
DALAM menghadapi pertumbuhan teknologi akal imitasi (AI) yang semakin pesat, UGM Bersama NVIDIA dan Indosat melakukan kerja sama. Kolaborasi riset ini merupakan bagian dari UGM AI Center of Excellence berfokus pada pengembangan AI dalam bidang akademik, riset, dan pengembangan komunitas.
Kepala Biro Transformasi Digital (BTD) UGM, Dr. Mardhani Riasetiawan, mengatakan kolaborasi riset bertujuan mengintegrasikan riset akademik dengan kebutuhan industri, membangun infrastruktur AI yang terbuka, mudah diakses, dan keberlanjutan, sekaligus mendukung pemerintah dalam pengembangan AI nasional.
Bagi Mardhani, inisiatif ini diposisikan sebagai langkah penting untuk pengembangan AI yang lebih luas. “Jadi, saya pikir ini akan menjadi suatu hal yang baik untuk langkah berikutnya,” kata Mardhani dalam siaran tertulisnya Kamis (12/2).
Riset unggulan

Mardhani menjelaskan terdapat beberapa bidang riset unggulan yang ditawarkan oleh UGM, antara lain AI di bidang medis, energi dan pemanfaatan sumber daya, dan smart technology.
UGM lanjutnya bekerjasama dengan NVIDIA telah menyiapkan perencanaan infrastruktur berupa DGX Station. Infrastruktur tersebut merupakan superkomputer AI berbentuk workstation desktop berperforma tinggi yang ditempatkan di Fakultas Teknik dan Fakultas MIPA UGM.
“Infrastruktur tersebut menjadi sarana mendukung aktivitas berbasis AI di UGM. Melalui program ini diharapkan dapat terbangun kolaborasi yang optimal antara akademisi, industri, dan pemerintah,” ujarnya.
Keterbatasan infrastruktur
Peneliti AI di bidang medis dari FK-KMK UGM, dr. Dian Kesumapramudya Nurputra, MSc, PhD, Sp.A, Subsp.Neuro, menjelaskan bahwa kegunaan AI sangat membantunya ketika menangani Covid-19, namun keterbatasan infrastruktur tersebut menjadi tantangan.
“Kemampuan penggunaan AI dalam dunia medis terbatas, karena kami tidak memiliki infrastruktur untuk melakukan aktivitas dengan AI,” ungkapnya.
Tantangan tersebut dijawab lewat kolaborasi dengan mitra industri global, yaitu NVIDIA dan Indosat Ooredoo. Tujuannya adalah untuk membangun konektivitas yang nasional sehingga data dapat diunggah ke server terpusat, dianalisis, dan dimanfaatkan untuk berbagai pengembangan AI, termasuk dalam bidang medis,
Universitas di dunia
Senior Regional Manager of NVIDIA AI Technology Center, Dr. Ng Aik Beng menjelaskan bahwa kolaborasi pemanfaatan AI bidang kesehatan, selain dengan UGM, pihaknya juga sudah menjalin kerja sama dengan Monash University, Australia.
Tak hanya itu, NVIDIA telah melakukan kerjasama di beberapa universitas dunia untuk menekankan pentingnya pelatihan, konsultasi, dan pengembangan kapasitas industri agar siap mengadopsi AI secara matang. “Jadi ini adalah salah satu harapan dan visi yang kita miliki di negara ini,” terangnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa NVIDIA telah mengembangkan framework AI yang lengkap, dalam berbagai bidang. Salah satunya dalam bidang kesehatan dan juga tata kelola kota. Dalam bidang kesehatan, MONAI merupakan framework open-source yang dikembangkan NVIDIA bersama komunitas dan institusi riset untuk aplikasi AI di bidang pencitraan medis.
MONAI menyediakan pipeline end-to-end, mulai dari anotasi data, pelatihan model, segmentasi 3D (CT scan, MRI), hingga deployment dalam sistem rumah sakit. Framework ini juga mendukung federated learning untuk menjaga privasi data pasien serta menyediakan model medis siap pakai.
Analisis otomatis
“Tujuannya adalah mempercepat penelitian dan implementasi AI medis secara terstandarisasi dan interoperable,” ujarnya.
Sedang dalam tata kelola kota, kata Aik beng, ada Metropolis yang merupakan framework untuk aplikasi AI berbasis visi komputer dalam konteks smart city dan analitik video. Platform ini mendukung pemrosesan video skala besar dengan latensi rendah, pelatihan model visi dan vision-language, serta integrasi dengan pipeline deployment.
Metropolis memungkinkan analisis otomatis terhadap video, seperti deteksi objek, pemantauan aktivitas, dan pencarian kejadian tertentu dalam rekaman. Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi sistem pengawasan, transportasi, dan infrastruktur cerdas melalui AI.
Timothy Liu, selaku NVIDIA Solutions Architect, dalam kesempatannya menjelaskan bahwa NVIDIA tidak hanya memproduksi GPU (Graphics Processing Unit) saja, melainkan software, framework, software development kit, library, Ekosistem developer, dan juga program pendidikan. Hal ini ditujukan untuk saling mendukung satu sama lain sehingga dapat mempercepat eksperimen dan produktivitas AI. (AGT/N-01)







