usai Khamenei tewas, Iran membentuk dewan pemerintah sementara. Di waktu yang sama, Iran menyiapkan pengganti Khamenei dalam pemilihan yang diadakan Majelis Pakar.
Untuk menutupi keputusasaannya Trump pun melanjutkan serangan. Namun ia mengatakan dalam serangan tersebut AS memilih menghindari mengebom infrastruktur minyak Iran.
Ia hanya mengancam akan mempertimbangkan menghancurkan infrastruktur minyak apabila Iran dan sekutunya mengganggu kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.
Ancam balik
“Jika Iran, atau pihak mana pun, melakukan tindakan apa pun yang mengganggu kebebasan dan keamanan pelayaran kapal melalui Selat Hormuz, saya akan segera mempertimbangkan kembali keputusan ini,” tambah Trump dalam sebuah postingan di Truth Social.
Pulau Kharg selama ini dikenal sebagai pusat ekspor minyak Iran. Sekitar 90 persen minyak mentah Iran dimuat dari pulau itu sebelum dikirim ke negara pembeli.
Namun ancaman Iran juga tidak kalah keras. Mereka siap membakar semua kilang minyak yang terkait dengan AS. (*/A-01)








