Kasus Campak Naik Jelang Mudik, Pakar Imbau Masyarakat tak Panik

MENJELANG periode mudik Lebaran 2026, kewaspadaan terhadap penyakit menular harus mendapat perhatian. Salah satunya adalah campak. Penyakit itu dilaporkan mengalami peningkatan kasus di sejumlah wilayah, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Tingginya mobilitas penduduk saat mudik berpotensi meningkatkan risiko penularan penyakit yang sebetulnya sudah ada vaksinnya.

Dengan mempertimbangkan urgensinya, Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada (PKT UGM) menggelar online talkshow TropmedTalk bertajuk “Kasus Campak Naik Jelang Mudik, Haruskah Kita Panik?”

Direktur PKT UGM, Dr. dr. Citra Indriani, MPH, menjelaskan talkshow ini merupakan bagian dari upaya edukasi kepada masyarakat mengenai isu kesehatan yang sedang berkembang.

73 kasus

“Melalui forum diskusi ini kami ingin mengupas apa saja faktor yang mempengaruhi peningkatan kasus serta bagaimana langkah pencegahan yang dapat dilakukan,” ujarnya dalam sambutan talkshow yang menghadirkan tiga pakar sebagai narasumber ini.

Narasumber pertama, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY, dr. Ari Kurniawati, memaparkan bahwa tren kasus campak di Yogyakarta menunjukkan peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.

BACA JUGA  Bulog DIY Pastikan Volume Minyakita Sesuai Takaran

Hingga minggu ke-9 tahun 2026 tercatat 73 kasus campak terkonfirmasi, atau meningkat sekitar 5,6 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kasus paling banyak ditemukan pada anak usia 2-9 tahun. “Namun sebagian juga terjadi pada bayi di bawah sembilan bulan yang belum cukup umur untuk mendapatkan imunisasi,” ungkap dr. Ari.

Demam tinggi

Kondisi ini menunjukkan pentingnya kekebalan kelompok melalui cakupan imunisasi yang tinggi, sehingga kelompok yang belum bisa divaksin tetap terlindungi.

Nara sumber lainnya, Dokter spesialis anak RSUP Dr. Sardjito, Dr. dr. Ida Safitri Laksanawati, Sp.A(K), menjelaskan campak merupakan penyakit yang sangat menular. “Satu orang penderita dapat menularkan penyakit ini ke 12 hingga 18 orang lain,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa gejala campak umumnya diawali demam tinggi yang disertai batuk, pilek, dan mata merah, kemudian diikuti ruam pada kulit yang biasanya muncul dari area kepala sebelum menyebar ke seluruh tubuh.

Sampai saat ini belum ada obat khusus untuk campak, sehingga penanganan bersifat suportif dan pencegahan melalui imunisasi menjadi sangat penting.

BACA JUGA  Wapres Minta KDEKS DIY Pacu Ekonomi Syariah

Cakupan imunisasi

Sementara Dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi dan Kesehatan Populasi, FK-KMK, UGM, dr. Risalia Reni Arisanti, MPH, menekankan pentingnya cakupan imunisasi yang tinggi untuk membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Menurut dia cakupan vaksinasi perlu mencapai minimal 95 persen agar dapat melindungi kelompok rentan seperti bayi yang belum cukup umur untuk divaksin, serta lansia dan orang dengan kekebalan tubuh rendah.

Ia juga mengingatkan bahwa mobilitas masyarakat yang tinggi meningkatkan risiko terjadinya penularan campak antarwilayah. Dalam diskusi tersebut, ia menambahkan bahwa campak tidak hanya berisiko pada anak-anak, tetapi juga dapat menyerang orang dewasa yang belum memiliki kekebalan.

Tingkatkan kewaspadaan

Ketiga narasumber mengimbau masyarakat untuk tidak panik menghadapi periode mudik, melainkan meningkatkan kewaspadaan dengan langkah pencegahan yang tepat.

Karena itu, sebelum mudik, masyarakat diimbau untuk mengecek kembali status imunisasi anak dan melengkapi jika masih ada yang terlewat melalui imunisasi kejar.

BACA JUGA  DIY Catat 1.700 Mahasiswa Asal Sumatra Terdampak Banjir

Keamanan vaksin juga telah ditegaskan melalui fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) di tahun 2016 yang menyatakan bahwa imunisasi diperbolehkan sebagai ikhtiar untuk menjaga dan melindungi masyarakat. Adapun efek samping umumnya ringan seperti demam ringan atau nyeri di lokasi suntikan.

Kenali campak

Selain imunisasi, masyarakat juga perlu mengenali gejala campak sejak dini, seperti demam, batuk, pilek, mata merah, dan munculnya ruam pada kulit. Jika mengalami gejala tersebut, masyarakat diimbau untuk membatasi kontak dengan orang lain, terutama kelompok rentan seperti bayi, ibu hamil, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah.

Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat juga tetap penting, misalnya dengan memakai masker saat sedang sakit, menjaga kebersihan tangan, serta memperhatikan kondisi kesehatan sebelum melakukan perjalanan agar risiko penularan dapat diminimalkan. (AGT/A-1)

Admin

Related Posts

Polisi dan TNI Berkolaboarsi Padamkan Karhutla di Perhutani Banyumas

POLSEK Ajibarang Polresta Banyumas bersama Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Ajibarang bergerak cepat memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Petak 32 Perhutani Banyumas Barat, Desa Tipar Kidul, Kecamatan…

Buka Kongres Alumni Jesuit, Sri Sultan Berharap Jadi Ruang Batin

SRI SULTAN Hamengku Buwono X mengemukakan terpilihnya Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai tuan rumah Kongres XI World Union of Jesuit Alumni (WUJA) diharapkan dapat menjadi ruang batin bersama bagi para…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan Lewatkan

Polisi dan TNI Berkolaboarsi Padamkan Karhutla di Perhutani Banyumas

  • July 30, 2026

Buka Kongres Alumni Jesuit, Sri Sultan Berharap Jadi Ruang Batin

  • July 30, 2026
Buka Kongres Alumni Jesuit, Sri Sultan Berharap Jadi Ruang Batin

Tim KKN UGM Gelar Aksi Bersih Pantai di Pulau Bawean dengan Warga

  • July 30, 2026
Tim KKN UGM Gelar Aksi Bersih Pantai di Pulau Bawean dengan Warga

Kendalikan Inflasi, BI Tasikmalaya Luncurkan Aplikasi Sindang Priatim

  • July 30, 2026
Kendalikan Inflasi, BI Tasikmalaya Luncurkan Aplikasi Sindang Priatim

Persib dan Jubelo Kelola 65,4 Ton Sampah Sepanjang Musim 2025/2026

  • July 30, 2026
Persib dan Jubelo Kelola 65,4 Ton Sampah Sepanjang Musim  2025/2026

Sempat Galau, Made Sarmita Selesaikan Program Doktor dengan IPK 4.00

  • July 30, 2026
Sempat Galau, Made Sarmita Selesaikan Program Doktor  dengan IPK 4.00